JAKARTA — Di media sosial hingga obrolan warung kopi, istilah ekonomi Indonesia sedang “anjlok” kian sering terdengar. Keluhan mengenai harga sembako yang melambung, dompet yang terasa kempis, hingga susahnya mencari kerja seolah menjadi pembenaran atas narasi tersebut. Namun, apakah kondisinya memang separah itu?
Jika menilik indikator ekonomi makro, Indonesia sebenarnya tidak sedang menuju kebangkrutan. Istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini bukanlah “runtuh”, melainkan perlambatan pertumbuhan. Roda ekonomi kita masih berputar dan tumbuh, hanya saja kecepatannya sedang berkurang akibat hantaman badai dari dalam dan luar negeri.
Mengapa Terasa Berat di Kantong?
Faktor utama yang paling dirasakan masyarakat adalah melemahnya daya beli. Ketika harga kebutuhan pokok merangkak naik sementara isi dompet atau pendapatan stagnan, masyarakat secara otomatis mengerem pengeluaran mereka. Padahal, konsumsi rumah tangga adalah bensin utama yang menggerakkan mesin ekonomi Indonesia. Begitu masyarakat irit belanja, pertumbuhan ekonomi pun langsung melambat.
Selain urusan isi dompet domestik, ekonomi kita juga ikut terimbas oleh ketidakpastian global. Konflik geopolitik dunia, kelesuan ekonomi global, dan tingginya suku bunga di luar negeri membuat para investor kakap internasional memilih bermain aman. Akibatnya, arus investasi asing mendingin dan kinerja ekspor kita ikut tertekan.
Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan kronis Indonesia pada ekspor komoditas mentah seperti batu bara, minyak sawit (CPO), dan nikel. Ketika harga komoditas-komoditas ini jatuh di pasar dunia, pendapatan negara dari jalur ekspor otomatis menyusut. Di dalam negeri, para pengusaha pun memilih menunda ekspansi bisnis karena situasi pasar yang dinilai penuh ketidakpastian. Dampak lanjutannya sudah bisa ditebak: lowongan kerja baru menjadi langka.
Bukan Krisis ’98, Stabilitas Masih Terjaga
Efek domino dari perlambatan ini memang nyata: biaya hidup meninggi, lapangan kerja menyempit, dan omzet pelaku UMKM ikut kempis karena sepinya pembeli.
Meski begitu, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak panik berlebihan. Situasi saat ini sama sekali berbeda dengan hantaman krisis moneter kelam yang terjadi pada tahun 1998 silam. Secara umum, fondasi stabilitas ekonomi kita masih kokoh, tingkat inflasi relatif terkendali, dan aktivitas pasar tetap berjalan normal.
Langkah Penyelamatan
Untuk keluar dari gigi rendah ini, pemerintah dan otoritas terkait tidak tinggal diam. Sejumlah stimulus sedang digenjot, mulai dari percepatan proyek infrastruktur, peningkatan iklim investasi, hingga program hilirisasi industri agar kita tidak lagi sekadar menjual tanah air (bahan mentah) ke luar negeri. Penguatan sektor manufaktur dan program perlindungan daya beli masyarakat bawah juga terus dipacu demi menjaga kestabilan.
Kesimpulannya, narasi bahwa ekonomi Indonesia “anjlok” total adalah pandangan yang kurang tepat. Kita hanya sedang melewati fase perlambatan akibat kombinasi tekanan global dan domestik. Peluang untuk kembali tancap gas masih terbuka lebar, asalkan pemerintah konsisten menjaga stabilitas, memperbaiki iklim investasi, dan melahirkan kebijakan yang langsung menyentuh akar rumput.

