Oleh: Uus Sugema
Secara kasat mata, pengorbanan sering kali dipandang sebagai sebuah kerugian yang menimpa diri seseorang. Kendati demikian, seseorang umumnya rela berkorban tatkala ia menyadari akan mendapatkan imbalan yang setimpal. Seorang karyawan, misalnya, rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kerja lembur demi mendapatkan upah tambahan. Begitu pula seorang investor yang rela menanamkan hartanya dengan harapan meraih keuntungan berlipat ganda. Namun, tidak jarang manusia harus gigit jari dan frustrasi karena ganti dari pengorbanannya tidak sesuai ekspektasi.
Kepastian Imbalan dalam Pandangan Islam
Dalam pandangan Islam, setiap pengorbanan yang dilakukan seorang muslim secara benar sesuai syariat (muwāfiqan li asy-syar‘i) dan ikhlas karena Allah (lillāhi ta‘ālā) dipastikan akan mendapatkan imbalan yang nyata. Allah SWT telah berjanji bahwa setiap amal kebaikan akan dibalas. Hanya saja, ada ibadah yang balasannya murni di akhirat, seperti salat, saum (puasa), dan ibadah khusus lainnya. Ada pula yang mendapatkan imbalan di dunia sekaligus akhirat, contohnya upah bagi pekerja yang amanah. Ia memperoleh upah dari atasannya di dunia, sekaligus pahala di akhirat. Hal yang sama berlaku bagi profit pedagang yang jujur, hingga kemenangan dalam perjuangan.
Namun, balasan di dunia tidak selalu datang seperti yang kita harapkan. Seorang pedagang yang jujur bisa saja merugi. Karyawan yang baik bisa jadi didzalimi majikannya, atau petani yang giat harus menghadapi kegagalan panen (puso). Bahkan, mubalig yang berani dan ideologis kerap difitnah, dikriminalisasi, hingga dijebloskan ke penjara; sementara para pejuang (mujahidin) dicap sebagai teroris atau radikalis.
Ketika realitas terasa menyesakkan dada, hakikatnya itu adalah ujian keimanan yang telah menjadi ketetapan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
“Kami pasti akan menguji kamu hingga nyata dan terbukti mana yang pejuang dan mana yang sabar di antara kamu.” (TQS. Muhammad: 31).
Menemukan ‘Ismail’ dalam Diri Kita
Jika dilihat dari intensitasnya, tuntutan pengorbanan dalam Islam bertingkat-tingkat, mulai dari hal terkecil hingga yang tertinggi: pengorbanan jiwa. Ujian ini mengingatkan kita pada riwayat Abul Anbiya Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail AS. Kisah kedua nabi ini merupakan simbol pengorbanan terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Nabi Ibrahim AS harus menyembelih anak yang sekian lama dinantikannya, sementara kesediaan Ismail kecil memenuhi perintah tersebut menjadi teladan abadi tentang kerelaan menyerahkan jiwa demi menaati perintah Allah SWT.
Begitu besarnya makna peristiwa ini, hingga Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Hajj” menggambarkan fase Ibrahim di Mina sebagai bentuk kepasrahan mutlak. Ia menulis:
“Dahulu Ibrahim membawa puteranya Ismail untuk dikorbankan di tempat ini , dan engkau… siapakah atau apakah yang menjadi ‘Ismail’mu? Jabatan, kedudukan, kehormatan, profesi, uang, rumah, ladang pertanian, ataukah keluarga dan kelas sosialmu? Engkau sendirilah yang mengetahuinya! Tetapi apa dan siapa pun ‘Ismail’mu itu, bawalah ia dan korbankanlah ia di tempat ini.”
Ali Syariati memberikan petunjuk tajam: ‘Ismail’ kita adalah segala sesuatu yang melemahkan iman, menghalangi perjalanan dakwah, membuat kita enggan memikul tanggung jawab, atau membuat kita egois hingga tuli terhadap perintah Allah SWT.
Hakikat Pengorbanan: Transaksi Bernilai Tinggi
Seorang muslim yang berkorban sesungguhnya menempatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai prioritas utama dan pertama dalam hidupnya. Ia rela mengorbankan hal-hal lain di bawah prioritas tersebut, bahkan meski harus menghadapi kebencian atau dimusuhi oleh manusia. Keikhlasan semata mencari keridaan Allah inilah kunci utama pengorbanan, sebagaimana firman-Nya:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambanya.” (TQS. Al-Baqarah: 207).
Pada hakikatnya, orang yang berkorban di jalan Allah tidak sedang merugi, melainkan sedang menukarkan apa yang dimilikinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Ia menukar harta dan kesenangan dunia yang sementara dengan kenikmatan abadi di akhirat. Oleh karena itu, Allah SWT menawarkan pengorbanan ini dalam bentuk “perniagaan” (tukar-menukar) yang mendatangkan keuntungan terbesar bagi manusia:
“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya.” (TQS. Ash-Shaff: 10-11).
Suri Teladan para Pendahulu
Sejarah Islam telah mencatat bagaimana hakikat pengorbanan ini dijiwai secara sempurna oleh generasi pendahulu. Kita melihat keteguhan Bunda Masyitoh yang rela menerima siksaan Firaun demi mempertahankan keimanannya hingga syahid. Kita juga mengingat bagaimana Rasulullah ﷺ bersama para sahabat diisolasi secara sosial dan ekonomi di Syi’ib (lembah) Abi Thalib selama tiga tahun. Begitu hebatnya boikot tersebut, hingga tangisan bayi-bayi kelaparan menyayat hati karena air susu ibu mereka telah mengering.
Ada pula Bilal bin Rabah yang dadanya ditindih batu besar di bawah terik matahari gurun, namun tetap teguh menyerukan, “Ahad… Ahad…”. Serta Ammar bin Yasir yang dipaksa menyaksikan pembantaian biadab kedua orang tuanya sebelum ia sendiri disiksa dengan keji. Bagi mereka, surga adalah anugerah yang sangat pantas. Mereka rida kepada Allah, dan Allah pun rida kepada mereka.
Refleksi untuk Kita
Bagaimana dengan kita saat ini?
Sebagai penutup, fastabiqul khairāt li i‘lâ’i kalimatillāh. Mari persembahkan seluruh daya dan pengorbanan terbaik kita. Relakan ‘Ismail-Ismail’ pribadi kita demi kemuliaan Islam dan kebangkitan kaum muslimin. Mari songsong kembali tegaknya syariah Islam secara kaffah (minhāj an-nubuwwah) yang akan menebarkan keadilan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi seluruh umat manusia.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

