Anak-Anak Diseleksia

by
Karena disleksia, 70 hingga 80 persen anak menjadi kesulitan belajar. Desain Gambar: Wiryani Pambudi / Twitter.

Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

Wartapilihan.com, Jakarta –Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Hal tersebut disampaikan dr. Kristiantini Dewi, Sp.A., Ketua Disleksia Indonesia.

Dewi mengatakan, anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal.

“Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol,” tutur Dewi, Senin, (13/8/2018), berdasarkan laman www.nbpcenter.com.

Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berupa (1) Masalah fonologi, yaitu hubungan sistematik antara huruf dan bunyi, (2) Masalah mengingat perkataan, (3) Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial, dan (4) Masalah ingatan jangka pendek, (5) Masalah pemahaman sintaks atau tata Bahasa.

“Penelitian terkini menunjukkan, terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal -parietal – oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang),” terang Dewi.

Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf / kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna.

Dalam melakukan diagnosis diseleksia, dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes tes psikometrik yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog.

“Selain dokter anak dan psikolog, professional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan penglihatan), dan tentunya guru sekolah,” imbuh Dewi.

Anak disleksia di usia pra sekolah, terang Dewi, menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa atau mengalami gangguan dalam mempelajari kata – kata yang bunyinya mirip atau salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali huruf – huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga.

“Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca,” tukas Dewi.

Lebih lanjut Dewi memaparkan, terdapat jenis-jenis diseleksia, yaitu (1) disleksia visual,
(2) disleksia auditori, dan (3) disleksia kombinasi (visual-auditori). “Terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat,”

Oleh karena itu, disleksia ini perlu dikomunikasikan dari orangtua terhadap guru, dan anak didudukkan pada barisan paling depan agar guru bisa mendampingi saat anak diberikan tugas.

“Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas),” ajak dia.

Anak disleksia yang sudah menunjukkan usaha keras untuk berlatih dan belajar, menurut Dewi, harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup

“Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara tersebut sukar diterima oleh sang anak,” tukas Dewi.

Aspek emosi anak disleksia, jelas Dewi dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman – temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya.

“Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri,”

Maka dari itu, Dewi menekankan agar orang tua dan guru seyogyanya adalah orang – orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia.

“Jangan sekali sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia,” pungkas Dewi.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *