“Ingat, kekuasaan adalah amanat, kekuasaan akan datang dan pergi. Yang penting jangan sampai kita kehilangan kehormatan dan kecintaan dari rakyat,” ujar Prabowo.
Wartapilihan.com, Jakarta — Ribuan umat Islam sejak Subuh memadati area GOR Soemantri Brodjonegoro. Selain melaksanakan Subuh berjamaah, dalam kegiatan tersebut juga diadakan Tabligh Akbar dan deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo Sandi (Koppasandi).
Tiba sekitar pukul 09.30, mengenakan safari coklat, Prabowo menyapa seluruh ulama, tokoh, masyarakat tak terkecuali emak-emak. Menurut dia, emak-emak merupakan kaum hawa yang paling merasakan kesulitan ekonomi saat ini.
“Saya bangga emak-emak ini paling depan menyuarakan aspirasinya dan gigih dalam memerjuangkan kesejahteraan masyarakat. Tapi, anehnya sekarang istilah emak-emak dilarang. Padahal, istilah itu bukan kami yang buat,” ungkap Prabowo mengawali pidatonya.
Sepulang dari Kabupaten Jawa Tengah dan Jawa Timur, ia melihat langsung kondisi masyarakat di pelosok daerah berada dalam kondisi ekonomi yang sangat mengkhawatirkan. Dengan harapan dan kepercayaan kepada Prabowo-Sandi, masyarakat di daerah memberikan simbol dua jari (nomor urut 02) agar kedua Paslon tersebut menjadi Presiden RI 2019-2024.
“Saya merasa mendapatkan dukungan besar. Saya tegaskan, saya maju bersama Sandiaga bukan haus kekuasaan, ambisi dan haus jabatan. Allah telah banyak memberikan kenikmatan kepada diri saya. Sebagai prajurit muda, saya berdoa agar Allah menjaga bangsa Indonesia,” ujar Prabowo.
“Kalau harta hanya untuk kekuasaan, saya kira itu juga tidak berarti dalam kehidupan. Karena kita tahu. semua agama dan semua pemuka agama yakin, setiap manusia akan dipanggil. Di saat muda, saya sering merasakan dekat dengan kematian,” sambungnya.
Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Prabowo menuturkan bahwa keadaan Indonesia sedang tidak sehat. Maka itu, ia menyampaikan agar rakyat menjalankan kewajiban masing-masing dengan penuh kecintaan, ketulusan dan tidak tergopoh-gopoh.
“Saya lihat dimana-mana, rakyat paling bawah sudah mengerti bahwa keadaan sekarang sangat sulit. Ekonomi sebagai salah satu tonggak kehidupan tidak dikuasai oleh bangsa sendiri. Ekonomi kita hanya menguntungkan segelintir orang saja,” jelasnya.
Ia menuturkan ketika ke Semarang Jawa Tengah, ada sebuah Rumah Sakit yang mengeluhkan kepada dirinya bahwa pemerintah menunggak puluhan miliar. Termasuk di Kebumen dan Klaten, para petani sangat kesusahan. Ditambah impor dari Thailand dan Vietnam dengan harga yang sangat murah.
“Pak Prabowo, selama 30 tahun belum pernah keadaan seperti sekarang,” tutur Prabowo menirukan keluhan pimpinan RS tersebut.
“Jadi, mereka sangat sedih. Negara kita dalam keadaan sakit, bangsa kita tidak punya harga diri dan martabat lagi. Setiap lapisan (birokrasi) hampir bisa dibeli dan disogok. Bagaimana mau dua periode kalau Rumah Sakit saja nunggak puluhan miliar,” imbuhnya.
Mantan Danjen Kopassus itu menegaskan bahwa dirinya dengan Sandiaga hanyalah alat. Apabila didukung secara luas oleh seluruh lapisan yang cinta bangsa Indonesia, ia akan berjuang untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi dan kedaulatan politik.
“Saya sudah mempertahankan nyawa saya untuk NKRI. Jangan hanya teriak-teriak sambil tepuk dada saya paling Pancasilais, tapi lakukan lima butir silanya,” tegas Prabowo seraya menyebutkan kelima nilai Pancasila.
Ia mengatakan, jika bangsa Indonesia ingin selamat, maka segera lakukan perubahan. Sebagai alat rakyat, ia mengerti bahwa tugasnya adalah menjalankan amanat dengan sebaik-baiknya.
“Tugas kami menghilangkan kemiskinan dari bangsa Indonesia dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tugas kedua ini sangat berat. Saya bersaksi disini, saya akan membuat Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak perlu import apa-apa. Kita mampu swasembada pangan, energi, bahan bakar. Kita tidak perlu mengirim 30 miliar dolar tiap tahun hanya untuk membayar energi,” katanya.
Oleh karenanya, ia meyakinkan siapa saja rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan, maka dia berada di jalan yang benar. Prabowo menganalogikan seperti sebuah badan, ketika sakit ada yang datang ke dokter dan berusaha memperbaiki. Namun, ada juga pasien yang setelah di diagnosa, justru memarahi dokter dan ingin merubah hasil uji laboratorium.
“Saya sudah mengingatkan belasan tahun lalu. Rasio gini, stunting dan ekonomi kita sudah warning (tanda). Bangsa yang kekayaannya mengalir ke luar negeri bukan bangsa yang merdeka. Pekerjaan kita berat. Kalau kami menerima amanah, saya yakin tidak semuanya akan selesai. Tapi saya janji kita akan swasembada pangan, energi dan air,” ungkap Paslon nomor 02 tersebut.
Ia juga menyatakan, ketika nanti terpilih menjadi Presiden akan menegakkan keadilan rakyat Indonesia di seluruh lapisan dan berusaha menghilangkan korupsi di Indonesia. “Karena korupsi adalah penyakit kanker. Ribuan triliun dana kita ada di luar negeri,” katanya.
Mantan Pangkostrad itu mengingatkan rakyat Indonesia sedang menghadapi kekuatan besar dari luar negeri. Mereka tidak ingin Indonesia mandiri, berdikari dan merdeka.
“Saya tidak mengajak anti asing dan aseng. Ini merupakan siklus sejarah, siapa yang kuat dia akan selalu menindas yang lemah. Elit kita tidak tahu dimana. Badannya mungkin di Indonesia, tapi nggak tahu raganya dimana,” kata Prabowo.
“Tapi jangan menyalahkan orang lain. Tugas kita adalah menjaga, mengantisipasi dan menanggulangi setiap ancaman dan bahaya,” imbuhnya.
Menjaga marwah sebagai abdi rakyat
Di tengah puluhan ulama, ia merasa rikuh ketika hendak melanjutkan pidatonya meskipun telah akrab lama sejak dirinya di Kesatuan seperti dengan Kyai Cholil Ridwan, Kyai Abdul Rosyid Abdullah Syafi’i dan lain-lain.
“Saya kaget tadinya kalau ada Koppasandi. Mengingatkan saya saat muda di Kopassandha. Disini ada Danjen, ada Panglima FPI. Wah, kita kalah pak Djoko he he he,” ujarnya berseloroh.
“Saya telah akrab dengan ulama sejak saat itu dan saya tegaskan, umat Islam bukan umat yang ingin mengancam NKRI. Tidak boleh ada istilah ekstrim, intoleransi, radikal dan sebagainya yang disematkan kepada umat Islam,” lanjutnya.
Di sisa waktu lima bulan atau 150 hari menjelang Pilpres 2019 pada April mendatang ia mengingatkan kepada umat Islam tidak terpancing kiri dan kanan.
“Saya tentunya kurang dalam ilmu agama, tetapi ilmu negara, ekonomi, perang, dan pertahanan saya paham. Hati-hati, kekuatan asing selalu ingin mengadu domba. Otak intel sangat pintar untuk memecah belah,” Prabowo memaparkan.
Mantan Danjen Kopassus itu juga mengimbau kepada adik-adik junior di pemerintahan, TNI, Polri, dan intelijen untuk tidak berpihak pada golongan tertentu. Tapi harus berada di tengah-tengah rakyat, nusa dan bangsa.
“Sumpah Bhayangkari adalah sumpah membela negara, bukan membela kelompok. Adik-adikku, setialah kepada sumpah. Kau adalah pelindung kita semua. Adanya tentara, polisi, intel, itu dibayar oleh rakyat, oleh APBN. Kau adalah bhayangkari seluruh bangsa Indonesia,” tegas Prabowo dengan lantang.
“Saudara tau mana yang benar. Kalian harus membela seluruh rakyat Indonesia. Kami akan tunduk dan patuh kepada rakyat Indonesia. Demi Allah, saya akan patuh kepada rakyat Indonesia,” sambungnya.
Prabowo menandaskan bahwa sejak puluhan tahun lalu ia berjuang untuk bangsa dan negara, bukan untuk partai, kekuasaan apalagi keluarga.
“Kau (abdi negara) harus berada di atas semua kelompok. Karena itu, saya bersama (SBY) Yudhoyono membawa ABRI keluar dari politik. Sebagai Panglima Kostrad, saya dulu menyarankan agar Pak Harto turun agar tidak melawan rakyat dengan jumlah lebih besar. Saya buktikan kalau saya tidak memiliki kepentingan untuk pihak tertentu,” ujarnya.
Di akhir pidatonya, Prabowo bernazar (janji), jika dirinya terpilih menjadi Presiden maka akan menjemput Habib Rizieq Shihab (HRS) ke Indonesia.
“Ingat, kekuasaan adalah amanat, kekuasaan akan datang dan pergi. Yang penting jangan sampai kita kehilangan kehormatan dan kecintaan dari rakyat,” tutupnya.
Ahmad Zuhdi

