Membela Iran: Dilema Akidah atau Kewajiban Geopolitik bagi Umat Islam?

by

Dunia Islam saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang sangat rumit. Eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan poros Amerika Serikat-Israel melawan Republik Islam Iran telah memicu perdebatan panas di meja-meja diskusi hingga media sosial. Pertanyaan besarnya: Haruskah umat Islam yang mayoritas Sunni membela Iran yang berideologi Syiah?

Wartapilihan.com, Jakarta– Ketegangan ini mencapai puncaknya pada Maret 2026, menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan udara gabungan. Peristiwa ini bukan sekadar urusan militer, melainkan ujian bagi kedewasaan politik dan keteguhan akidah umat Islam secara global.

Dilema “Luka Lama” dan Perbedaan Syariat

Bagi banyak kalangan Sunni, dukungan terhadap Iran tidak pernah menjadi urusan sederhana. Ada tembok besar bernama perbedaan teologis dan memori kolektif sejarah. Dalam perspektif Sunni, perbedaan syariat seperti praktik nikah mut’ah hingga perbedaan otoritas Imamah merupakan ganjalan mendasar yang sulit dikompromikan.

Tak hanya itu, memori sejarah mengenai jatuhnya Baghdad pada 1258 M ke tangan Mongol sering kali diungkit kembali. Narasi mengenai peran tokoh Syiah seperti Ibn al-Alqami yang dianggap berkhianat terhadap kekhilafahan Sunni menjadi alasan bagi sebagian umat untuk tetap menaruh curiga pada setiap langkah politik Iran. Luka ini semakin menganga melihat intervensi militer Iran di Suriah dan Yaman dalam dekade terakhir yang dinilai merugikan populasi Sunni.

Memisahkan Akidah dari Muamalah Politik

Meski demikian, para otoritas keagamaan mulai menyuarakan pendekatan yang lebih jernih. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas mengimbau umat untuk membedakan antara ranah akidah dan ranah muamalah politik internasional. Dalam pernyataan resminya pada Maret 2026, MUI mengutuk serangan Israel dan mendukung hak bela diri Iran sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan melawan ketidakadilan global.

Prinsipnya jelas: membela Iran melawan agresi Israel bukan berarti menyetujui seluruh doktrin teologi Syiah. Ini adalah persoalan membela kedaulatan sebuah negara Muslim dan melawan penindasan yang juga berdampak langsung pada perjuangan kemerdekaan Palestina.

Poros Perlawanan dan Realitas di Gaza

Salah satu alasan kuat mengapa dukungan terhadap Iran tetap mengalir adalah peran strategis Teheran dalam “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance). Saat ini, kelompok Sunni seperti Hamas di Gaza sangat bergantung pada dukungan logistik dan militer dari Iran untuk menghadapi pendudukan Israel.

Bagi Hamas, aliansi lintas mazhab ini adalah sebuah keniscayaan karena banyak negara Sunni lainnya terjebak dalam diplomasi yang pasif. Di sini, batas-batas mazhab meleleh demi satu tujuan: pembebasan Al-Quds. Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, bahkan mengusulkan istilah “Ahlul Qiblat” untuk menyatukan seluruh umat Islam tanpa harus saling mengkafirkan, terutama saat menghadapi ancaman eksistensial dari luar.

Dampak Nyata: Dari Selat Hormuz ke Dapur Kita

Jika perang ini terus meluas, dampaknya bukan hanya soal ideologi, tapi juga ekonomi. Selat Hormuz, yang merupakan jalur logistik minyak paling kritis di dunia, terancam ditutup. Gangguan di wilayah ini bisa memangkas 20 persen pasokan minyak global atau setara 20,1 juta barel per hari.

Bagi Indonesia, ini adalah ancaman serius. Sekitar 19 persen kebutuhan minyak nasional kita bergantung pada pasokan yang melewati jalur tersebut. Kenaikan harga energi akan memicu inflasi dan mengganggu ketahanan pangan nasional. Inilah mengapa pemerintah Indonesia, melalui Menteri ESDM, terus melakukan mitigasi untuk mencari sumber energi alternatif agar dapur masyarakat tetap mengepul.

Kesimpulan: Menuju Solidaritas yang Matang

Umat Islam tidak perlu memberikan dukungan buta, namun juga tidak boleh terjebak dalam kebencian yang memecah belah. Fragmentasi sektarian hanya akan melemahkan posisi tawar dunia Islam di forum internasional dan memudahkan strategi adu domba.

Menghadapi krisis 2024-2026 ini, kuncinya adalah proporsionalitas. Menjaga akidah Sunni adalah kewajiban, namun membela keadilan dan kemanusiaan adalah perintah agama yang tak kalah pentingnya. Seperti yang sering diingatkan oleh para ulama moderat, musuh bersama umat saat ini bukanlah perbedaan mazhab, melainkan imperialisme dan ketidakadilan global yang mengancam kedaulatan seluruh negara Muslim. [AF]