Kesiapan Anak Masuk SD

by
foto:https://goo.gl/images/zEHsbt

Mengingat Sekolah Dasar adalah sekolah formal pertama bagi anak dan berfokus pada pengembangan ketrampilan dasar belajar, maka penting sekali memastikan anak sudah siap masuk SD.

Wartapilihan.com, Jakarta — Hal tersebut disampaikan Lestia, direktur pendidikan Sekolah Kembang di Kemang, Jakarta.

Banyak literatur mengatakan anak siap belajar baca tulis di usia 7 tahun. Pada usia itu, umumnya anak sudah siap ketrampilan motoriknya, persepsi sensori dan motornya, processing skills, ketrampilan komunikasi juga manajemen diri yang mendasar.

“Semua itu akan dibutuhkan untuk dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas dengan baik. Bagaimana orangtua bisa tahu kalau anaknya sudah siap masuk sekolah? Orangtua perlu paham dulu tahapan tumbuh kembang anak.

Ia harus memastikan bahwa tumbuh kembang anaknya sesuai dengan usia pada semua area perkembangan yaitu motorik, bahasa, kognitif, dan sosial emosionalnya,” jelas Lestia, dalam grup Anak dan Keluarga, Ahad, (14/10/2018).

Ia menekankan, kesiapan masuk sekolah tidak bisa dilihat parsial/hanya sebagian. Misalnya, miskonsepsi yang paling dasar adalah jika anak sudah bisa membaca, maka ia sudah siap masuk SD. Padahal, tidak selalu demikian.

Adapun indikator kesiapan sekolah, untuk anak yang akan masuk SD, maka ia sudah dapat mengucapkan maaf, tolong dan terimakasih, naik sepeda roda dua, bisa membersihkan sendiri BAK dan BAB, dan lain sebagainya.

Saat ini, dia menjelaskan, semua sekolah didata oleh pemerintah dalam sistem bernama DAPODIK (Data Pokok Pendidikan). Di Dapodik ini, sekolah wajib memasukkan data tentang sekolah, termasuk tentang murid-muridnya.

“Mulai tahun ini, jika ada murid yang belum genap berusia 6 tahun saat tahun ajaran dimulai, namanya tidak dapat masuk ke dalam sistem DAPODIK. Barangkali ini bisa jadi perhatian orangtua jika ingin mendaftarkan anak ke SD,” jelasnya.

Jika anak sudah siap sekolah, baru kita masuk ke bagian memilih sekolah. Ia mengklasifikasikan, pada dasarnya, bentuk sekolah ada dua. Ada sekolah formal dan sekolah non formal. Sekolah formal adalah SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Sekolah non formal misalnya tempat kursus, sanggar, TPA, PAUD, dan lainnya.

“Mana yang paling bagus? Sebenarnya pertanyaan ini kurang tepat. Semua sekolah tentu punya kelebihan dan kekurangan sebagai konsekuensi pilihan kurikulum, metode belajar, kebijakan, dan budaya sekolah,”

Yang terpenting menurut dia, tugas orangtua adalah memahami hal ini dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai yang dianggap penting dalam keluarga. Dengan demikian, keadaan di rumah dan di sekolah akan lebih sejalan dan anak lebih nyaman sekolah.

Jika mempertimbangkan beberapa sekolah, Orangtua dapat mempertimbangkan seperti jarak rumah ke sekolah sebaiknya tidak terlalu jauh. Jarak sekolah terlalu jauh cukup menghabiskan energi bagi anak.

“Selain itu, biaya terjangkau oleh keluarga. Memilih sekolah adalah komitmen jangka panjang, dan seringkali melibatkan lebih dari satu anak. Jangan sampai memaksakan diri,” tegas dia.

Ketiga, melihat kebutuhan anak. Jika sekolah memenuhi kebutuhan anak, maka anak merasa senang melewati hari sekolah. Jika sekolah tak bisa memenuhi seluruhnya, maka orangtua juga perlu memikirkan strategi untuk memenuhi kebutuhan anak lewat cara yang berbeda.

“Sekolah yang menumbuhkan, bukan sekolah yang menanamkan, seharusnya menjadi prioritas,”

Sekolah yang menumbuhkan yaitu menjadikan anak sebagai pusat pendidikan. Seperti ungkapan Ki Hajar Dewantara, berhamba pada sang anak.

“Dalam banyak artikel pendidikan kekinian, kita kenal juga sebagai student centered learning. Artinya pendidikan bertujuan untuk menyiapkan anak menjadi manusia yang siap hidup; menjadi bahagia, mengenali dirinya sendiri, bertujuan, berguna untuk lingkungan dan masyarakatnya,”

Sekolah seperti ini tidak memusatkan perhatian pada kurikulum, akreditasi, ijazah, prestasi dan persaingan dengan sekolah lain.

“Kepedulian mereka bermuara pada pemenuhan kebutuhan anak dengan memahami potensi anak sehingga merancang proses belajar untuk memenuhi kebutuhan itu,” pungkas Lestia.

 

Eveline Ramadhini