Anak Punk Belajar Al-Qur’an

by

Siapapun memiliki hak untuk mencerap hidayah dari Ilahi, termasuk anak-anak punk yang akrab dengan asap dan jalanan.

Wartapilihan.com, Jakarta — Rendi, anak punk itu telah lama malang melintang di kejamnya dunia jalanan selama 20 tahun. Figurnya nampak keras, kulit legam terbakar matahari, berikut dengan tato memenuhi leher dan kedua tangan Rendi. Jalanan telah membentuknya menjadi Rendi yang sekarang.

Dunia yang keras itu ia sebut sebagai dunia anak punk. Sebab mengarungi dunia satu ini, Rendi sudah kebal disebut anak jalanan, apalagi dianggap meresahkan masyarakat. Semua julukan itu ia telan.

Akan tetapi, seliar-liarnya Rendi, dalam lubuk hatinya ia tak ingin buah hatinya kelak mengikuti langkahnya. Seburuk-buruknya orang tua, tetap menginginkan anak menjadi orang baik. Sebab, orang tua di belahan bumi manapun pastilah ingin mendidik anaknya menjadi orang soleh.

Begitu pun Rendi, ia tidak ingin kedua buah hatinya meneruskan jejaknya di dunia jalanan. Rendi ingin anak-anaknya menjadi orang baik dan paham ilmu agama. Ilmu yang dapat menolong di dunia dan akhirat.

“Jangan sampai ikut turun ke jalan seperti orang tuanya,” harap Rendi seraya tersenyum menunjukkan dua gigi kelincinya.

Rendi mengakui, untuk mendidik anak shaleh tentu diperlukan ilmu agama. Sebelum cita-cita itu tercapai, terlebih dahulu ia harus bisa membaca Al Qur’an, barulah setelah itu ia dapat mengajarkan anak mengaji.

Ia pun mendiskusikan kegelisahannya pada kawan seperjuangan di kolong jembatan Tebet. Ternyata apa yang dipikirkannya juga dirasakan bersama. Mereka memiliki mimpi yang sama. Seperti sahabatnya yang bernama Okay, yang berharap bisa mengajarkan keluarga ilmu agama.

Okay mengaku, sebelum hidup di jalanan seperti saat ini, ia pernah belajar huruf hijaiyah. Namun 18 tahun menjalani hidup sebagai anak punk, membuat ilmu yang pernah didapat hingga Iqro 6 hilang dimakan kerasnya kehidupan di jalanan yang jauh dari agama.

“Sekarang harus ulang dari 0 lagi. Karena saya ingin bisa membaca Al-Quran dan dapat mengajarkan anak-anak saya,” ujar pria berusia 30 tahun itu.

Keresahan anak-anak punk itu akhirnya berbuah aksi. Di sudut kolong jembatan dekat Stasiun Tebet, puluhan anak jalanan belajar mengeja huruf hijaiyah dipandu Halim Ambiya, pendiri komunitas Tasawuf Underground (TU). Mereka bersemangat belajar meski ditemani deru kendaraan bermotor dan guncangan yang melintas di atasnya.

Bersama teman-teman sekolong, Rendi dan Okay menjadi peserta pengajian kolong yang dimulai perdana pada Jumat 9 November sejak pukul 14.00 – 17.00. Selain Jumat, pengajian juga digelar pada Sabtu pukul 11.00 – 15.00.

Kedatangan Halim, sang guru ngaji ke kolong jembatan tidak begitu saja. Ia datang melalui anak jalanan bernama Septa Maulana. Septa tahu, Ambiya adalah sosok tepat yang bisa mengajarkan dia dan teman-temannya belajar menjadi orang yang lebih baik.

Septa mengakui pengajian kolong yang telah dilakukan selama dua pertemuan ini telah membenahi dirinya. Septa yang semula merasa kotor karena masa lalunya kelam, kini tengah mempertebal keyakinan kepada Sang Pencipta. Selalu ada hikmah di balik semua pahit yang ia jalani.

Dirinya pun berharap kegiatan yang dilaksanakan rutin itu bisa mengantarkannya sampai mampu membaca pegangan hidup umat Islam ini. “Niat saya sampai bisa baca Quran dan khatam. Termasuk paham makna dan arti yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Terakhir, Septa berpesan kepada teman-teman seperjuangan di mana pun, agar tidak lupa kepada Sang Pencipta. Sehingga, mereka terus memperbaiki diri dan menjadi manusia yang lebih baik di mata-Nya.

 

Eveline/Tommy