Dompet Tipis, Gaya Tetap Manis: Menilik Krisis Finansial Gen Z di Era Digital

by

Oleh: RATU BILQIS PUTRI PRIATNA

Ada sebuah paradoks menggelikan sekaligus getir yang sedang melanda Generasi Z hari ini. Coba perhatikan lini masa media sosial Anda: liburan estetik ke luar negeri, tiket konser barisan depan, pakaian bermerek (branded), hingga kopi susu literan yang difoto dengan sudut pencahayaan sempurna.

Namun, di balik layar gawai yang berkilau itu, tersimpan realitas yang menampar wajah. Dompet mereka tipis, bahkan mungkin minus, tetapi gaya harus tetap manis. Sebagai digital natives pertama yang tumbuh besar dengan internet di genggaman, Gen Z (kelahiran 1996–2010) terjebak dalam pusaran ekspektasi palsu. Mereka dipaksa bertarung melawan dua monster sekaligus: beban ekonomi struktural yang nyata di satu sisi, dan tekanan media sosial untuk selalu tampil sejahtera di sisi lain.

Fenomena ini bukan lagi sekadar banyolan di Twitter (X) atau TikTok, melainkan sebuah alarm krisis finansial dan mental yang nyata.

Ilusi Kemewahan di Tengah Badai Utang

Banyak orang tua atau generasi pendahulu dengan mudah menuding Gen Z sebagai generasi yang manja, boros, dan tidak becus mengelola uang. Tapi, benarkah begitu? Jika kita membedah datanya secara objektif, tuduhan itu terasa tidak adil.

Menurut analisis dari Yahoo Finance (2025), Gen Z secara global justru menanggung rata-rata utang personal tertinggi dibandingkan generasi mana pun. Angkanya mencapai USD 94.101, jauh melampaui generasi Milenial (USD 59.181) maupun Gen X (USD 53.255). Utang ini menumpuk mulai dari pinjaman pendidikan, kartu kredit, hingga skema PayLater yang menjebak.

Lebih parah lagi, laporan dari Bank of America Institute (2025) menunjukkan bahwa pengeluaran Gen Z melesat hampir dua kali lipat dari jumlah tabungan mereka. Ironisnya, di saat yang sama, pasar kerja sedang tidak baik-baik saja. Jumlah rumah tangga Gen Z yang menerima tunjangan pengangguran melonjak hampir 32% secara year-over-year pada Februari 2025.

Skenarionya menjadi sangat pelik: lapangan kerja makin sempit, upah mandek, harga barang pokok meroket, namun tuntutan gaya hidup digital terus memakan korban.

Doom Spending dan Jeritan Disillusionomics

Lalu, mengapa generasi yang dompetnya megap-megap ini tetap nekat melakukan pengeluaran konsumtif yang tampak tidak rasional? Mengapa mereka rela menghabiskan uang terakhirnya demi kesenangan sesaat?

Jawabannya adalah doom spending—sebuah mekanisme koping psikologis yang lahir dari keputusasaan. Ketika masa depan finansial dirasa mustahil untuk digapai—seperti menabung untuk membeli rumah atau dana pensiun di tengah harga properti yang gila-gilaan—Gen Z kehilangan insentif untuk menunda gratifikasi.

Logika mereka menjadi: “Untuk apa saya menderita dan berhemat hari ini demi masa depan yang tidak pasti? Lebih baik saya beli kopi mahal dan tiket konser hari ini agar kesehatan mental saya terjaga.”

Ekonom Alice Lassman (2025) memperkenalkan istilah yang sangat tepat untuk fenomena ini: Disillusionomics (ekonomi kekecewaan). Gen Z secara sadar maupun tidak sadar sedang memberontak dan menolak kebijaksanaan finansial konvensional ala orang tua mereka. Mereka sadar betul bahwa aturan main ekonomi lama sudah rusak dan tidak lagi berpihak pada mereka.

Tekanan ini diperparah oleh algoritma media sosial yang agresif. Algoritma ini terus-menerus menyuapi mereka dengan kurasi kehidupan “ideal” orang lain secara konstan, memicu penyakit psikologis akut bernama FOMO (fear of missing out). Akibatnya, konsumsi bukan lagi soal fungsi (utilitarian), melainkan demi gengsi dan status sosial digital. Ini adalah bentuk conspicuous consumption era modern seperti yang pernah diteorikan oleh sosiolog Thorstein Veblen.

Dampak Nyata: Dari Mental Lelah hingga Keluarga Retak

Krisis ini bukan sekadar angka di atas kertas, ia memakan korban jiwa dan emosi. Data dari ARTA Finance (2025) menyebutkan bahwa 30% Gen Z menempatkan masalah finansial sebagai sumber utama stres mereka. Mereka dibayangi kecemasan akut tentang masa depan, ketidakpastian iklim, dan pasar kerja yang kejam.

Dalam laporan kualitatif NSPCC (2024), kita bisa mendengar langsung jeritan hati anak-anak muda ini. Seorang anak berusia 14 tahun berujar dengan pilu:

“Saya terus melihat berita tentang krisis biaya hidup dan itu membuat saya sangat khawatir… saya takut kami tidak akan mampu membayar tagihan, dan kami akan kehilangan rumah. Saya sangat ingin membantu, saya mempertimbangkan untuk berhenti sekolah untuk magang…”

Ketika krisis finansial masuk ke dalam rumah, ia merusak segalanya, termasuk dinamika keluarga. Anak perempuan berusia 15 tahun dalam laporan yang sama menceritakan bagaimana orang tuanya terus-menerus bertengkar hebat karena uang, membuat rumah terasa seperti neraka dan menghambat ruang gerak mereka untuk tumbuh mandiri.

Dampaknya, fenomena kedewasaan yang tertunda (arrested adulthood) menjadi pemandangan massal. Banyak anak muda yang terpaksa tetap tinggal di rumah orang tua karena tidak mampu mandiri secara ekonomi.

Perlawanan Kreatif dan Jalan Keluar

Kendati dihantam badai, Gen Z tidak sepenuhnya menyerah pasrah. Mereka adalah petarung dengan cara mereka sendiri. Mereka “memberontak” melawan sistem ekonomi ini dengan cara mendiversifikasi pendapatan secara ekstrem , mulai dari mengambil pekerjaan sampingan (side hustles), menjadi content creator, freelancer, hingga berinvestasi pada aset digital.

Namun, tentu saja kita tidak bisa membiarkan beban struktural ini melulu dipikul oleh pundak ringkih anak-anak muda sendirian. Narasi usang yang hobi menyalahkan individu—seperti menuduh Gen Z miskin karena “kebanyakan beli kopi susu”—harus segera dihentikan. Ini adalah masalah sistemik, bukan sekadar kelalaian personal.

Kita membutuhkan perubahan radikal yang melibatkan semua lini:

  • Bagi Pembuat Kebijakan: Sudah saatnya pemerintah melahirkan kebijakan ekonomi yang berpihak pada generasi muda. Kita butuh reformasi harga perumahan yang terjangkau, regulasi perlindungan bagi pekerja lepas (gig economy), serta biaya pendidikan tinggi yang tidak mencekik leher.
  • Bagi Institusi Pendidikan & Sektor Swasta: Literasi keuangan yang diajarkan jangan lagi sekadar teori kuno tentang menabung di celengan. Edukasi finansial harus adaptif, holistik, dan diintegrasikan dengan layanan kesehatan mental. Sektor swasta juga wajib menyediakan lingkungan kerja dengan kompensasi yang adil dan manusiawi.
  • Bagi Gen Z Sendiri: Kita perlu membangun kesadaran kritis yang kuat. Kita harus bisa mengerem diri dan menyadari bahwa apa yang tampak indah di Instagram atau TikTok sering kali hanyalah fatamorgana. Jangan biarkan algoritma mendikte harga diri dan kesehatan finansial kita.

Refleksi Akhir

Fenomena “dompet tipis, gaya tetap manis” adalah sebuah refleksi dari zaman yang sedang sakit. Gen Z diproyeksikan akan memegang kekuatan beli global hingga puluhan triliun dolar dalam dua dekade ke depan. Mereka adalah masa depan ekonomi kita.

Menyelamatkan finansial dan kesehatan mental Gen Z bukan lagi sekadar aksi solidaritas moral, melainkan sebuah kebutuhan pragmatis untuk menyelamatkan masa depan bangsa dan peradaban ekonomi global.

Pertanyaan besarnya kini bukan lagi “bagaimana anak muda bisa bertahan di sistem yang kejam ini?”, melainkan “kapan kita akan memperbaiki sistem ini agar ramah bagi masa depan mereka?”

Tentang Penulis,

RATU BILQIS PUTRI PRIATNA

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen S1