Wajib Belajar Sama dengan Wajib Sekolah?

by
foto:istimewa

Oleh : Dr Adian Husaini

Kali ini Dr Adian membahas tentang bedanya sekolah dan belajar. Silakan menyimak :

Wartapilihan.com, Depok –Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini saya bersama Dr. Adian Husaini dan kami akan berbincang tentang pendidikan di KLIPIK, topik kita hari ini bicara tentang wajib sekolah dan wajib belajar 15 tahun. Bagaimana ustad Adian? (Suara Mas Indra, moderator).

Jadi, Mas Indra di Indonesia ini ada beberapa istilah pendidikan yang rancu. Pertama istilah sekolah, Kedua istilah pendidikan, yang Ketiga istilah belajar. Misalnya kan kita wajib belajar sampai umur 15 tahun, wajib belajar itu sebetulnya wajib sekolah, iya kan? Wajib belajar wajib berpendidikan. Misalnya begini di masa Nabi tidak ada sekolah, apakah di masa Nabi orang tidak belajar? Ya tidak kan, di masa Nabi itu tidak ada sekolah tapi apa di masa Nabi itu tidak ada pendidikan? Nah itu kan salah.

Jadi sekolah, pendidikan, belajar itu kadang kala rancu, nah itu kan salah. Saya beri contoh saya suka mengkritik panitia saat seminar, saya disodori CV nama, tempat, tanggal lahir, dan riwayat pendidikan. Riwayat pendidikan pasti SD, SMP, SMA, S1, S2, S3. Nah saya tanya apakah saya selesai doktor saya, kalau saya S3 saya tidak berpendidikan lagi, saya tidak dididik lagi, nah itu kan rancu.

Dalam UUD 45 pasal 31 ayat C yang namanya pendidikan itu kan sebuah proses yang tujuannya beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam UU, itu bukti konstitusi kita. Dan UU Pendidikan Nasional nomer 20 tahun 2003 dan juga UU Pendidikan Tinggi nomor 12 tahun 2012 dan itu juga mengamanahkan itu juga. Mengamanahkan tujuan pendidikan kita itu membentuk manusia beriman dan berakhlak mulia.

Jadi kalau dilihat dari proses nama pendidikan disitu berarti itu bukan hanya sekolah bukan hanya kuliah artinya itu pendidikan yaNG seterusnya. Kadang kala orang rancu itu bagaimana orang yang dikatakan berpendidikan, apa orang sekolah tidak berpendidikan? Buya Hamka itu tidak sekolah formal, apa Buya Hamka itu tidak berpendidikan? Ulama-ulama kita dulu juga banyak yang seperti itu. Intinya itu belajar, intinya itu pendidikan.

Sekolah, kuliah atau kampus itu sarana, jadi kita harus menempatkan pada tempat nya itu namanya adab, mana adil mana yang subtansi mana yang bukan substansi. “Ada kisah anak namanya Aisyah di TV itu ramai sekali beritanya, Aisyah ini adalah anak yang intelektualnya kurang masih tingkat SD, tapi masya Allah akhlaknya mulia sekali. Dia merawat ayahnya yang lumpuh itu, didorong pakai gerobak, merawat orang tuanya juga saat masih sekolah itu masya Allah mungkin susah kita cari. Begitu mulianya akhlaknya Aisyah, tapi di TV itu diperhatikan sayang Aisyah itu tidak sekolah, akhirnya Aisyah itu dipaksa dipisahkan dengan orang tua nya untuk sekolah.

Tapi ketika Aisyah sekolah, dia terpisah dengan orang tuanya ini kan jadi nilai, tapi Aisyah sebenarnya bisa saja merawat orang tuanya, tapi dia diberi pendidikan. Sekarang kan ada sekolah formal, informal, jangan dipisahkan dengan orang tuanya. Itu lah justru nilai dia sebagai manusia, menunjukkan keberhasilan pendidikan kita. Jadi disini kita harus meletakkan istilah-istilah dengan tepat.

Jadi yang penting itu, kementrian pendidikan itu nah itu kita bahas sendiri yah. Nanti jika mas Indra jadi presiden atau saya jadi presiden, kementerian pendidikan itu kita kasih nama apa ya. Apakah namanya kementerian pendidikan dan olahraga, apa kementerian pendidikan dan kebudayaan atau kementerian pendidikan dan perdagangan atau kementerian pendidikan dan tenaga kerja atau namanya kementerian pengajaran atau kementerian persekolahan atau memang kementerian pendidikan itu amanahnya adalah dia mengelola sekolah. Jangan dibebani dengan beban mendidik karena mendidik itu sangat berat dan itu menanamkan nilai nilai, mengumpulkan nilai diperlukan syarat-syarat yang sangat berat. Ini temen temen adalah contoh yang kita bahas di Klipik namanya, tema aktual yang mudah mudahan mencerahkan dan bermanfaat bagi kita semua. Wssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *