Semaraknya Acara World Quranic Civilization Forum

by

Perhelatan acara 1 Muharam 1448M (16/6) yang dilaksanakan AQL Islamic Center, berlangsung semarak. Sekitar 500 orang hadir memenuhi ruangan di gedung Exhibition Hall SMESCO, Jakarta Selatan. Acara itu bernama World Quranic Civilization Forum 1448 H.

Wartapilihan.com, Jakarta Ketua Umum World Quranic Civilization Forum (WQCF), KH Bachtiar Nasir, menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan keluarga. Menurutnya, WQCF dirancang sebagai forum tahunan berskala internasional yang menghadirkan para tokoh Al-Qur’an dari berbagai negara. Penyelenggaraan perdana ini merupakan langkah awal untuk membangun agenda peradaban Al-Qur’an yang lebih besar di masa mendatang.

UBN -panggilan akrab KH Bachtiar Nasir- menyatakan bahwa persiapan acara ini hanya sekitar dua pekan. “Tetapi setelah ini kami akan bekerja selama satu tahun penuh untuk menghadirkan forum yang lebih besar dan lebih berdampak,” ungkapnya.

UBN mengatakan, ke depan WQCF akan mengundang lebih banyak tokoh formal maupun informal dari berbagai belahan dunia, termasuk kalangan akademisi, ulama, dan pemimpin lembaga pendidikan Islam internasional. Ia berharap forum tersebut dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang berlangsung lebih lama, bahkan hingga satu pekan.

“Tahun ini hanya satu hari. Ke depan kami berharap bisa berlangsung empat hari hingga satu pekan agar manfaatnya lebih terasa dan program-programnya dapat lebih komprehensif,” katanya.

Pada penyelenggaraan perdana ini, WQCF mengangkat tema “Establishing the Quran as the Operating System of Family” atau menjadikan Al-Qur’an sebagai sistem operasi keluarga.

Tema itu dipilih karena keluarga merupakan benteng utama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari krisis kepemimpinan, perjudian daring, pinjaman online, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai bentuk degradasi moral akibat perkembangan teknologi dan media sosial.

UBN juga menjelaskan bahwa dirinya telah membentuk sejumlah komunitas, antara lain Komunitas Bunda Hajar untuk para ibu dan Komunitas Ayah Ibrahim untuk para ayah yang berada di bawah payung The Ibrahim Family Academy.

“Inisiatif ini bukan sekadar kelas pengasuhan anak, melainkan gerakan kebangkitan keluarga yang bertujuan memperkuat ketahanan moral dan karakter masyarakat Indonesia,”tegasnya.

UBN menambahkan bahwa penerapan Al-Qur’an sebagai sistem kehidupan harus diawali dengan penguatan akidah dan tauhid, kemudian diikuti penerapan syariat Islam secara konsisten. Dari fondasi tersebut, menurutnya, akan lahir akhlak dan peradaban yang kuat.

“Dua rekomendasi penting forum ini adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai operating system kehidupan dan sebagai panduan memahami sunnatullah dalam membangun masa depan yang lebih baik,” terangnya.

Sementara itu, pakar ketahanan keluarga Prof Euis Sunarti mengingatkan bahwa keluarga Indonesia sedang menghadapi tantangan besar akibat perubahan sosial, ekonomi, dan demografi yang semakin kompleks. Dalam paparannya, ia menyoroti meningkatnya fenomena sandwich generation, bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia, hingga melemahnya relasi antara anak dan orang tua.

Menurut Euis, berbagai survei menunjukkan bahwa tidak sedikit generasi muda di Indonesia yang memandang memiliki anak sebagai beban. Mereka merasa harus menanggung tanggung jawab ganda, yakni membesarkan anak sekaligus menopang kehidupan orang tua yang telah lanjut usia.

“Berbakti kepada orang tua seharusnya tidak dipandang sebagai beban. Namun realitas yang terjadi saat ini menunjukkan banyak anak muda merasakan tekanan yang besar akibat tanggung jawab tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menyoroti semakin banyaknya kasus kesepian (loneliness) yang dialami para lansia. Tidak sedikit orang tua yang hidup terlantar, kurang mendapat perhatian dari anak-anaknya, bahkan ditemukan meninggal dunia setelah beberapa hari tanpa diketahui keluarga.

Fenomena tersebut, kata Euis, tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Saat ini jumlah lansia telah mencapai sekitar 12 persen dari total populasi nasional, melampaui ambang 10 persen yang menjadi salah satu indikator sebuah negara memasuki fase aging nation atau negara menua.

“Pada tahun 2045 diperkirakan sekitar 20 persen penduduk Indonesia akan berusia lanjut. Pertanyaannya, apakah mereka akan memasuki masa tua dengan kondisi yang sejahtera atau justru mengalami kesulitan ekonomi dan sosial?” katanya.

Ia mengingatkan bahwa jika seperempat dari populasi lansia hidup dalam kondisi kesejahteraan yang rendah, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup maupun biaya kesehatan, maka persoalan sosial yang dihadapi bangsa akan semakin berat.

Karena itu, menurutnya, keluarga harus dipersiapkan sejak sekarang agar mampu menghadapi masa depan secara mandiri tanpa sepenuhnya bergantung kepada anak-anak. Pada saat yang sama, anak-anak tetap dapat menjalankan kewajiban berbakti kepada orang tua tanpa merasa terbebani.

Selain persoalan penuaan penduduk, Prof. Euis juga menyinggung tingginya mobilitas dan migrasi penduduk yang membawa berbagai konsekuensi sosial. Tantangan lain seperti kemiskinan, bencana alam, bencana sosial, serta berbagai tekanan kehidupan modern juga diperkirakan akan terus memengaruhi kondisi keluarga Indonesia.

Menghadapi situasi tersebut, ia menegaskan pentingnya membangun keluarga yang memiliki daya tahan (resilience), ketangguhan, dan kemampuan untuk bangkit kembali ketika menghadapi krisis.

“Keluarga harus memiliki kelentingan, yaitu kemampuan untuk bangkit kembali saat menghadapi tekanan dan berbagai persoalan kehidupan. Karena itu diperlukan investasi untuk memperkuat resiliensi keluarga,” jelasnya.

Euis menambahkan bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dibangun secara instan. Sebagaimana membangun sebuah lembaga atau membentuk karakter manusia, proses membangun keluarga berkualitas memerlukan waktu, kesabaran, dan konsistensi.

Ia menekankan pentingnya menjadikan keluarga sebagai institusi utama dalam pembangunan kehidupan yang baik dan sejahtera. Untuk itu diperlukan kurikulum dasar kehidupan keluarga yang disosialisasikan sejak dini kepada masyarakat agar setiap individu memiliki bekal yang cukup ketika memasuki kehidupan rumah tangga.

Dalam kesempatan itu, Euis juga mengingatkan pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an tentang anak, rezeki, dan kewajiban berbakti kepada orang tua. Menurutnya, sebagian masyarakat mulai kehilangan keyakinan bahwa Allah SWT menjamin rezeki hamba-Nya sehingga memandang kehadiran anak dan tanggung jawab keluarga sebagai beban.

“Perlu ditanamkan kembali pemahaman tentang nilai anak, nilai rezeki, serta hakikat hidup manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam kehidupan keluarga,” ujarnya.

Menutup paparannya, Euis menegaskan bahwa persoalan keluarga tidak mungkin diselesaikan oleh individu secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama yang terstruktur, mulai dari tingkat keluarga, komunitas, hingga negara.

Dalam acara itu, UBN juga dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Al Quran dari Universitas Australia Internasional.

Selain KH Bachtiar Nasir dan Prof Dr Euis Sunarti, juga tampil sebagai pembicara adalah : Prof. Dr. Ahmad Isa Al Masarawy (syaikh Umumul Maqari’di Mesir), Assoc. Prof. Dr. Raudlotul Firdaus (Associate Professor di International Islamic University Malaysia), Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Al Syarif (Sekretaris Jenderal Asosiasi Universitas Islam), Prof. Dr. Muhammad Khair Al Ghabani (Ketua Asosiasi Univeristas Internasional dan Rektor Universitas Astrolabe Internasional). II Nuim Hidayat