Di tengah keriuhan Pasar Baghdad yang legendaris, sebuah perdebatan teologis yang dibungkus dengan logika sosial meletus. Masalahnya klasik namun tajam: Apakah kurban sapi secara patungan oleh tujuh orang akan menyulitkan mereka di akhirat kelak karena harus saling menunggu dalam antrean hisab?
Wartapilihan.com, Baghdad— Narasi ini disebarkan oleh kelompok orang kaya yang memandang ibadah sebagai ajang eksklusivitas. Namun, bukan Abu Nawas namanya jika ia tidak bisa meruntuhkan menara kesombongan tersebut dengan logika yang membumi.
Narasi Ketakutan di Tengah Pasar
Kisah bermula saat Baghdad menjadi pusat semesta dengan hiruk-pikuk perdagangannya. Di satu sudut, Pak Samad, seorang buruh angkut yang telah menabung setahun penuh, menyerahkan koin tembaganya untuk ikut serta dalam kurban sapi patungan bersama enam tetangganya. Sebuah niat mulia yang justru menjadi sasaran empuk bagi Tuan Malik, seorang saudagar kaya yang gemar memamerkan kesalehan lewat harta.
Tuan Malik melontarkan teori yang meresahkan: “Jika satu sapi untuk tujuh orang, nasib kalian di akhirat akan terikat satu paket. Jika salah satu pendosa, enam lainnya harus menunggu di pintu surga sampai urusan si pendosa selesai. Bukankah itu sangat merugikan?” Logika sesat ini seketika menyebar, menciptakan keraguan di hati warga miskin yang tadinya bersemangat menjalankan syariat.
Intervensi Abu Nawas: Menghalau Delusi dengan Logika Kafilah
Abu Nawas, yang kebetulan lewat setelah membeli buah tin, menangkap aroma kesombongan yang dibungkus dalil. Ia tidak merespons dengan amarah, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Baginya, kesombongan dalam beribadah adalah racun yang lebih berbahaya daripada fitnah mana pun.
Dalam sebuah konfrontasi terbuka, Abu Nawas menantang analogi “kapal bocor” yang diajukan Tuan Malik. Abu Nawas menawarkan analogi yang lebih relevan bagi masyarakat Baghdad: Kafilah Dagang.
“Bayangkan tujuh pedagang patungan menyewa satu unta untuk membawa barang ke Damaskus,” ujar Abu Nawas. “Saat di gerbang kota, apakah penjaga akan memenjarakan ketujuh orang jika hanya satu orang yang membawa barang selundupan? Tentu tidak. Untanya memang satu, tapi paket dagangannya masing-masing dan tanggung jawabnya pun masing-masing.”
Analogi ini mematahkan argumen Malik secara telak. Sapi kurban hanyalah kendaraan fisik (syariat), sementara niat dan ketakwaan adalah muatan personal (hakikat) yang dibawa masing-masing orang di hadapan Sang Pencipta.
Keadilan Tuhan Bukan Kontrak Bisnis
Lebih lanjut, Abu Nawas menekankan esensi keadilan Ilahi melalui rujukan Al-Qur’an (Surah Al-An’am: 164), yang menegaskan bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Ia mengkritik cara berpikir Malik yang menganggap ibadah seperti kontrak dagang kolektif.
“Ibadah itu niat. Jika si A tulus karena Allah dan si B pamer (Riya), apakah si A menanggung dosa si B? Tidak. Allah menilai takwa, bukan nominal atau apakah sapinya milik sendiri atau patungan,” tegas Abu Nawas. Ia menunjukkan bahwa sistem patungan (ruksah) justru adalah kemudahan yang diberikan syariat, bukan jebakan maut di akhirat.
Runtuhnya Eksklusivitas Surga
Pukulan terakhir Abu Nawas menyasar langsung ke akar kesombongan Malik. Ia membongkar bahwa ketakutan Malik sebenarnya bukan pada antrean akhirat, melainkan pada ketakutan jika surga tidak lagi menjadi tempat eksklusif bagi orang kaya. Malik merasa terancam jika orang miskin dengan ketulusan yang murni bisa mendapatkan rida Allah yang sama dengan dirinya yang berkurban secara mewah.
Skakmat ini membuat Tuan Malik terdiam dan pergi meninggalkan pasar dengan kepala tertunduk. Keangkuhannya runtuh bukan karena kurang harta, tapi karena kehilangan hikmah.
Rehabilitasi Martabat di Pasar Baghdad
Setelah debat tersebut, suasana pasar berubah. Pak Samad dan warga miskin lainnya tidak lagi merasa terhina atau ragu. Mereka kini memahami bahwa Tuhan yang mereka sembah jauh lebih adil dan penyayang daripada sekadar sistem antrean yang dikarang oleh manusia sombong.
Abu Nawas menutup hari itu dengan sebuah refleksi mendalam: Ibadah adalah percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya. Jangan biarkan kesombongan atau logika yang sempit merusak kemurnian hubungan tersebut. Kemenangan sesungguhnya hari itu bukanlah dalam debat, melainkan dalam kembalinya ketenangan hati orang banyak untuk menjalankan perintah agama dengan penuh keikhlasan.
Melalui kisah ini, Baghdad belajar bahwa kecerdasan sejati adalah pelita untuk membimbing mereka yang ragu, bukan alat untuk menindas iman orang lain. Kesalehan tidak diukur dari jubah sutra, melainkan dari hati yang bersih dari rasa iri dan sombong. [AF]

