Oleh: Abu Shaffa
Bayangkan sebuah skenario di mana para sahabat Nabi memilih untuk bersikap egois. Menetap dengan nyaman di Madinah, menikmati ketenangan ibadah yang pahalanya dilipatgandakan, lalu enggan melangkah keluar melintasi batas gurun demi menyebarkan risalah.
Wartapilihan.com, Jakarta–Jika egoisme spiritual itu terjadi ratusan tahun lalu, bisa dipastikan cahaya Islam tidak akan pernah sampai ke wilayah Nusantara hari ini.
Secara teologis, tidak ada tempat yang lebih mulia setelah Makkah selain Madinah Al-Munawwarah. Kota ini adalah episentrum tempat bernaungnya Rasulullah ﷺ, wilayah turunnya wahyu, dan ruang di mana para sahabat belajar langsung dari manusia terbaik sepanjang zaman. Di kota itu pula berdiri Masjid Nabawi—sebuah tempat suci di mana nilai ibadah shalat di dalamnya dilipatgandakan secara luar biasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Shalat di masjidku lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad).
Secara logika matematis pahala, bonus melimpah tersebut tentu sudah lebih dari cukup menjadi alasan bagi para sahabat untuk menetap selamanya di Madinah. Namun, lembaran sejarah justru mencatat fenomena yang paradoks: mayoritas sahabat justru memilih pergi meninggalkan kenyamanan dan suasana ibadah terbaik tersebut. Mereka bergerak menembus kerasnya geografis dunia bukan karena urusan duniawi, melainkan karena sebuah kesadaran fundamental: agama ini harus disampaikan kepada umat manusia.
Pergeseran Paradoks Kesalehan
Hari ini, kita menyaksikan sebuah pergeseran paradigma di mana ukuran kesalehan sering kali direduksi menjadi sesuatu yang sangat personal. Ruang lingkup kebaikan kerap dibatasi pada kesalehan ritual (ibadah mahdhah) semata. Padahal, jika kita merefleksikan kembali sirah nabawiyah, kesalehan sejati tidak pernah egois. Ia selalu bergerak aktif, inklusif, dan berdampak sosial.
Rasulullah ﷺ adalah figur terbaik dalam mencontohkan keseimbangan ini. Beliau mampu hidup mewah jika beliau menghendaki, tetapi teladan yang beliau tunjukkan justru sebaliknya. Fokus utama yang beliau bangun dan investasikan secara besar-besaran bukanlah kemewahan materi, melainkan kualitas manusia.
Dari Masjid Nabawi yang dibangun dengan arsitektur sangat sederhana—berlantai tanah dan beratap pelepah kurma—lahirlah generasi emas yang berhasil menerangi peradaban dunia. Ini menjadi bukti otentik bahwa kekuatan Islam tidak pernah bertumpu pada kemegahan infrastruktur bangunan fisik, melainkan pada kualitas peradaban manusia yang dibina langsung oleh wahyu dan kemuliaan akhlak.
Kaidah Fikih Dampak Sosial
Warisan terbesar yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ bukanlah tumpukan harta atau kemewahan material, melainkan fondasi dakwah, akhlakul karimah, ilmu, pengorbanan, dan kepedulian yang mendalam terhadap nasib umat. Jika para sahabat di masa lalu memilih untuk fokus pada ibadah sendiri dan enggan melangkah keluar untuk berdakwah, mungkin hari ini kita tidak akan pernah mengenal Islam. Sebab, Islam sampai ke pangkuan kita melalui darah, keringat, dan pengorbanan manusia-manusia yang rela memikirkan masa depan umat.
Dalam diskursus fikih, para ulama telah merumuskan sebuah kaidah yang sangat relevan dengan fenomena sosial ini:
العِبَادَةُ المُتَعَدِّيَةُ أَفْضَلُ مِنَ العِبَادَةِ القَاصِرَةِ
“Ibadah atau kebaikan yang dampaknya meluas lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya terbatas pada pelakunya saja.”.
Tentu saja, poin ini tidak bertujuan untuk mengecilkan arti penting ibadah personal. Ibadah mahdhah tetaplah menjadi pondasi dan jangkar spiritual spiritual yang sangat krusial bagi setiap Muslim. Namun, ibadah tersebut jangan sampai membuat kita menutup mata, menjadi tidak peduli, lalu melarikan diri dari amanah dakwah dan tanggung jawab akhlak kepada lingkungan sekitar. Rasulullah ﷺ tidak hanya mencetak ahli ibadah yang mengisolasi diri, melainkan membangun manusia yang siap bergerak menjadi rahmat bagi sekitarnya.
Hari ini, generasi Muslim dapat menikmati indahnya Islam karena ada generasi terdahulu yang rela melepaskan zona nyaman mereka demi menyelamatkan umat. Mereka menolak hidup egois hanya untuk memikirkan keselamatan diri sendiri. Maka, menjadi sebuah ironi yang besar jika kita hari ini tumbuh menjadi generasi yang gemar menikmati hasil dakwah, namun enggan dan malas untuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah tersebut.
Di tengah modernitas ini, rasa takzim dan penghormatan setinggi-tingginya patut disematkan kepada para da’i pedalaman. Merekalah para penerus sejati misi para sahabat; menempuh jalan sunyi, menerobos keterbatasan, demi menjaga agar cahaya Islam tetap menyala di hati umat.
Wallahu a’lam.

