PIALA DUNIA 2026: Ketika Sebelas Pemain Memikul Harga Diri Bangsa

by

Oleh: Uus Sugema

Mengapa sebuah pertandingan sepak bola sanggup membuat jutaan orang bersorak, menangis, bahkan saling membenci? Barangkali karena di atas lapangan hijau, yang dipertaruhkan bukan sekadar kemenangan sebelas pemain, melainkan kehormatan sebuah bangsa.

Dari New York hingga Tokyo, dari Rabat hingga Jakarta, miliaran orang menghentikan aktivitasnya begitu peluit pertama dibunyikan. Jalanan mendadak lengang, kafe-kafe penuh sesak, dan layar raksasa dipadati lautan manusia. Selama 90 menit, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk menyaksikan sebelas orang mengejar sebuah bola.

Panggung Geopolitik dan Pergulatan Identitas

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi panggung pesta sepak bola terbesar dalam sejarah dengan 48 negara peserta. Stadion penuh sesak, jalanan dipenuhi jersey, dan bendera berbagai negara berkibar di ruang-ruang publik. Di media sosial, jutaan orang mendadak berubah menjadi “pelatih nasional”, “analis VAR”, sekaligus “panglima perang” yang siap membela negaranya habis-habisan.

Ketika Kanada berpesta, Afrika Selatan berduka; satu gol di penghujung laga cukup mengubah drastis suasana psikologis dua negara. Kemenangan dirayakan sebagai kejayaan bangsa, sementara kekalahan menjadi luka nasional.

Turnamen ini juga membuktikan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar steril dari politik dan rivalitas antarnegara. Kehadiran Iran (Team Melli) di Amerika Serikat, misalnya, sempat memicu drama geopolitik akibat memanasnya hubungan diplomatik kedua negara. Muncul wacana boikot hingga usulan pemindahan lokasi pertandingan. Namun begitu laga dimulai, kontroversi menguap dan berganti menjadi gemuruh lagu kebangsaan serta kibaran bendera.

Rivalitas sengit juga tersaji dalam laga Belanda melawan Maroko. Di luar stadion, jutaan warga keturunan Maroko yang lahir dan besar di Belanda larut dalam ketegangan identitas. Pertandingan ini bukan lagi sekadar adu taktik, melainkan pergulatan loyalitas dan sejarah panjang migrasi.

Komodifikasi Emosi dan Sisi Gelap Fanatisme

Di tengah pusaran bisnis global, nasionalisme kini telah menjadi komoditas industri yang sangat efektif. Hak siar bernilai miliaran dolar, sponsor global, apparel, hingga sektor pariwisata bergerak dinamis memutar roda ekonomi. Semakin fanatik pendukung suatu negara, semakin besar pula nilai ekonomi dan konsumsi produk yang berputar di dalamnya.

Namun, fanatisme yang berlebihan selalu menuntut adanya “lawan”. Olahraga pun perlahan bergeser menjadi pertarungan identitas yang destruktif. Kampanye FIFA seperti “No Racism” dan “Football Unites the World” kerap kali tak berdaya membendung rasisme dan permusuhan antarsuporter.

Di Jerman, kelompok ultra-kanan pernah terang-terangan menolak pemain berkulit hitam di tim nasional mereka. Di dalam negeri pun, kita memiliki catatan panjang bagaimana bentrokan antarsuporter dan tragedi stadion mengubah hiburan menjadi petaka. Ketika kecintaan pada klub atau negara melampaui batas, sepak bola berubah menjadi racun yang memecah belah.

Islam dan Ikatan Melampaui Batas Negara

Nasionalisme pada dasarnya adalah ikatan yang dibangun atas kesamaan bangsa, keturunan, suku, atau tanah air. Namun, ia sering kali melahirkan rasa superioritas dan kompetisi yang menonjolkan keangkuhan, bukan persaudaraan.

Islam hadir menawarkan perspektif yang sama sekali berbeda. Islam tidak menghapus keberadaan bangsa atau suku karena hal itu adalah sunatullah. Yang ditolak adalah ketika identitas tersebut dijadikan dasar loyalitas tertinggi yang mengalahkan ikatan akidah (‘ashabiyah). Rasulullah saw. memberikan peringatan tegas:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ‘ashabiyah, berperang karena ‘ashabiyah, dan mati karena ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud).

Di hadapan Allah Swt., kemuliaan seorang manusia tidak diukur dari paspor, warna bendera, atau lagu kebangsaan, melainkan dari ketakwaannya. Ketika dunia menggiring manusia untuk bangga pada sekat-sekat geografis, Islam mengajarkan identitas yang jauh lebih luhur: persaudaraan karena iman.

Kemenangan yang Sesungguhnya

Sepak bola boleh saja menjadi hiburan dan mendukung tim nasional sah-sah saja sebagai bagian dari kegembiraan. Namun, jangan sampai sorak-sorai 90 menit di stadion membuat kita melupakan penderitaan umat, konflik, dan kemiskinan di belahan dunia lain. Jangan sampai fanatisme sepak bola menggeser ikatan akidah yang semestinya menjadi perekat utama.

Trofi Piala Dunia hanya akan bertahan beberapa tahun dan tersimpan di buku sejarah. Sementara itu, kemenangan terbesar seorang Muslim bukanlah saat negaranya mengangkat piala, melainkan ketika akidahnya tetap tegak di atas segala bentuk fanatisme golongan.

Yang paling layak kita perjuangkan bukanlah kemenangan sebuah negara di atas lapangan hijau, melainkan kemenangan iman di dalam hati. Karena pada akhirnya, kemuliaan di sisi Allah (izzul islam wal muslimin) berlaku untuk selama-lamanya.

Wallahu a’lam bishawab.