Pada masa keemasannya di abad pertengahan, Cordoba bukan sekadar sebuah kota di Semenanjung Iberia, melainkan pusat peradaban dan ilmu pengetahuan paling maju di Eropa.
Wartapilihan.com, CORDOBA — Melalui sebuah perjalanan napak tilas sejarah, kreator konten Aziza Francienne mengajak penonton menyelami sisa-sisa kejayaan Islam di Al-Andalus, merasakan kehangatan warga lokal, hingga mencicipi ragam kuliner khas di kota yang pernah menjadi tandingan Baghdad dan Konstantinopel ini.
Perjalanan Dimulai: Kereta Cepat dan Kejutan Budaya Pop
Perjalanan menuju Cordoba dimulai dari Sevilla menggunakan kereta cepat dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Dalam perjalanan ini, Aziza ditemani oleh Risma, seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Universitas Cordoba sekaligus menjadi pemandu lokal.
Ada pemandangan menarik selama di dalam kereta. Banyaknya wisatawan asal Korea Selatan yang memadati gerbong menjadi fenomena tersendiri. Kepopuleran kawasan Andalusia di mata turis Asia Timur ini tidak lepas dari pengaruh serial drama Korea populer, Memories of the Alhambra, yang mengambil latar keindahan wilayah selatan Spanyol tersebut.
Sejarah mencatat bahwa Cordoba berkembang pesat sejak era Romawi sebelum berlanjut ke kekuasaan Visigoth. Titik balik sejarah kota ini terjadi pada abad ke-8 (sekitar tahun 750 M), ketika Kekhalifahan Umayyah menjadikan Cordoba sebagai pusat pemerintahan Al-Andalus. Kota ini bertransformasi menjadi mercusuar pendidikan dunia—yang pada zamannya setara dengan reposisi universitas papan atas dunia modern.
Cita Rasa Lokal dan Lima Kata Kunci Bahasa Spanyol
Sebelum memulai eksplorasi sejarah, kegiatan diawali dengan sarapan ala warga lokal (Warlock). Aziza dan Risma menyambangi kedai churros lokal untuk menikmati porsi besar churros renyah yang dicelupkan ke dalam cokelat panas kental. Selain itu, mereka mencicipi tostada (roti panggang khas) bersaus tomat, tuna, dan minyak zaitun, disandingkan dengan penyajian es kopi unik khas lokal tempat espresso dan es batu disajikan di gelas terpisah.
Di sela-sela sarapan, Risma membagikan lima frasa penting bahasa Spanyol yang wajib diketahui oleh wisatawan sebelum berkunjung:
- ¡Hola! – Halo
- Buenos días / Tardes / Noches – Selamat pagi / siang / malam
- Gracias – Terima kasih
- De nada – Sama-sama
- Hasta luego – Sampai jumpa
Mezquita-Catedral: Mahakarya Arsitektur dan Saksi Bisu Perubahan Zaman
Destinasi utama di Cordoba adalah Mezquita-Catedral (Masjid-Katedral Cordoba). Memasuki pelataran kompleks, pengunjung disambut oleh Patio de los Naranjos (Pelataran Pohon Jeruk). Area luar yang rindang ini dulunya merupakan tempat wudu utama bagi umat Muslim sebelum beribadah di dalam masjid, sementara menara azan kunonya kini telah dialihfungsikan menjadi menara lonceng.
Secara arsitektural, Mezquita-Catedral menyajikan perpaduan gaya bangunan Romawi, Visigoth, dan arsitektur Islam. Bangunan ini mengalami lima tahap perluasan besar di era kepemimpinan Abdurrahman I, II, III, hingga Al-Mansur. Ciri khas lengkungan bergaris merah-putih serta pilar-pilar batu megah yang membentang luas tetap dipertahankan meski fungsi utamanya kini telah menjadi katedral.
Salah satu bagian yang paling memukau adalah Mihrab. Dinding di sekitar mihrab dihiasi ukiran kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an dan motif vegetalis (arabesque) tanpa gambar makhluk hidup. Di balik pintu emas di samping mihrab, dulunya terdapat perpustakaan besar yang menyimpan ribuan manuskrip penting dari masa keemasan Islam.
Persaudaraan Lintas Negara dan Momen Hangat
Di dalam kompleks Mezquita, terjadi momen interaksi hangat ketika Aziza menyapa sesama wisatawan Muslim asal Oman dan Bangladesh. Salah satu wisatawan mengungkapkan rasa harik dan nostalgia saat menyaksikan langsung peninggalan era keemasan Islam:
“Perasaan ini memberikan harapan bahwa peradaban Islam pernah menjadi sesuatu yang sangat besar di masa lalu, dan bisa menjadi besar kembali di masa depan,” ungkap wisatawan tersebut.
Percakapan juga menyentuh pengalaman menjadi wanita berhijab yang tinggal di Eropa, serta dinamika sosial dan toleransi di berbagai negara Barat. Tak hanya itu, di area ini Aziza juga sempat menyapa wisatawan asal Yogyakarta yang sedang menetap di London.
Ikonik Calleja de las Flores dan Jembatan Romawi (Puente Romano)

Eksplorasi dilanjutkan menuju Calleja de las Flores (Gang Bunga). Gang sempit nan estetik ini dihiasi pot-pot bunga berwarna-warni di dinding rumah warga. Dari ujung gang buntu ini, pengunjung dapat menikmati sudut pandang ikonis yang mengarah langsung ke menara Mezquita-Catedral.
Perjalanan diteruskan menyeberangi Puente Romano (Jembatan Romawi) dan Torre de la Calahorra (Benteng Calahorra) yang berdiri di atas Sungai Guadalquivir (Río Guadalquivir). Benteng ini dahulu berfungsi sebagai gerbang pertahanan utama untuk menyaring siapa saja yang hendak memasuki kota Cordoba.
Pada masa kejayaannya, Cordoba diperkirakan dihuni oleh 300.000 hingga 500.000 jiwa. Angka ini sangat fantastis bila dibandingkan dengan kota-kota besar Eropa lain pada era yang sama, seperti London yang saat itu baru dihuni kurang dari 50.000 jiwa. Hal ini membuktikan betapa majunya tingkat peradaban dan tata kota Cordoba di abad pertengahan.
Merawat Tradisi: Masjid Andalus dan Kuliner Halal Khas

Meski Mezquita telah beralih fungsi, jejak ibadah umat Islam tidak hilang. Hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki, terdapat Mezquita de los Andaluces (Masjid Los Andalus). Masjid kecil namun bersejarah ini dibangun sebagai wadah ibadah bagi umat Muslim di Cordoba hingga saat ini. Di tempat ini pula, Aziza sempat menunaikan salat Zuhur dan berbincang dengan seorang jamaah berdarah Turki dari Jerman.

Untuk santap siang, Aziza mengunjungi restoran halal berkonsep gabungan Maroko-Andalusia. Menu utama yang dicicipi adalah kuliner otentik khas Cordoba bernama Berenjenas con miel (terong goreng renyah yang disajikan dengan siraman madu, saus gurih, serta taburan kacang), diikuti hidangan nasi basmati dengan olahan ayam rempah.
Warisan Ilmu Pengetahuan dan Cendekiawan Besar Cordoba
Di sela santap siang, Risma memaparkan kontribusi besar Cordoba terhadap peradaban dunia melalui lahirnya ilmuwan-ilmuwan ternama:
- Ibnu Rushd (Averroes): Filsuf besar sekaligus ahli hukum Islam penulis kitab fikih monumental Bidayatul Mujtahid.
- Ibnu Hazm: Tokoh sastrawan, filsuf, dan ulama terkemuka.
- Abbas ibn Firnas: Ilmuwan perintis awal teknologi penerbangan manusia.
- Abu al-Qasim al-Zahrawi (Albucasis): Bapak ilmu bedah modern.
Refleksi Perjalanan
Menutup perjalanannya di kota Cordoba, Aziza menyampaikan optimismenya terhadap nilai-nilai sejarah yang dipelajari selama di Andalusia. Menyaksikan langsung peninggalan peradaban Islam yang begitu agung tidak hanya menumbuhkan rasa bangga, tetapi juga memberikan dorongan untuk terus belajar, mengeksplorasi dunia, dan mempererat tali persaudaraan antarumat manusia.
Link Youtube: https://youtu.be/935_PPG9Bas?si=aXVRipEXmaHQcpcX

