Gaji Tinggi Bukan Jaminan: Membedah Alasan Gen Z Mudah ‘Resign’

by

Oleh: Laura Herfa Bachtiar

Stereotipe mengenai “anak zaman sekarang” yang sulit diatur seringkali muncul ke permukaan. Perbedaan gaya bicara, pola pikir, hingga tujuan hidup membuat Generasi Z (kelahiran 1997-2012) terlihat kontras dibandingkan pendahulunya.

Sebagai generasi yang tumbuh besar bersama teknologi internet sejak dini, Gen Z membawa nilai baru ke dalam dunia kerja yang seringkali berbenturan dengan manajemen tradisional.

Kenyamanan di Atas Nominal

Berbeda dengan Milenial yang cenderung bertahan demi menjaga nilai dan prinsip yang mereka pegang, Gen Z jauh lebih pragmatis. Bagi mereka, aspek kepraktisan dan kenyamanan lingkungan kerja adalah harga mati. Jangan heran jika banyak talenta muda yang memilih mengundurkan diri meski perusahaan menawarkan gaji tinggi, apabila aspek kesejahteraan mental mereka terganggu.

Data dari Deloitte (2025) merangkum empat faktor kunci yang menentukan betahnya seorang Gen Z di sebuah perusahaan:

  1. Makna dalam Pekerjaan: Mereka tidak ingin sekadar datang dan absen. Pekerjaan harus memberikan dampak nyata dan memiliki arti yang besar.
  2. Fleksibilitas Kerja: Kebijakan hybrid atau Work From Anywhere (WFA) menjadi primadona. Gen Z lebih menghargai kontrol atas durasi dan lokasi kerja ketimbang jam kantor yang kaku.
  3. Pengembangan Diri Berkelanjutan: Evaluasi tahunan dianggap usang. Mereka membutuhkan umpan balik (feedback) berkala dan jujur untuk mengukur kompetensi secara nyata.
  4. Kepemimpinan Inklusif: Lingkungan yang menghargai identitas dan pendapat tanpa diskriminasi adalah tempat di mana mereka merasa diterima.

Kesehatan Mental: Prioritas Baru

Bagi Generasi Z, kesehatan mental bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan dasar. Mereka tidak ragu meninggalkan jenjang karier yang mapan jika hal tersebut dianggap mengancam keseimbangan hidup mereka (work-life balance).

Prinsip mereka jelas: lebih baik menyelamatkan kesehatan mental daripada terjebak dalam tekanan yang berujung stres berkepanjangan. Jam kerja yang manusiawi dan komunikasi yang transparan berbasis kepercayaan menjadi fondasi utama dalam membangun kerja sama yang efektif.

Kesimpulan

Era “gaji besar tutup mulut” telah berakhir. Perusahaan kini dituntut untuk menyesuaikan strategi Sumber Daya Manusia (SDM) agar tetap relevan. Pada akhirnya, tempat kerja ideal bagi Gen Z bukanlah yang memberikan slip gaji paling tebal, melainkan ekosistem yang paling mendukung mereka untuk bertumbuh dan tetap sehat secara mental.