ACT untuk Ghouta

by
foto:zuhdi

Selain menjangkau Ghouta Timur, bantuan kemanusiaan ACT juga menyasar pengungsi-pengungsi Suriah di perbatasan.

Wartapilihan.com, Jakarta —Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali menyelenggarakan Ngobrol Kemanusiaan (NgoKem),
Kamis (8/2). Acara yang bertajuk “Selamatkan Ghouta” ini bertempat di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Presiden ACT Ahyudin menuturkan, fenomena tragedi kemanusiaan di Ghouta, Damaskus, Suriah merupakan fase akhir zaman seperti Rasulullah nyatakan dalam sebuah hadits bahwa di ujung zaman akan ada fase peradaban yang dikendalikan oleh mulkan jabariyyan.

“Nah, puncak dari fase itu adalah penguasa sekuler. (tragedi kemanusiaan) ini produk penguasa dunia. Kalau kita berpangku pada penguasa dunia, maka tidak akan selesai,” kata Ahyudin.

Ia menyoroti bagaimana setiap krisis kemanusiaan, menyuguhkan peluang penentu, untuk pribadi juga sebuah bangsa. Yakni, menjadi pribadi atau bangsa baik dan humanis, atau mati rasa tak berperikemanusiaan. Menurutnya, tidak ada narasi terbaik kecuali menyerukan kebaikan.

“Sedekah terbaik hari ini adalah memberikan bantuan kepada muslim yang teraniaya dibandingkan memberikan bantuan kepada tetangga sekalipun,” katanya.

Ahyudin menerangkan, skala derita konflik di Suriah memasuki fase teramat kritis. Banyak jasad berjatuhan menjadi mayat, banyak jiwa menyelamatkan diri ke negeri lain. Tujuh tahun krisis Suriah, sambung Ahyudin, bukan soal angka korban atau kalkulasi kerugian material. Lebih jauh dari itu adalah kontribusi yang dilakukan untuk menolong sesama muslim.

“Manusia memiliki persamaan di antara manusia lainnya. Yaitu fitrah insaniyah (rasa kemanusiaan). Tugas kemanusiaan merupakan tugas hati nurani untuk menyambut panggilan itu dengan amal kebaikan. Agendanya bukan hanya penyelamatan agenda kemanusiaan, tapi juga harus ada recovery jangka panjang,” ungkap Ahyudin.

Saat ini, ACT melakukan ikhtiar membuat 20 titik dapur umum di distrik Ghouta. Sebelumnya, ACT mensuplai 20.000 makanan dengan jumlah 400.000 beneficiaries (penerima manfaat). Ahyudin bersyukur dan menyampaikan terima kasih atas bantuan masyarakat Indonesia melalui ACT dapat memberikan manfaat luas.

“Kami butuh 1.000 ton pangan per bulan, karena mereka tidak ada bantuan lagi. Kematian massal bisa terjadi karena lambannya bantuan kemanusiaan. Insya Allah, bulan depan kami memberangkatkan 1.000 ton beras dari Aceh ke Suriah melalui perbatasan Turki. Mohon doanya ya,” harap Ahyudin.

Sementara itu, aktivis perempuan Tere menanyakan kepada yang hadir terkait rasa kemanusiaan. “Bagi saya Ghouta adalah duka kemanusiaan, pertanyaannya apakah kita masih layak disebut manusia jika membiarkan mereka berurai darah dan air mata?,” Tere.

Dari kacamata Jurnalis, Redaktur Eksekutif Kantor Berita Turki, Anadolu Agency Pizaro mengharapkan para jurnalis bisa produktif mengabarkan krisis kemanusiaan yang terjadi di Ghouta timur. Hal yang biasa dilakukan para wartawan, lanjutnya adalah asas kedekatan. Termasuk kedekatan geografis.

“Bagi para wartawan, ada yang dinamakan asas kedekatan hati. Dan itu dibuktikan dengan adanya tragedi Ghouta. Selama ini, media baru mengangkat soal isu kemanusiaan ketika ada peristiwa. Padahal, Ghouta adalah peristiwa itu sendiri. Sudah sejak lama, Ghouta terkepung dan mengharapkan uluran bantuan kemanusiaan,” jelas Pizaro.

Kondisi Ghouta Terkini

Serangan yang tengah berlangsung di Ghouta Syira sejak 18 Februari 2018 masih terus menyisakan korban. Lagi-lagi, operasi militer dengan dalih mengusir oposisi di Ghouta Timur mengorbankan perempuan, anak-anak dan warga yang tidak berdosa.

Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat, sejak krisis Ghouta hingga sekarang, korban jiwa yang berguguran sudah mencapai lebih dari 700 jiwa. Sebagai manusia yang punya hati nurani, kondisi yang terjadi di Ghouta patut kita bela, bantu dan perjuangkan.

Krisis yang terjadi menggerakkan masyarakat Indonesia untuk membantu menyelamatkan Ghouta. Melalui Aksi Cepat Tanggap, bantuan kemanusiaan sumbangsih masyarakat Indonesia terus disalurkan untuk pengungsi internal di Ghouta Timur.

Bantuan yang didistribusikan antara lain makanan siap santap seperti nasi biryani dan lauk pauk, sup lentil, roti khobz. Lalu juga ada bahan bakar untuk pengungsi, mengingat saat masih musim dingin di Suriah. Bantuan disalurkan ke pengungsi yang masih bertahan di rumah mereka maupun di bungker bawah tanah.

Hingga saat ini, bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia telah menjangkau ribuan pengungsi di Ghouta Timur. Selain menjangkau Ghouta Timur, bantuan kemanusiaan ACT juga menyasar pengungsi-pengungsi Suriah di perbatasan.

Melibatkan IHC

Sadar skala krisis Suriah yang besar, dan Turki sebagai negeri humanis yang membuka diri untuk menampung dan menanggung pangan tak kurang dari 3,5 juta pengungsi dari Suriah, ACT bertekad berkontribusi menanggung sebagiannya, mewakili bangsa besar Indonesia.

Seiring program Kapal Kemanusiaan untuk Suriah yang akan berangkat 21 April 2018 nanti dari Aceh, ACT juga menyiapkan pembangunan pusat layanan pengungsi, Indonesia Humanitarian Center (IHC), di Turki, yang menyediakan multilayanan kemanusiaan, antara lain medis, pangan, dan shelter.

Ngobrol Kemanusiaan menggandeng seniman dan jurnalis untuk membicarakan krisis kemanusiaan di Suriah, khususnya di Ghouta Timur. Hadir dalam NGOKEM kali ini antara lain Presiden ACT Ahyudin, Musisi Solo, Tere, X Musisi Madmor Abu Taqo, Komikus Tony Trax dan Pizaro, Redaktur Eksekutif Kantor Berita Turki Anadolu Agency.

Mereka hadir di NGOKEM sebagai manusia yang peduli terhadap krisis kemanusiaan yang melanda Ghouta. Urusan kemanusiaan tidak hanya tugas dari lembaga kemanusiaan, semua umat manusia sejatinya punya peran yang sama untuk membantu sesama manusia. Seperti yang disampaikan oleh Musisi Solo, Tere. Menurutnya kondisi Ghouta saat ini adalah sebuah duka kemanusiaan.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *