Berperan Untuk Peradaban

by
Harry Santosa. Foto: Istimewa

Bersekolah tinggi untuk kemudian berpenghasilan tinggi, rajin beribadah kemudian mati masuk surga ialah hal yang kadangkala dijadikan kiblat bagi masyarakat modern sebagai tolak ukur kesuksesan. Tetapi, sesungguhnya setiap manusia memiliki peran lebih dari itu.

Wartapilihan.com, Jakarta – Hal tersebut disampaikan oleh Harry Santosa, pakar pendidikan berbasis fitrah. Ia mengatakan, hal tersebut lumrah saja dan boleh saja. Namun, andai dikaitkan dengan konteks maksud penciptaan (the purpose of life), dimana Allah menghadirkan manusia di muka bumi bukan kebetulan tetapi untuk beribadah dan menjadi khalifah, lalu setiap manusia hadir di dunia tentunya punya tugas sebagai alasan kehadiran kita di dunia, maka manusia akan punya perspektif berbeda.

“Jika demikian, kita akan melihat hidup sebagai kemuliaan besar dan perjuangan besar sebagai wujud keimanan,” tutur Harry, Minggu, (3/5/2018).

Tugas manusia di dunia pada dasarnya berupa peran peran spesifik peradaban (mission of life) dalam rangka mencapai maksud penciptaan itu.

Menurut Harry, tugas atau peran itu adalah wujud keimanan, karenanya ia merupakan perjuangan dan ujian keimanan utk menyeru kebenaran dan membuat perubahan.

“Maka dalam perspektif peradaban itu, kehidupan itu bukan tentang bagaimana hidup sejahtera, menjadi orang baik baik dengan keshalihan personal dan sosial apalagi untuk mencari kesenangan diri semata dan seterusnya, bukan,” terang dia.

Melainkan, kehidupan ialah tentang bagaimana menemukan dan mewujudkan peran peran spesifik atau misi hidup itu lalu berjuang mewujudkannya sampai mati sehingga mampu menebar sebanyak banyak rahmat dan sebesar besar manfaat kepada ummat manusia dan semesta selama di dunia sebagai wujud keimanan yang kokoh.

“Pantaskah jika ada orang yang merasa punya majikan, setiap hari “ngantor” di kantor majikan, pakai seragam kantor namun tidak tahu job desk nya, kerja serabutan, lalu mengaku ngaku karyawan dan berharap dapat gajian dan bonus.

Begitupula kita manusia, mengaku hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi namun tidak mempunyai tugas spesifik atau peran spesifiknya atau misi hidupnya di dunia,” lanjut Harry.

Dengan demikian, sejatinya Keimanan atau Imanan dalam pendidikan harus berwujud pada upaya mengantarkan anak kepada peran peradaban terbaik atau misi besar kehidupannya yang berangkat dari keimanannya yang kokoh untuk membuat perubahan bagi dunia yang lebih damai dan hijau sebagaimana yang Allah kehendaki.

Harry pun mengutip perkataan Hamka dalam bukunya ‘Pribadi yang Hebat’, “Banyak Guru, Dokter, Hakim, Engineer, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat.

Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diploma-nya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, selain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup, mencuba sesuatu baru dan berbakti kepada masyarakat.”

Harry menegaskan, hari ini kita barangkali merasakan bahwa banyak orang yang tersekolahkan dengan baik (well schooled), namun gagal terdidik dengan baik (un well educated).

“Kita gagal membawa keimanan masuk ke jantung pendidikan. Pembangunan karakter atau akhlak tanpa keimanan itu omong kosong, hanya mimpi di siang bolong,” ia prihatin.

Esensi Keimanan dalam Pendidikan

Dalam pendidikan, seyogyanya keimanan masuk pada misi dan narasi besar yang mengantarkan pada peran besar peradaban; bukan hanya sekedar penguasaan agama atau sains belaka.

“Jangan sampai generasi kita seperti diumpamakan di dalam Al-Qur’an seumpama Keledai yang membawa Kitab kitab. Keledai yang membawa kitab itu dikiaskan pada manusia yang bukan hanya tak paham kitab namun juga paham kitab tetapi tak tahu jalan,” tukas dia.

Harry berharap, Ramadhan tahun ini sebagai titik balik kesadaran orangtua bahwa keimanan harus masuk ke semua lini kehidupan, termasuk pendidikan.

“Sehingga gairah keimanan atau aqidah yang kokoh itu berwujud pada upaya mengantarkan anak anak kepada peran peradaban terbaiknya bukan penguasaan banyak banyak pengetahuan agama dan sains semata,” pungkas dia.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *