Jika dahulu penguasaan wilayah sebagai yang utama maka dalam nuansa kekinian penguasaan itu lebih bersifat virtual yaitu penguasaan dan pengelolaan terhadap dunia maya yang tersimpan di Big Data.
“Melalui perkembangan teknologi dengan memanfaatkan profiling data dan data analisis, saat ini dimungkinkan untuk merekrut teroris tunggal (lone wolf). Kondisi ini memicu timbulnya potensi konflik horizontal maupun vertikal di masyarakat,” ujarnya.
Panglima TNI mengatakan bahwa di era revolusi industri 4.0 diwarnai oleh hal-hal yang kekinian dan disertai inovasi yang bersifat positif serta negatif yang destruktif. “Kekuatiran masa depan yang utama bukan terletak pada krisis kelangkaan pangan dan energi melainkan lebih pada ketidakmampuan kita untuk beradaptasi terhadap transformasi. Salah satunya adalah kemajuan teknologi digital yang sangat cepat,” jelasnya.
Menjawab pertanyaan awak media tentang peran Satsiber TNI dan cyber crime Polri dalam menghadapi berita hoax dan isu negatif yang berkembang di masyarakat, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa TNI memiliki tanggung jawab untuk membantu tugas kepolisian dalam mengantisipasi serangan berita hoax dan ujaran kebencian.
“TNI senantiasa mengantisipasi dengan menyiapkan langkah-langkah strategis yang salah satunya adalah dengan membentuk Satsiber TNI,” ujarnya.
Hadi juga menanggapi pertanyaan awak media terkait Flight Information Region (FIR) yang masih mengandalkan Singapura, Panglima TNI mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari tugas pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan RI yang didukung oleh Kementerian Pertahanan RI.
“Kita juga akan mendorong pemerintah untuk bisa mengambil alih FIR tersebut. Kemudian pemenuhan sumber daya manusia dan peralatan secara bertahap akan kita penuhi, mudah-mudahan target kedepan masalah FIR ini sudah bisa kita ambil alih,” tutupnya.
Eveline Ramadhini

