Saat Dunia Pamer, Kita Belajar Mengikhlas

by

Kini kita hidup di zaman yang lucu. Orang belanja kadang bukan karena butuh, tapi karena diskon. Makan bukan supaya kenyang, tapi supaya bisa difoto. Hidup jadi panggung, bukan perjalanan. Kalau tidak hati-hati, kita bisa ikut-ikutan berpura-pura mampu hanya demi dianggap cukup.

Wartapilihan.co, Bogor– Kapitalisme modern memang pintar. Ia tidak menjual barang, tapi rasa ingin. Kita diminta bahagia, tapi pakai syarat: harus punya ini, harus tampil begitu. Maka muncul gaya hidup yang katanya sadar finansial: frugal living, minimalism, slow living. Tapi seringkali, itu bukan kesadaran. Itu keterpaksaan yang diberi nama keren.

Padahal, orang tua kita dulu sudah melakukannya tanpa istilah asing. Mereka menyebutnya nrimo, tepa selira, dan cukup. Tidak hidup mewah, tapi juga tidak kekurangan. Kalau ingin sayur, tinggal petik di kebun. Kalau sabun habis, bisa bikin sendiri. Hidup mandiri bukan dari iklan, tapi dari nilai.

Idula dha, datang sebagai pengingat sunyi. Tentang memberi tanpa nama. Tentang kurban yang dilakukan bukan karena kamera, tapi karena keyakinan. Ibrahim tidak mengajak wartawan saat hendak menyembelih. Ismail tidak membuat testimoni. Semuanya berlangsung dalam diam. Dalam percaya. Dalam rela.

Tapi kita hari ini, baru menyumbang satu kambing, sudah cetak spanduk dan unggah reels. Baik, itu bagus. Tapi diam-diam bisa jadi baik, kadang lebih mulia.

Di tengah dunia yang suka pamer, ikhlas jadi barang langka. Padahal, justru di situlah letak kekuatan kita: bukan pada apa yang bisa dibeli, tapi apa yang bisa dilepaskan.

Asketik bukan hidup melarat. Tapi hidup tanpa diperintah oleh keinginan. Mandiri bukan soal gengsi, tapi soal harga diri: bahwa kita bisa memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa harus selalu tunduk pada produk luar.

Karena kalau terus-terusan jadi pasar, kita tak akan pernah punya panggung. Hidup kita akan ditentukan siapa yang menjual paling pintar.

Kalau kita kembali ke nilai yang diajarkan di dapur nenek, di surau tua, dan di ladang kecil di belakang rumah maka kita tak perlu takut dilupakan zaman.

Kita tak sedang mengejar kemewahan. Kita sedang menjaga martabat.

Dan kadang, itu cukup.🙏🙏

Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)