Baru saja duduk rapi. HP di tangan, pekerjaan menumpuk. Layar terang, notifikasi berdenting. Fokus penuh. Lalu… dada berdegup aneh. Kepala sedikit berat. Saat alat tensi dipasang: 162. Kaget? Wajar. Panik? Jangan dulu.
Wartapilihan.com, Bogor– Zaman sekarang, kita sering merasa tidak stress, padahal tubuh berkata sebaliknya. Konsentrasi tinggi, terutama saat bekerja lewat HP, memicu tubuh masuk mode siaga.
Simpatik aktif, jantung berdetak cepat, pembuluh darah menyempit. Seolah ada bahaya, padahal kita cuma sedang membalas email atau merapikan dokumen digital.
Sains menyebut ini respons “fight or flight”.
Bukan cuma teori. Studi dari Treiber dkk. membuktikan bahwa stres psikologis sesaat bisa menaikkan tekanan darah secara signifikan, bahkan pada orang sehat. Apalagi bila disertai postur buruk, napas pendek, atau terlalu banyak kafein.
Masalahnya, kita sering tak sadar tubuh sedang kelelahan. Kita anggap wajar leher tegang, mata perih, jantung berdebar. Kita lupa: tubuh juga manusia, perlu rehat, perlu ruang. Kalau tensi melonjak tiba-tiba, duduklah tenang. Tarik napas dalam. Ukur ulang setelah sepuluh menit. Bila tetap tinggi, apalagi disertai sakit kepala hebat, nyeri dada, atau pandangan kabur—jangan tunda, segera periksa.
Tapi jika hanya sesaat, anggap itu pesan kecil dari tubuh: “Berhentilah sebentar.” Mungkin bukan kerja yang salah, tapi cara kita menjalaninya. Terlalu menunduk. Terlalu cepat. Terlalu lama diam.
Kesehatan bukan hanya soal makan sayur dan lari pagi. Ia juga soal menyadari kapan harus berhenti. Bahkan layar HP pun bisa jadi tekanan, kalau kita tak tahu kapan harus menatap langit.
—
Referensi singkat:
Treiber FA, et al. Psychosomatic Med. 2003;
Chobanian AV, et al. JAMA. 2003.
Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)

