Anak Terlambat Masuk Sekolah?

by
Anak-anak yang belum bersekolah. Foto: parenting.co.id.

Menginjak usia 6 tahun, anak sudah mulai masuk sekolah formal. Ada yang sudah masuk sekolah dasar, ada pula yang masih di taman kanak-kanak. Yang paling penting diperhatikan untuk masuk sekolah adalah kesiapan dan bersedianya anak kita belajar di sekolah. Jika belum siap sekolah, seyogyanya orangtua tidak perlu memaksakan anak bersekolah.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Hal tersebut disampaikan Elly Risman, pakar parenting. Ia mengutip perkataan Raymond S. Moore, PhD bahwa terlambat masuk sekolah jauh lebih penting bagi perkembangan otak anak daripada terlalu cepat memasukkannya. Bahkan dalam bukunya, Better Late than Early, Moore mengungkapkan salah satu kesalahan terbesar orang tua adalah terlalu cepat memasukkan anak ke sekolah.

“Agar anak bersekolah pada waktu yang tepat, orang tua perlu memerhatikan perkembangan otak anak. Pastikan anak sudah siap dan juga punya keinginan tersendiri untuk bersekolah. Itulah sebabnya kita harus memahami perkembangan otak anak pada rentang usia ini,” kata Elly, pada Facebook Yayasan Kita dan Buah Hati, Senin, (9/4/2018).

Elly menambahkan, berdasarkan tahapan perkembangan otak model Piaget, usia 6-10 tahun berada pada tahapan operasional konkret. Anak-anak mulai membayangkan kejadian-kejadian nyata di dalam pikiran mereka. Anak-anak juga mulai dapat berpikir abstrak.

“Itulah mengapa anak-anak pada rentang usia ini sudah bisa belajar matematika. Ini juga yang bisa Ayah Bunda jadikan pegangan untuk memutuskan waktu memasukkan anak ke sekolah,” ungkapnya.

Masih menurut Elly, berdasarkan pendapat psikolog pendidikan Majorie Boxall, pada usia 6-10 tahun, berat otak anak sudah mencapai 95% berat otak orang dewasa. Pada usia ini juga otak membutuhkan paling banyak energi dan gizi dibandingkan fase usia lainnya. Asupan makanan yang seimbang menjadi penting bagi anak.

“Rentang usia 6-10 tahun merupakan masa yang penting bagi anak untuk mengembangkan logika dan proses berpikir. Pada usia ini juga rasa percaya diri anak benar-benar dibangun. Pada usia 6-10 tahun, persetujuan dan penerimaan dari orang tua sangat penting untuk membangun fondasi rasa percaya diri anak. Kepercayaan diri inilah yang kelak membuat anak bersemangat untuk belajar dan berprestasi,” imbuh Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati ini.

Oleh karena itu, Elly menekankan, hal terpenting yang bisa orang tua lakukan adalah membuat anak banyak bicara. Biarkan anak mengembangkan proses berpikirnya.

“Rasa percaya diri banyak dipupuk lewat percakapan sehari-hari. Biarkan anak melatih kemampuan berpikir dengan banyak mengutarakan pendapat,” tutur jebolan Psikologi Universitas Indonesia ini.

Rasa percaya diri ini penting untuk dibangun karena dunia anak sangat ditentukan oleh persetujuan orang tuanya, maka ia berpesan pada orangtua untuk berhati-hati dalam memperlakukan anak.

“Perlakuan kasar dan perkataan negatif pada usia ini akan menyebabkan masalah emosional di masa pubertas dan fase selanjutnya,”

Peran orangtua pada usia dini ialah memberi dukungan secara terus-menerus. Jika anak menghadapi masalah, terima perasaannya kemudian bantu anak untuk mencari solusi terbaik. Ia menyarankan juga untuk menghindari penilaian bahwa anak tidak mampu ketika ia melakukan kesalahan.

“Dorong anak untuk mau bangkit dan mencoba saat gagal. Pada usia ini, sangat penting bagi orang tua untuk menanamkan dalam otaknya bahwa kesalahan itu proses yang penting dalam belajar,” pungkasnya.

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *