Tomat Memperlambat Kerusakan Paru Akibat Merokok

by
foto:https://eternaleaf.com

Tomat diakui bermanfaat menjaga kesehatan. Studi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan tomat bisa memperlambat kerusakan paru-paru akibat merokok. Jadi perlu diet buah-buahan, seperti tomat, bagi perokok maupun mantan perokok.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Tomat merupakan salah satu jenis buah-buahan dan sayuran yang kerap dikonsumsi orang. Mereka mencampur tomat dengan sayuran lain untuk membuat sayur sop atau campuran dengan cabai untuk membuat sambal. Tetapi tomat juga kerap dikonsumsi dalam bentuk jus.

Mereka menyadari kalau tomat menyimpan banyak manfaat bagi kesehatan. Selain bisa mencerahkan kulit dan menjaga kesehatan mata, penelitian terbaru yang digarap peneliti Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore, Amerika Serikat, menemukan manfaat baru dari tomat. Yaitu: menghambat kerusakan paru-paru akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru-paru. Kedua penyakit ini sebagian besar diakibatkan oleh merokok.

Profesor Vanessa Garcia-Larsen, ketua tim riset, melihat makanan yang kaya buah dan sayuran, termasuk tomat, dapat mengurangi risiko PPOK pada perokok aktif dan mantan perokok. Setiap porsi ekstra harian tomat dan sayuran lain dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit itu sebesar 4-8 persen.

Studi anyar, seperti dikutip medicalnewstoday.com (29/12/2017), menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan tinggi buah dan sayuran – terutama tomat dan apel – memperlambat penurunan fungsi paru di antara mantan perokok selama 10 tahun.

Garcia-Larsen dan timnya mengevaluasi kaitan fungsi diet dengan paru-paru. Mereka menggunakan  spirometri untuk mengukur kekuatan paru-paru mengisap oksigen melalui volume udara yang masuk. Sebanyak lebih dari 650 orang dewasa dari Jerman, Norwegia, dan Inggris dilibatkan pada tahun 2002. Kemudian mereka mengevaluasinya 10 tahun kemudian.

Hasilnya, hubungan antara diet dan fungsi paru-paru nampak terlihat di kalangan mantan perokok. Bila volume udara yang bisa mereka hirup diukur, mantan perokok yang mengonsumsi makanan tomat dan makanan kaya buah memiliki sekitar 80 mililiter penurunan fungsi paru lebih lambat dalam 10 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa nutrisi spesifik dapat berperan dalam penyembuhan kerusakan akibat merokok. Dibandingkan dengan orang dewasa yang mengonsumsi kurang dari satu buah tomat per hari, mereka yang makan lebih dari tiga  buah atau lebih dari dua tomat mengalami penurunan fungsi paru-paru yang lebih lambat. Hasil studi itu dipublikasikan di European Respiratory Journal.

“Diet kaya buah seperti tomat bisa memperlambat proses penuaan alami paru-paru bahkan jika Anda tidak pernah merokok,” kata Garcia-Larsen. Temuan ini memperkuat perlunya rekomendasi diet terutama bagi orang-orang yang berisiko terkena penyakit pernapasan seperti PPOK.

Hasil studi tersebut tentu memberikan harapan menggembirakan, terutama para perokok. Sebab, jumlah perokok kian hari kian bertambah. Di dunia, menurut taksiran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 80 juta penduduk terkena PPOK. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi PPOK sebesar 3,7% dari total penduduk Indonesia.

Sementara itu, Amerika Serikat, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 36,5 juta orang dewasa mengisap rokok. Akibat rokok disana terdapat kematian sebanyak lebih dari 480.000 kematian per tahun.

Akibat tingginya angka kematian, membuat orang berusaha untuk berhenti rokok. Mereka berusaha berhenti merokok lantaran menyadari akan bahaya merokok terhadap risiko terkena penyakit paru-paru, antara lain, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru-paru, serta kematian dini. Di negeri paman Sam, saban tahun terdapat sekitar 55,4 persen dari semua perokok dewasa mencoba berhenti merokok.

Namun ketika mereka berusaha berhenti merokok, sudah terdapat kerusakan pada paru-paru. Nah, untuk memperbaiki kerusakan tersebut, perlu waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya. Faktor lain: paru-paru sepenuhnya matang pada usia 20-25 tahun.

Setelah 35 tahun, fungsi paru mulai menurun, dan pernapasan secara bertahap lebih sulit. Singkatnya: diafragma makin melemah. Ini yang menyebabkan kemampuan untuk bernafas mulai berkurang. Lalu, otot yang menjaga udara tetap terbuka kehilangan elastisitas; alveoli pada paru-paru kehilangan bentuknya. Dan yang terakhir, area otak yang mengatur pernapasan mengirimkan sinyal yang lebih lemah ke paru-paru.

Helmy K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *