Oleh: Abu Shaffa
Kemiskinan di Indonesia saat ini bukan sekadar deretan angka statistik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 mencatat ada 23,85 juta jiwa penduduk miskin. Di atas mereka, terdapat 67,93 juta jiwa lainnya yang berada dalam zona rentan.
Wartapilihan.com, Bogor– Mereka hidup di tepi jurang; satu guncangan ekonomi kecil saja cukup untuk menghempaskan mereka ke jurang kemiskinan yang lebih dalam.
Dampak sosialnya pun mengkhawatirkan. Utang pinjaman online (pinjol) telah menembus angka Rp100,69 triliun, sementara sekitar 80.000 anak di bawah usia 10 tahun tercatat terlibat judi online. Fenomena ini sejatinya adalah jeritan keputusasaan ekonomi. Namun, harus ditegaskan bahwa pinjol dan judi online bukanlah akar masalah, melainkan gejala dari kegagalan sistemik dalam memberdayakan masyarakat. Di tengah kebuntuan ini, sudah saatnya umat kembali menoleh ke institusi yang paling dekat dengan akar rumput: masjid.
Masjid: Pusat Peradaban, Bukan Sekadar Ritual
Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Dr. Adian Husaini, dalam sebuah kajian menegaskan bahwa Islam bukanlah agama ritual semata. “Keberadaan Islam di suatu tempat pastilah mengubah peradaban,” ujarnya. Menurutnya, keunggulan peradaban Islam bersumber dari kokohnya pondasi iman, adab, dan ilmu—elemen fundamental yang mampu membentuk karakter manusia.
Tidak ada institusi yang lebih mencerminkan semangat ini selain masjid. Secara historis, Masjid Nabawi di Madinah membuktikannya. Meski secara fisik hanya dibangun dari tanah liat beratap pelepah kurma, fungsinya amat luas. Merujuk pada kitab-kitab klasik seperti Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Bidayah karya Ibnu Katsir, dan Al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i, Masjid Nabawi menjalankan setidaknya tujuh fungsi peradaban: pusat ibadah, pusat pemerintahan, universitas, tempat penampungan sosial, mahkamah agung, markas militer, hingga rumah sakit darurat.
Memutus Rantai Kemiskinan ala Nabawi
Dalam konteks ekonomi, Masjid Nabawi berperan sebagai lembaga keuangan sosial yang konkret. Ia menyediakan qardh hasan (pinjaman tanpa bunga) untuk memutus rantai riba, fasilitas As-Shuffah sebagai tempat pemberdayaan ekonomi kaum miskin, serta ruang halaqah yang mencetak generasi berilmu dan mandiri.
Sayangnya, kondisi masjid hari ini sering kali berkebalikan. Banyak masjid megah dengan kubah menjulang dan marmer mengkilap, namun “kering” secara fungsi. Kajian keilmuan cenderung seremonial, dan program pengentasan kemiskinan lebih bersifat karikatif—hanya memberi bantuan konsumtif sesaat yang tidak mengubah nasib jangka panjang. Fenomena ini seolah menggenapi peringatan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Abu Dawud tentang manusia yang bermegah-megahan dalam membangun masjid namun tidak memakmurkannya dengan substansi dakwah.
Tiga Langkah Transformasi Masjid
Untuk mengembalikan marwah masjid sebagai solusi ekonomi umat, tiga langkah konkret berikut perlu segera diimplementasikan:
- Sistem Qardh Hasan: Mengelola dana infak dan sedekah sebagai dana bergulir. Ini bukan sekadar amal satu arah, melainkan sistem keuangan sosial berkelanjutan yang mampu menyelamatkan masyarakat dari jerat pinjol berbunga riba.
- Literasi Ekonomi dalam Halaqah: Transformasi isi kajian agar lebih substansial. Halaqah harus mencakup literasi keuangan syariah, bahaya utang, hingga kewaspadaan terhadap judi online. Seperti diingatkan oleh Ir. M. Saleh Widodo, M.Ed., aktivis pemberdayaan dari Pesantren Pertanian Darul Fallah sekaligus dosen IPB, empati sejati lahir dari mereka yang pernah merasakan keterbatasan—bagaikan sosok yang rela “menggulung kain sarung” demi perjuangan nyata.
- Inkubator Usaha Produktif: Masjid perlu bertransformasi menjadi inkubator bisnis bagi mustahik. Zakat produktif jauh lebih utama daripada bantuan konsumtif. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) pernah mengilustrasikan, pengorbanan seorang tukang becak yang berutang demi memberi makan anaknya sering kali jauh lebih dramatis daripada sedekah miliaran rupiah untuk kubah masjid. Pengorbanan inilah yang harus dijawab masjid dengan program pemberdayaan yang presisi.
Menjadikan Masjid sebagai Benteng Umat
Peradaban Islam tegak di atas pilar iman, adab, dan ilmu. Masjid Nabawi membuktikan bahwa kemuliaan tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari kemampuannya menjadi kompas dan solusi atas permasalahan umat.
Di tengah populasi penduduk miskin dan rentan yang mencapai puluhan juta jiwa, masjid tidak boleh lagi menjadi gedung yang hanya dibuka saat waktu salat tiba. Ia harus kembali menjadi benteng ekonomi yang menawarkan ketenangan batin sekaligus jalan keluar konkret bagi mereka yang terjepit kebutuhan. Kembali kepada esensi Masjid Nabawi adalah kembali kepada kesadaran bahwa Islam adalah peradaban abadi, dan masjid adalah jantungnya yang harus terus berdetak untuk kemaslahatan umat.
Wallahu a’lam.

