Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia—mencapai 240 juta jiwa dari total 280 juta penduduk—Indonesia memegang tanggung jawab besar dalam kancah internasional.
Wartapilihan.com, Depok– Namun, dalam sebuah kuliah umum yang mendalam, Dr. Adian Husaini, Pendiri Pesantren At-Taqwa Depok, mengingatkan bahwa posisi tawar umat Islam saat ini belum cukup kuat. Kuncinya, menurut beliau, terletak pada revolusi pendidikan yang mampu melahirkan sosok “Mujahid” di berbagai bidang profesional.
Menyiapkan Pemimpin Indonesia 2045: Fenomena “Sekolah Garuda”
Menjelang visi Indonesia Emas 2045, Dr. Adian menyoroti langkah strategis pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto yang mulai menyiapkan calon pemimpin 20 tahun mendatang. Salah satu instrumennya adalah pengembangan “Sekolah Garuda”, sekolah tingkat SMA unggulan (seperti Taruna Nusantara atau Insan Cendekia) yang dirancang untuk mencetak kader pemimpin masa depan.
Namun, Dr. Adian menekankan bahwa menjadi pintar dan kuat saja tidak cukup. Beliau memberikan kritik terhadap sistem pendidikan modern yang seringkali melahirkan manusia-manusia individualis dan kejam karena kehilangan ruh spiritual. Beliau membandingkan produk pendidikan Barat yang sering kali tidak peduli pada kemanusiaan dengan visi pendidikan Islam yang seharusnya menjadi rahmatan lil alamin.
Melahirkan “Dokter Mujahid”: Lebih dari Sekadar Gelar Kedokteran
Salah satu poin paling menarik dalam paparan Dr. Adian adalah perlunya mencetak tenaga medis yang memiliki semangat juang atau dokter mujahid. Beliau mengungkap fakta lapangan bahwa mahasiswa kedokteran yang paling cerdas seringkali hanya menggunakan sekitar 30% dari kapasitas intelektual mereka untuk kurikulum teknis kedokteran.
“Sisa” kapasitas intelektual yang luar biasa ini, menurut Dr. Adian, harus diisi dengan pemahaman agama yang mendalam agar ilmu sains mereka memiliki arah. Beliau mencontohkan seorang mahasiswi S3 spesialis kandungan di Medan yang melakukan riset empiris untuk membuktikan bahwa gerakan salat yang benar secara fisik dan khusyuk secara spiritual jauh lebih efektif memudahkan proses persalinan dibandingkan senam kehamilan biasa. Inilah bukti nyata integrasi sains dan syariat.
Riset Interdisipliner: Bukti Empiris Hikmah Syariat
Integrasi ilmu bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah menjadi tren riset akademis serius. Beberapa riset yang disinggung antara lain:
- Kesehatan dan Al-Qur’an: Bagaimana pelafalan makharijul huruf yang benar berpengaruh langsung pada kesehatan tenggorokan.
- Imunitas dan Pangan: Studi empiris mengenai konsumsi tempe kedelai hitam dalam meningkatkan sistem imun.
- Sains Tahajud: Riset yang membuktikan korelasi antara rutinitas salat tahajud dengan ketahanan fisik manusia.
Dr. Adian menegaskan bahwa pemisahan (sekularisasi) antara ilmu dunia dan ilmu agama adalah kekeliruan besar. “Pendidikan tinggi harus memberikan wawasan luas. Jika seseorang cerdas dan tekun, ia bisa menguasai bidang apa pun,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa kesuksesan tidak melulu ditentukan oleh linieritas jurusan kuliah.
Belajar dari Sejarah: STI dan Toleransi Yerusalem
Dalam ulasan sejarahnya, Dr. Adian mengajak audiens kembali ke 8 Juli 1945, saat Sekolah Tinggi Islam (STI) didirikan sebagai universitas pertama milik bangsa. Visi Hatta dan Natsir saat itu jelas: kemerdekaan Indonesia harus ditopang oleh intelektual yang berakar pada nilai agama.
Beliau juga memberikan kontras tajam dengan sejarah Yerusalem. Di bawah kepemimpinan Islam selama lebih dari 1.000 tahun, kota tersebut menjadi rumah yang aman bagi Yahudi dan Kristen tanpa adanya persekusi. Hal ini berbeda jauh dengan catatan sejarah saat Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Eropa tahun 1099 yang diwarnai pembantaian, atau situasi kekejaman zionis saat ini. “Ini adalah masalah produk pendidikan. Manusia pintar tanpa moral akan menjadi penghancur,” tegasnya.
Konsep Rezeki: Kewajiban Syariat dan Jaminan Tuhan
Menutup kuliahnya, Dr. Adian mengulas konsep rezeki dalam Islam melalui kacamata Kitab Hikam. Beliau menjelaskan dua jalur rezeki:
- Jalur Kasbi (Usaha): Bekerja adalah bentuk ketaatan pada syariat yang wajib dilakukan, namun bukan berarti kerja adalah penyebab mutlak datangnya rezeki.
- Jalur Tajri (Jaminan Allah): Rezeki yang datang sebagai karunia langsung, terutama bagi mereka yang bersungguh-sungguh menolong agama Allah (intansurullah yan surkum).
Pesan pamungkasnya bagi generasi muda adalah: niatkan mencari ilmu untuk membela dan menegakkan agama Allah. Dengan niat tersebut, keberkahan hidup dan rezeki akan mengikuti dengan sendirinya, sejalan dengan peran mereka sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia. [AF]
Disarikan dari Podcast Dr. Adian Husaini: https://www.youtube.com/live/hS8BsSjrNnk?si=L47zyAl6s-E79ITp

