Dakwah Kepada Penguasa

by
Presiden Jokowi bersama Usamah Hisyam. Foto: Istimewa

Berdakwah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zhalim memang tidak mudah. Konsekwensi dari mulai dipenjara, disiksa maupun dibunuh adalah resiko yang harus diterima. Namun demikian Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memberikan kabar gembira bagi mereka yang syahid di kalangan para da’i yang tetap tegas menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zhalim.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Nama Usamah Hisyam sempat viral di media sosial pasca pertemuan Tim 11 GNPF Ulama dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat pada Ahad 22 April 2018.

Ia disebut-sebut sebagai ‘tokoh kunci’ yang menjembatani pertemuan tersebut. Berbagai spekulasi negatif muncul yang menyatakan bahwa Usamah merupakan ‘makelar ulung’ karena kepiawaiannya melobi Jokowi untuk menghentikan kebijakan kriminalisasi dengan mempertemukan Tim 11.

Wartawan senior itu merasa bahwa kedekatannya dengan pemegang kekuasaan dapat dijadikan pintu masuk menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar dan saling menasehati dalam kebenaran serta kesabaran.

Lantas, bagaimana proses ia memerjuangkan bisikan kepada penguasa agar tidak tertinggal jauh dari cita-cita luhur UUD 1945 dan berkepribadian pemimpin yang adil terhadap rakyatnya?

Kronologi Pertemuan

Pada 12 Januari 2018, Usamah mengadakan pertemuan dengan Tim 11 GNPF Ulama bertempat di restoran Al Jazeera membahas rencana kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS). Rencananya, HRS akan mendarat di Tanah Air pada 21 Februari 2018.

Selain membahas skenario kepulangan sampai kemungkinan reprisifitas aparat yang dikhawatirkan terjadi, Usamah ingin Presiden Jokowi mengetahui kepulangan Habib Rizieq dan menghentikan kriminalisasi termasuk pada aktivis Islam dan tokoh pergerakan. Kendati, Presiden tidak dapat melakukan intervensi hukum dan akan menyerahkannya kepada aparat berwenang (Polri-red).

Usamah menuturkan, Habib Rizieq tidak pernah meminta dipulangkan ke Tanah Air. Ketika bulan September ia bertemu empat mata, dan meminta HRS kembali ke Indonesia. Habib Rizieq menjawab bahwa dirinya dapat kembali ke Indonesia kapan saja. Namun, ia merasa empati dengan para ulama dan asatiz yang kasusnya belum dituntaskan.

“Kedua, ana khawatir kalau ana kembali ke Indonesia dan ana ditangkap, kemudian umat yang rindu sama ana berhadapan dengan aparat bersenjata dan chaos. Ana tidak mau ada pertumpahan darah sedikitpun,” sambung Habib Rizieq.

Merespon masukan Usamah dan menghitung kondisi terburuk sekalipun, KH Husni Thamrin (Abi Tham) menyetujui usulan penulis buku SBY Sang Demokrat itu. Usamah ditugaskan bertemu Presiden pada 14 Januari, dua hari usai pertemuan di Al Jazeera.

“Singkatnya, ana (saya) diamanatkan oleh tim untuk mengubungi Istana. Kenapa ana? Karena memang tahun lalu ana hampir setiap bulan bertemu Presiden,” kata Usamah.

Nahas, taktis dan manuver Usamah meminta Presiden menemui dan memulangkan HRS ke Indonesia membuat pihak istana gerah. Saluran komunikasi Usamah dengan Istana diputus oleh orang-orang terdekat di lingkaran Jokowi. Informasi ini tidak hanya diketahui oleh ring 1 mantan walikota Solo itu, tapi juga lintas kementerian.

Satu waktu, Usamah bertemu dengan orang terdekat Jokowi dan menanyakan perihal tersebut. Diketahui, nama Usamah Hisyam masuk black list. Namun, ia tetap berbaik sangka hubungan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta itu tetap berjalan baik.

Terbukti, pada 19 April 2018 sepulang Usamah dari Mekkah dan Turki, ia mendapatkan telepon dari Presiden Jokowi dan bertemu Presiden membicarakan rencana pertemuan yang telah digagas jauh-jauh hari serta isi konten pertemuan.

“Sejak terakhir bertemu di Al Jazeera, ana belum lagi bertemu fisik dengan tim 11 (GNPF Ulama). Hanya komunikasi intens saja di group WA saja dan bertemu kembali di (Istana Kepresidenan) Bogor. Itu pun ana beritahu melalui undangan WA saja. Beberapa ana hubungi via telepon,” cerita Usamah.

Ia menuturkan, Jokowi tidak mengetahui banyak nama-nama yang statusnya masih ditahan dan digantung. Dari 12 nama, diantaranya Alfian Tanjung, Al Khaththath, Buni Yani, dan Jonru Ginting.

“Baik nanti saya kabari setelah di bicarakan dengan tim kecil,” respon Jokowi setelah mendengarkan paparan Usamah.

“Bapak tidak perlu lagi membicarakan dengan banyak pihak, Bapak harus punya political will,” tegas Usamah.

Sebelum bertemu dengan Presiden Jokowi, ia menanyakan kepada Habib Rizieq melalui pesan WhatsApp. “Iya sudah, kalau antum dapat jumpa silakan. Memang sebaiknya antum dengan Tim 11 Pak Usamah,” tutur Usamah menirukan pesan dari Imam Besar tersebut.

Ahad (22/4) pagi, salah satu menteri menghubungi Usamah dan mengabarkan bahwa Presiden siap bertemu. Karena sejak Subuh Jokowi telah memiliki agenda, menteri tersebut kembali menanyakan waktu pertemuan.

“Kalau begitu nanti siang saja. Setelah shalat dzuhur, kita dialog dan makan siang,” tawar Usamah dan disetujui oleh menteri tersebut.

“Bib, Afwan, Pak Presiden siap untuk bertemu dengan tim 11,” konfirmasi Usamah kepada HRS. “Sip lanjutkan Pak Usamah, ajak semua tim 11 untuk hadir,” sambut Habib Rizieq.

“Saya mempertemukan sebagai inisiator. Ulama tidak diundang. Pihak istana juga tidak mengundang. Tetapi sama-sama dipertemukan di shalat dzuhur. Saya ini bukan tipe calo. Saya ikhlas lillahi ta’ala untuk menyampaikan dakwah kepada penguasa,” ujar Usamah kepada Wartapilihan.com.

Empat Agenda Pertemuan

Tiba di pos penjagaan Istana yang di kawal ketat oleh Paspampres, 6 perwakilan Tim 11 diperiksa dan seluruh tas maupun handphone tidak diperkenankan dibawa ke dalam ruang pertemuan, hatta ke masjid sekalipun. Adapun 5 anggota Tim 11 lainnya tidak dapat hadir karena berbenturan dengan agenda yang telah dijadwalkan.

“Setelah dari pos kami langsung menuju masjid. Dan ketika di masjid sudah banyak orang. Presiden juga sudah lebih dulu. Ana menengok sepertinya tidak ada yang qomat. Ana menoleh ke Pak Teten dan beliau memersilakan saya qomat. Kemudian Presiden menawarkan Abah Roud menjadi imam,” terang Usamah.

Ia menduga beredarnya foto Tim 11 dengan Presiden Jokowi usai shalat dzuhur ada 3 kemungkinan. Pertama, pihak dari lingkaran istana yang tidak suka dengan pertemuan itu dan meminta foto diviralkan. Kedua, salah satu jamaah dari pegawai istana. Dan ketiga, ada pihak luar yang meminta kepada internal Istana dan diberikan kepada media tertentu.

Usamah memastikan kepada Johan Budi tidak ada satupun wartawan yang hadir di masjid dan meliput pertemuan Presiden dengan Tim 11. “Jadi, tidak ada istilah pertemuan tertutup dan terbuka. Karena semuanya berjalan alami begitu saja. Kalaupun Biro Setpers Istana mengambil gambar, itu sudah protap dan menjadi dokumentasi mereka,” jelas Usamah.

Dalam dialog di ruang pertemuan, setelah 20 menit Presiden menyampaikan isu dan perkembangan nasional, Usamah melakukan interupsi pembicaraan dan mengenalkan satu persatu ulama yang datang.

Ia menjelaskan kedatangannya selain untuk shilaturahim juga memberikan masukan agar Presiden dapat memperjuangkan preambule UUD 1945. Dimana Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam perspektif Islam, makna tersebut adalah tauhid ila’Allah yang terkandung dalam Qur’an Sunnah.

“Maka dari itu, kita ingin nilai-nilai Islam ditegakkan di Indonesia. Karenanya, kami tidak setuju ketika ada yang mengatakan syariat Islam bertentangan dengan kebhinekaan, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” jelas Usamah kepada Presiden Jokowi.

Artinya, lanjut Ketua Umum Parmusi itu, negara Indonesia bukan berlandaskan sekularisme, tapi agama. Maka, konsekuensinya syariat Islam harus dijalankan dan diimplementasikan dalam seluruh ruang gerak kehidupan.

“Kita menghendaki itu terwujud terlebih umat Islam di indonesia adalah mayoritas. Sehingga, kami ingin ruang-ruang dakwah tidak dipersempit. Kami tidak mau ada kriminalisasi ulama,” tegasnya.

Kedua, ia meminta agar Presiden menghentikan kebijakan kriminalisasi yang terjadi terhadap para ulama dan segera dituntaskan.

“Ketiga, kami ingin Imam Besar umat Islam Habib Rizieq Shihab dapat kembali ke Indonesia dan dibebaskan. Karena beliau dirindukan umat dan umat sangat menghendaki kepulangan beliau,” terang Usamah.

Keempat, ia juga meminta Presiden menyelamatkan aset-aset negara. Dan Presiden memerhatikan pemberdayaan ekonomi umat serta Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

Kendati banyak tuduhan miring terhadap dirinya, Usamah merasa bahwa setidaknya ia telah berdakwah untuk mengingatkan presiden agar tidak berbuat zalim dan semena-mena terhadap rakyatnya.

“Ana ikut demo di aksi bela Islam, kemudian menggugat Ahok di Pengadilan karena kasus penistaan agama dan bertemu langsung dengan Presiden. Terkahir, kita serahkan kepada Allah, jika Jokowi tetap tidak berubah, maka Allah yang akan menjatuhkan Jokowi,” tandas Usamah.

Ia mengingatkan Presiden Jokowi tentang peringatan Nabi Musa kepada Firaun. Karena kecongkakan dan sikap sombongnya, akhirnya Firaun jatuh dan dibinasakan Allah bersama seluruh pengikutnya.

“Ana juga mengingatkan Jokowi demikian. Kalau Jokowi tidak mendengarkan ini, biarlah Allah yang akan menjatuhkan Jokowi. Tugas kita adalah berdakwah, menyampaikan yang benar walaupun itu pahit dan sekalipun di depan penguasa yang dzolim,” tutup Usamah.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *