Konser Tasbih Sunyi di Bawah Tanah

by

Menghidupkan Lahan Mati dan Mengalirkan Pahala dari Dzikir Miliaran Mikroba. Dalam riwayat fiqih klasik, para ulama seperti Mazhab Hanafi dan Syafi’i memakruhkan tindakan mencabut rumput atau tanaman yang masih basah di atas kuburan. 

Wartapilihan.com, Jakarta– Mengapa? Karena selama tanaman tersebut hidup dan basah, mereka terus-menerus melantunkan tasbih kepada Allah Swt., dan getaran tasbih tersebut mendatangkan rahmat serta ketenteraman bagi ahli kubur di bawahnya.

Jika sehelai rumput segar di permukaan tanah membawa rahmat yang begitu besar lewat tasbihnya, pernahkah Anda membayangkan getaran spiritual yang terpancar dari triliunan mikroorganisme yang aktif bertasbih di dalam satu meter persegi tanah yang subur?

Menghidupkan Tanah yang Mati (Ihya’ al-Mawat)

Islam mengajarkan sebuah prinsip hukum ekologi yang sangat indah bernama Ihya’ al-Mawat, yang berarti menghidupkan kembali lahan yang mati atau gersang. Rasulullah saw. memberikan jaminan pahala yang luar biasa bagi siapa saja yang melakukannya:

“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad)

Secara sains, tindakan “menghidupkan” tanah—seperti memberi kompos atau menanam pohon—secara instan memicu bangkitnya miliaran mikroba dan cacing tanah dari kondisi tidur (dorman) karena mereka mendapatkan makanan dan tempat bernaung.

Ladang Ibadah di Bawah Kaki Kita

Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh komponen di alam semesta senantiasa bertasbih menyucikan Allah dengan cara mereka masing-masing:

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka…” (QS. Al-Isra’: 44)

Saat Anda menyiram tanah, memberi pupuk organik, dan menjaga kegemburan tanah, Anda tidak sekadar melakukan kegiatan bercocok tanam biasa. Anda sedang membangun sebuah “masjid raksasa” di bawah tanah, tempat bagi triliunan makhluk hidup melantunkan dzikir dan tasbihnya tanpa henti.

Sesuai sabda Nabi saw., “Ada pahala di setiap lambung yang basah (makhluk hidup)”, maka setiap denyut kehidupan mikroba, setiap gerakan cacing, dan setiap proses daur ulang hara yang dilakukan oleh triliunan “lambung basah” di bawah tanah tersebut akan mengalirkan pahala jariah ekologis yang terus menemani hidup Anda.

Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)

Dukung Jurnalisme cerdas & bijak, https://sociabuzz.com/warta_pilihan/tribe