SAATNYA HIJRAH PENDIDIKAN: DARI PENDIDIKAN SEKULAR KE PENDIDIKAN TERBAIK

by

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

Pada 15 Juni 2026, umat Islam memasuki tahun baru 1448 Hijriah. Dua bulan lagi, negara kita memasuki usia kemerdekaan ke-81. Tahun 2045, yakni 19 tahun lagi, kita akan memasuki usia kemerdekaan ke-100.

Banyak prestasi dan kemajuan dalam dakwah dan pendidikan telah dicapai di negeri kita. Tapi, masalah dan tantangannya juga bukan bertambah ringan. Yang jelas, kita tidak ingin diri dan negeri kita terus seperti sekarang.

Kita ingin maju! Umat Islam Indonesia – sebagai bagian terbesar negara Indonesia – pun tentu mencitakan kondisi yang lebih baik; menjadi umat terbaik, yang tidak diremehkan; menjadi umat hebat, yang kehadirannya diperhitungkan. Dan yang lebih penting: menjadi umat yang bermanfaat bagi sesama warga bangsa dan umat manusia.

Hari ini, 1 Muharram 1448 Hijriah. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah ditetapkan oleh Umar bin Khathab r.a. sebagai awal tahun baru Islam. Dalam perspektif pendidikan, Hijrah Nabi yang diikuti oleh ribuan kaum Muslimin merupakan PERISTIWA PENDIDIKAN yang sangat dahsyat.

Dengan hijrah, kaum muslimin menjalani proses pendidikan jiwa dan raga. Demi mempertahankan keimanan, kaum muslimin rela mempertaruhkan jiwa, raga, harta, dan keluarga. Tidak sedikit yang harus berpisah dengan keluarganya. Bahkan, akhirnya, banyak pula yang harus berperang dengan keluarganya sendiri.

Rasulullah saw berperang dengan pamannya sendiri. Semua itu dilakukan demi keimanan; demi tegaknya kebenaran. Sebab, iman adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan. Tetapi, pada akhirnya, Hijrah berujung pada kemuliaan dan kejayaan Islam.

Selama 13 tahun perjuangan dakwah di Makkah, kaum muslimin telah menjalani berbagai proses pendidikan yang hebat. Mereka langsung dididik oleh guru terbaik, yakni Rasulullah saw. Mereka menjalani kurikulum (lintasan) dalam bimbingan wahyu – bukan kurikulum sekular yang menolak wahyu sebagai sumber ilmu.

Sepanjang waktu – selama 24 jam — mereka menjalani proses pendidikan dibimbing oleh ayat-ayat al-Quran yang meneguhkan keimanan, menambah keilmuan, dan meningkatkan akhlak mereka.

Itulah model pendidikan terbaik yang dijalani umat Islam di masa Nabi. Model pendidikan yang disebutkan Umar bin Khathab: “Beradablah kemudian berilmulah!” Itulah pendidikan jiwa raga yang berat. Mereka ditempa lahir batin dengan aneka rupa ujian kehidupan.

Ujian mereka bukan hanya berupa ujian menjawab soal-soal ujian. Tapi, mereka menjalani ujian kehidupan, dalam satu universitas terbaik, bernama UNIVERSITAS KEHIDUPAN. Iman memang selalu diuji. Dengan ujian iman, maka tampaklah siapa yang imannya benar dan siapa yang dusta. (QS al-Ankabuut: 2-3).

Karena itu, bisa dikatakan, kaum muslimin yang hijrah (muhajirin) adalah manusia-manusia pilihan yang telah lulus ujian pendidikan kehidupan. Bahkan, setelah di Madinah pun, ujian itu tidak berhenti. Ujian pertama datang saat Perang Badar, dilanjutkan dengan Perang Uhud, Perang Khandaq, dan seterusnya.

Manusia-manusia pilihan ini telah memahami dan menghayati hakikat kehidupan. Mereka tahu tujuan hidupnya. Mereka tahu hakikat dunia yang hina dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupannya. Hilanglah penyakit “al-wahnu” (cinta dunia dan takut mati) dalam diri mereka. Bahkan, mereka bercita-cita menjadi syuhada, gugur di medan perang. Mereka bergairah ketika diajak berjihad fi sabilillah.

Bukan hanya itu. Manusia-manusia pilihan ini dididik menjadi orang-orang yang haus ilmu. Mereka berlomba-lomba menghafal dan menulis al-Quran dan hadits Nabi. Mereka dididik langsung untuk mencintai ilmu dan membudayakan sikap tolong menolong. Jiwa cinta pengorbanan tertanam kuat dalam diri mereka.

Manusia-manusia mulia dalam jumlah yang besar hidup di satu waktu dan satu tempat. Inilah ciri keunggulan utama generasi sahabat Nabi. Kualitas para sahabat Nabi ini berkali-kali lipat dibandingkan kualitas bangsa Romawi ketika itu. (Lihat QS 8:65-66).

Hanya dalam waktu empat tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, kaum muslimin sudah menaklukkan Romawi dan membuka Kota Jerusalem. Di sini, manusia-manusia terbaik ini membangun satu peradaban tinggi. Peradaban yang diisi oleh manusia-manusia yang kuat imannya, mulia akhklaknya, dan sangat tinggi budaya literasinya.

Jadi, Hijrah adalah proses pendidikan yang hebat. Hijrah menempa jiwa kaum muslimin menjadi manusia-manusia berkualitas tinggi. Tidak aneh, jika Madinah nantinya menjadi model negara terbaik; negara yang dipimpin oleh pemimpin terbaik dan rakyatnya adalah manusia-manusia terbaik; negara yang menjunjung tinggi nilai keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia.

Terbukti, buah dari Hijrah adalah kemuliaan. Karena itu, peringatan Tahun Baru Hijrah bukan peringatan biasa. Jika kita mau mewujudkan Indonesia Emas 2045, kita harus “berhijrah” dalam pendidikan; dari pendidikan sekular ke pendidikan terbaik yang telah dicontohkan langsung oleh Sang Guru Terbaik.

Hentikan kebanggaan terhadap lembaga pendidikan yang jelas-jelas merusak pemikiran dan akhlak serta melemahkan semangat perjuangan anak-anak muslim! Pindahkan kiblat pendidikan kita ke model pendidikan terbaik di masa Nabi Muhammad saw. Dan, model itu masih terjaga dan terbukti melahirkan banyak generasi gemilang!

Dengan hijrah pendidikan, insyaAllah, kita benar-benar merdeka dari penjajahan pemikiran dan pendidikan! Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah! Merdeka! Allahu Akbar! (Subang, 15 Juni 2026).