Tauhid dan Politik (Serial Cerita Politik 5)

by
foto:istimewa

“Kalau buku Amiens Rais yang berjudul Cakrawala Islam, apa isinya?”
“Menarik karena bukan hanya tentang Tauhid, tapi juga tentang ideologi kapitalisme, sosialisme atau komunisme, politik dunia Islam dan orientalisme.”

Wartapilihan.com, Jakarta –“Terangkan dong Bud, makna Tauhid yang ditulis di buku itu. Biar kita aqidahnya makin kuat.”

Budi kemudian menerangkan buku yang diterbitkan Mizan 1987 itu.

Menurut Amien Rais, kedudukan Tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling esensial. Secara etimologis, tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Allah. Formulasi paling pendek dari tauhid itu ialah kalimat thayyibah : La ilaha illa Llah, yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah.

Dengan mengatakan tidak ada Tuhan selain Alah, seorang manusia tauhid memutlakkan Allah yang Maha Esa sebagai Khaliq atau Mahapencipta dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptaan-Nya. Karena itu hubungan manusia dengan Allah tak setara dibandingkan hubungannya dengan sesama makhluk. Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus seluruh rasa hormat, rasa syukur dan sebagai satu-satunya sumber nilai. Apa yang dikehendaki oleh Allah akan menjadi nilai (value) bagi manusia tauhid, dan ia tidak akan mau menerima otoritas dan petunjuk kecuali otoritas dan petunjuk Allah. Komitmennya kepada Tuhan adalah utuh, total, positif dan kukuh, mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan (kepada Tuhan), serta kemauan keras untuk menjalankan kehendak-kehendakNya.

Lebih lanjut Amien menjelaskan bahwa La ilaha illa Llah meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan. Jadi sesungguhnya kalimat thayyibah merupakan kalimat pembebasan bagi manusia. Seorang manusia tauhid mengemban tugas untuk melaksanakan ‘tahrirun nas min ibadatil ibad ila dzatillah’ (membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata). Dengan Tauhid, manusia tidak saja akan bebas dan merdeka, melainkan juga akan sadar bahwa kedudukannya sama dengan manusia lain manapun. Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior terhadap manusia lainnya. Setiap manusia adalah hamba Allah yang berstatus sama. Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah, maka juga tidak ada kolektifitas manusia, baik sebagai suatu suku bangsa ataupun suatu bangsa, yang lebih tinggi atau lebih rendah dari pada suku bangsa atau bangsa lainnya. Semuanya berkedudukan sama dihadapan Allah. Yang membedakan satu dengan lainnya hanyalah tingkat ketakwaan pada Allah SWT (al Hujurat 13).

Sekali seorang manusia atau suatu bangsa merasa dirinya lebih inferior dibanding manusia atau bangsa lainnya, maka ia akan kehilangan kebebasan dan jatuh ke dalam perbudakan mental. Seseorang yang mengakui superioritas sekelompok manusia tertentu –entah berdasarkan kekuasaanm warna kulit atas dasar apa saja- berarti dengan sendirinya ia akan kehilangan kebebasan dan sekaligus meremehkan makna Tauhid. Demikian juga dalam masalah-masalah keagamaan, Islam tidak mengakui setiap lembaga yang menyerupai lembaga kependetaan (priesthood, rabbihood), karena Tuhan tidak pernah mempercayakan suatu perwalian untuk mewakiliNya di muka bumi ini. Laa rahbaniyyata fil Islam (Tidak ada sistem kependetaan dalam Islam), demikian Nabi Muhammad saw berkata. Dengan perkataan lain, sekali seorang manusia merasa lebih rendah atau lebih tinggi daripada manusia lainnya, ia telah jatuh ke dalam syirk – lawan Tauhid.

Al Quran mendorong manusia untuk selalu mencari kebenaran, dan menganjurkan manusia agar senantiasa menanyakan kebenaran yang sudah diterima dari nenek moyangnya (Al Baqarah 170), selalu terbuka terhadap koreksi atau keyakinan yang keliru (az Zukhruf 22-24), dan senantiasa menguji apa yang sudah dianggap sebagai suatu kebenaran (al A’raf 28-29). Banyak manusia yang cenderung mengikuti tradisi dan keyakinan nenek moyangnya. Selain itu mereka juga cenderung untuk mengikuti langkah para pemimpin tanpa menggunakan akal sehat mereka.

Tidak mengherankan kalau para penguasa atau para pemimpin sering memiliki otoritas yang tidak bisa ditantang (unchallenged authority), oleh karena banyak manusia yang begitu saja menyerah dan tunduk kepada mereka, tanpa daya pikir kritis serta keberanian untuk mengkritik. Padahal para penguasa atau para pemimpin umumnya mempunyai kepentingan tertentu (vested interest) untuk membela status quo dan mengelabui para pengikutnya. Al Quran mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak bersikap kritis terhadap para pemimpin mereka, akan kecewa di Hari Akhir dan mengeluh,”…Ya Tuhan kami. Kami telah taat kepada para pemimpin dan orang-orang besar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalanMu yang lurus.” (Al Ahzab 67).

Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesame makhluk, kalimat thayyibah juga mengajarkan emansipasi wanita dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan dan kesenangan-kesenangan sensual belaka. Suatu kehidupan yang didedikasikan pada kelezatan sensual, kekuasaan dan penumpukan kekayaan, pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih. Dengan tajam Al Quran menyindir orang-orang semacam ini,”Tidakkah engkau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan? Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya? Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya? Mereka itu tidak lain hanya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (al Furqan 43-44).

Komitmen dan Misi Manusia Tauhid

Sementara itu kita melihat sebagian masyarakat penganut Islam masih belum memahami arti tauhid, sehingga mereka sesungguhnya masih belum merdeka dan belum menyadari status manusiawinya. Disinilah sebenarnya letak kemandekan kebanyakan masyarakat Muslim dewasa ini. Kita bisa mengatakan bahwa keterbelakangan ekonomi, stagnasi, intelektual, degenerasi sosial, dan pelbagai macam kejumudan lainnya yang diderita oleh masyarakat Muslim, sesungguhnya berakar pada kemerosotan Tauhid. Oleh karena itu untuk melakukan restorasi dan rekonstuksi manusia Muslim, baik secara individual maupun kolektif, Tauhid adalah masalah pertama dan terpenting untuk segera dipersegar dan diluruskan. Dengan demikian jelas bahwa anjuran sekulerisasi, misalnya untuk memperbarui pemahaman Islam, adalah suatu ajakan yang tidak mempunyai dasar di dalam Islam, dan akan membuat kemerosotan umat menjadi lebih parah.

Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa komitmen manusia Tauhid tidak terbatas pada hubungan vertikalnya dengan Tuhan, melainkan juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk, dan hubungan-hubungan ini harus sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah ini memberikan visi kepada manusia Tauhid untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial. Pada gilirannya visi ini memberikan inspirasi pad manusia Tauhid untuk mengubah dunia di sekelilingnya agar sesuai dengan kehendak Allah dan inilah misi manusia Tauhid atau manusia Muslim. Misi ini menuntut serangkaian tindakan agar kehendak Allah tersebut terwujud menjadi kenyataan dan misi ini merupakan bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah.

Misi untuk mengubah dunia, menegakkan kebenaran dan keadilan, merealisasikan pelbagai nilai utama, dan memberantas kerusakan di muka bumi (fasad fil ardh), bukanlah sekedar suatu ‘derivative’, melainkan merupakan bagian integral dari komitmen manusia Tauhid kepada Allah. Gabungan dari manusia-manusia Tauhid inilah yang kemudian membentuk suatu ummah. Dengan menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma’ruf) dan memberantas kejahatan (nahi munkar) sebagai dua ciri utamanya, umat Tauhid menujukan sasaran dari gerakannya bukan pada bangsa atau kelompok masyarakat tertentu, melainkan pada seluruh kemanusiaan itu sendiri, seperti difirmankan oleh Allah,”Engkau sekalian adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk seluruh manusia, engkau melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan engkau beriman kepada Allah.” (Ali Imran 110).

Manusia Tauhid dan Umat Tauhid mempunyai kewajiban untuk menegakkan suatu orde sosial yang adil dan etis. Al Quran mengutuk ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial dan menyuruh kita untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang etis dan egalitarian. Surat-surat Al Quran yang diturunkan kepada Muhammad saw sewaktu beliau masih berada di Makkah, mengecam keras dua macam masalah : politeisme atau kemajemukan dewa-dewa yang simptomatis dari masyarakat yang terpecah belah dan disparitas sosial ekonomi yang bersarang pada keterpecahbelahan masyarakat. Kedua hal ini merupakan dua sisi dari satu mata uang. Al Quran bertubi-tubi menyerang disparitas ekonomi, justru karena memang masalah ini memang sangat sulit dipecahkan (al Maun 1-6 dan al Humazah 1-6). Al Quran jelas tidak melarang manusia untuk mengumpulkan harta benda, akan tetapi penyalahgunaan kekayaan –yang menyebabkan manusia buta terhadap nilai-nilai luhur – dikecam keras oleh Al Quran (Ali Imran 14, Yunus 23, Ar Ra’d 36, az Zukhruf 35 dan seterusnya).
Al Quran memegang prinsip keadilan distributive (distributive justice), dimana sekelompok masyarakat tidak diperkenankan menjadi terlalu kaya, sementara kelompok lainnya menderita kemiskinan yang bertentangan dengan harkat kemanusiaan. “Kekayaan tidak boleh berputar hanya dalam lingkaran orang-orang kaya.” (al Hasyr 7) merupakan suatu kebijakan ekonomi dalam ajaran Islam. Dengan demikian, menjadi tanggungjawab manusia dan umat Tauhid untuk selalu bekerja keras dan mencari pemecahan-pemecahan yang ‘feasible’ untuk melakukan prinsip keadilan distributive tersebut.

Namun kita tidak boleh lupa bahwa keadilan sosio ekonomi bukanlah tujuan akhir. Keadilan sosio ekonomi itu sendiri adalah jembatan untuk menuju suatu tujuan yang lebih tinggi, yaitu kebahagiaan akhirat. Dengan visinya, manusia dan umat Tauhid harus melihat konsekuensi-konsekuensi tindakannya, baik di dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan, maupun bidang kehidupan lainnya, dan mengarahkannya ke suatu tujuan yang menjadi dasar komitmennya pada Allah. Ini semua tidak mungkin akan bisa dicapai kecuali dengan jihad dalam arti ‘badzlul juhdi’ (total endeavor), ke arah total dari seluruh tenaga, budaya, dana dan pikiran untuk mewujudkan ‘kalimatullah hiyal ulya’, yaitu terselenggaranya nilai-nilai yang diridhai oleh Allah SWT (at Taubah 40).

000

“Sebenarnya banyak artikel-artikel bagus disitu. Tapi baca sendiri ya.”

“Apa aja Bud, topik yang dibahas?”

“Menyoroti Krisis Ilmu-Ilmu Sosial, Kritik Islam Terhadap Kapitalisme dan Sosialisme, Gestapu PKI dan Kita, Generasi Muda dan Politik di Indonesia, Sikap dan Posisi Indonesia di Tengah Dunia Muslim, Sketsa Konflik AS-US : Pengaruhnya Bagi Dunia Ketiga dan Dunia Muslim, Ideologi al Ikhwan : Sebuah Kasus Gerakan Islam Kontemporer, Tujuh Tahun Revolusi Iran, Terorisme Israel versus Terorisme Arab, Runtuhnya Sendi-Sendi Orientalisme dan lain-lain.”

“Wah menarik nampaknya. Insya Allah akan saya baca. Ilmu politik seperti ini sangat penting bagi saya dan bukankah ilmu yang benar, tidak ada istilah lama atau baru (abadi)? Wallahu alimun hakim. (bersambung) II

Izzadina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *