Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Kecamatan Ciracas Jakarta Timur berlangsung meriah melalui kegiatan Gebyar Muharram 1448 H yang digelar di Taman Abdurrahman, Cibubur, Selasa (16/6).
Wartapilihan.com, Jakarta– Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Ciracas tersebut bertujuan mewujudkan visi Ciracas Berbudaya Santri melalui penguatan syiar Islam dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah Gerakan Ciracas Menulis Al-Qur’an, yang mengajak masyarakat untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an. Meski secara teknis peserta lebih banyak menebalkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disiapkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kitab suci sekaligus mengasah kemampuan membaca dan menulis huruf-huruf Al-Qur’an.
“Harapannya masyarakat Ciracas tidak hanya gemar membaca Al-Qur’an dalam kesehariannya, tetapi juga mau mengasah kembali kemampuan menulis Al-Qur’an. Dengan begitu syiar Islam di Ciracas semakin berkembang dan semakin maju,” ungkap Ketua MUI Ciracas, KH Anwar Islam.
Kegiatan ini melibatkan hampir seluruh organisasi kemasyarakatan Islam yang ada di Ciracas, antara lain MUI, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Muslimat, Aisyiyah, Forum Komunikasi Majelis Taklim (FKMT), Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Menariknya, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai organisasi kemasyarakatan seperti Pemuda Pancasila, Laskar Merah Putih, Forum Betawi Rempug (FBR), Bamus Betawi, serta berbagai komunitas masyarakat lainnya yang turut berpartisipasi menyukseskan acara.
Selain unsur masyarakat, hadir pula jajaran pemerintah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), di antaranya pihak Kecamatan Ciracas, para lurah, Koramil, Polsek, para kepala sekolah, guru agama, serta berbagai tokoh masyarakat. Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Bapak Munjirin, juga hadir untuk memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Kiyai Anwar memperkirakan jumlah peserta yang hadir mencapai hampir seribu orang. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi sejak persiapan kegiatan. Menurut panitia, meskipun tidak ada anggaran resmi yang disiapkan, dukungan masyarakat mengalir secara spontan hanya dalam waktu tiga hari menjelang pelaksanaan acara.
“Banyak pihak yang ikut membantu. Ada yang mengirim kue, air mineral, soto daging, dan berbagai kebutuhan lainnya. Bazar UMKM MUI juga berjalan dengan baik. Semua bergotong royong demi suksesnya acara ini,” ujarnya.
Kegiatan Gebyar Muharram di Taman Abdurrahman bukanlah yang pertama kali digelar. Tiga tahun lalu, lokasi yang sama pernah menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan bertajuk Ciracas Ngaji Duha. Penggunaan ruang publik sebagai sarana syiar Islam sengaja terus didorong agar taman-taman dan ruang terbuka di wilayah Ciracas tidak hanya dimanfaatkan untuk olahraga dan rekreasi, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan masyarakat.
“Ke depan kami ingin taman-taman dan RPTRA di Ciracas dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an, diskusi keagamaan, dan berbagai kegiatan positif yang menumbuhkan suasana religius di tengah masyarakat,” terangnya.
Menurut Ketua MUI Ciracas ini, konsep Ciracas Berbudaya Santri bukan sekadar memperbanyak kegiatan keagamaan, tetapi membentuk karakter masyarakat yang santun, rukun, aman, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat Muharram, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus bersinergi membangun Ciracas yang religius, harmonis, dan berakhlak mulia.
Sementara itu Camat Ciracas, Pananggaran Ritonga, menyampaikan rasa syukurnya atas terbangunnya forum kolaborasi yang mampu menyatukan berbagai organisasi keagamaan dan organisasi sosial di wilayah Ciracas. Menurutnya, momentum Tahun Baru Islam harus dimaknai sebagai sarana refleksi atas perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam.
“Kita memperingati tonggak hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Tahun Baru Hijriah ini menjadi momentum introspeksi bagi kita semua. Sejauh mana perjuangan kita dalam menyebarkan nilai-nilai agama di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa peringatan Muharram selama ini selalu diisi dengan berbagai kegiatan positif, mulai dari sedekah, silaturahmi, hingga penguatan ukhuwah Islamiyah. Tahun ini, semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Menurut Pananggaran, salah satu gagasan yang ingin dikembangkan adalah menjadikan ruang-ruang publik sebagai sarana syiar dan pendidikan keagamaan. Karena itu, kegiatan dilaksanakan di taman terbuka agar masyarakat terbiasa memanfaatkan fasilitas umum untuk kegiatan yang bernilai positif.
“Kita ingin taman-taman tidak hanya digunakan untuk olahraga atau rekreasi. Ke depan kita ingin melihat masyarakat membawa Al-Qur’an dan membacanya di taman. Itu menjadi hal yang biasa dan menjadi budaya di Ciracas,” katanya.
Agenda utama dalam Gebyar Muharram kali ini adalah Gerakan Ciracas Menulis Al-Qur’an. Dalam program tersebut, unsur aparatur sipil negara (ASN), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi Islam bersama-sama menulis Al-Qur’an secara simbolis.
Pananggaran menjelaskan bahwa satu mushaf Al-Qur’an lengkap 30 juz dibagi ke enam wilayah pelaksana, yakni satu kecamatan dan lima kelurahan di Ciracas. Masing-masing unit mendapat bagian lima juz untuk ditulis secara gotong royong oleh ASN, lurah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat.
“Hari ini kita mulai secara simbolis menulis bersama. Setelah itu akan dibawa pulang sebagai tugas masing-masing. Sekitar dua minggu kemudian akan kita kumpulkan kembali, lalu disatukan, digandakan, dan dijilid menjadi satu mushaf Al-Qur’an,” jelasnya.
Mushaf tersebut nantinya diharapkan menjadi warisan berharga bagi masyarakat Ciracas karena ditulis langsung oleh para ASN dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Menurut Pananggaran Ritonga, kegiatan semacam ini sebenarnya telah dimulai beberapa tahun lalu. Namun pelaksanaannya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Kini, setelah kondisi kembali normal, Pemerintah Kecamatan Ciracas bersama para tokoh agama dan masyarakat bertekad menghidupkan kembali tradisi tersebut sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.
“Kami ingin membangkitkan kembali semangat kebersamaan dan syiar Islam di ruang-ruang publik. Harapannya, Ciracas menjadi wilayah yang religius, santun, aman, dan benar-benar berbudaya santri,” pungkasnya. II Nuim Hidayat

