Setelah Cirebon, PCNU Garut Tolak Ustadz Bahtiar Nasir

by
Ustadz Bachtiar Nasir. Foto: Istimewa

Setelah PCNU Cirebon bulan Oktober lalu menolak pimpinan Al Quran Learning Center (AQL) ceramah di wilayahnya, kini PCNU Garut menolak Ustadz Bahtiar Natsir kembali.

Wartapilihan.com, Jakarta –Dalam surat yang diterima Warta Pilihan pagi ini (6/11), surat penolakan dari PCNU Garut itu ditandatangani lengkap oleh Ketua Tanfidziyah KH Atjeng Abdul Mujib dan Rais Syuriah KH Amin Muhyidin Maulani.

Surat dari PCNU Kabupaten Garut itu tertanggal 5 Nopember 2017. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Ketua DKM Masjid Agung Garut disebutkan bahwa mereka menolak kehadiran Ustadz Bahtiar Nasir dan KH Ahmad Sabri Lubis dalam Tabligh Akbar yang rencananya akan berlangsung pada Minggu, 11 Nopember 2017 di Alun-Alun Garut. Alasannya, “setelah kami mendapatkan masukan dari berbagai pihak terutama Nahdlatul Ulama Kabupaten Garut diketahui bahwa dai ini selalu memberikan tausiyah yang tidak menyejukkan, bahkan cenderung melukai perasaan sebagian warga Indonesia dan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

PCNU Garut mengkhawatirkan bila keduanya dihadirkan maka akan menimbulkan massa penolakan dan membuat kondisi dakwah di Garut tidak kondusif.  Mereka mengharap Ketua DKM Masjid Agung Garut –penitia pelaksana acara itu – agar mengganti dengan penceramah yang menyejukkan.

Sebelum PCNU Garut menolak Bachtiar Nasir, Oktober 2017 lalu, PCNU Cirebon juga menolak Sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) ini ceramah di wilayahnya. Padahal waktu itu Bachtiar sudah dijadwalkan oleh pemerintah kota Cirebon (surat tertanggal 9 Oktober 2017) mengisi acara Pembukaan MTQ Kota ke-50 pada 18 Oktober 2017 di Alun-Alun Keraton Kacirebonan. Ia rencana mengisi taushiyah di acara itu bersama Wali Kota Cirebon, Nasrudin Azis. Publikasi acara ini dengan penceramah Ustadz Bachtiar waktu itu juga sudah beredar luas di media sosial.

Tiba-tiba tanggal 13 Oktober 2017, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Cirebon menulis surat kepada Kapolres Kota Cirebon, AKBP Adi Vivid Agustiadi Bachtiar. Dalam surat Rois PCNU Cirebon KH Arwani Amin menyatakan menolak keras kehadiran Bachtiar Nasir dalam acara MTQ itu. “Jika Bachtiar Nasir tetap diizinkan hadir dan menyampaikan tausiyah di acara MTQ maka dikhawatirkan ada gerakan massa penolakan yang membuat situasi daerah tidak kondusif. Karena itu kami memohon agar Polre Cirebon Kota tidak memberikan izin terhadap rencana kehadiran Bachtiar Nasir. Dan alangkah baiknya bila Polres Direbon Kota memberikan masukan agar mengganti penceramah dengan ulama yang menyejukkan,” bunyi surat itu yang beredar luas di media sosial.

Melihat fenomena penolakan Ustadz Bachtiar Nasir di kantong-kantong NU, tokoh muda NU Jawa Timur KH Idrus Ramli menyayangkannya. Kepada Warta Pilihan ia menyatakan bahwa bukan hanya Bachtiar Nasir yang ditolak dirinya juga beberapa kali ditolak ceramah oleh pengurus NU. “Mungkin ini dari pusat,”kata Kiyai Idrus ketika ditanya tentang datangnya perintah itu.

Ustadz Bachtiar sendiri enggan menanggapi tentang hal ini. Malahan ia cenderung menyerukan persatuan di kalangan umat. “Jangan sampai kita mudah dipecah belah,”seru pimpinan AQL ini.

Selain Bachtiar Nasir, Ustadz Felix Siauw kini juga langganan ditolak oleh Pengurus Cabang NU. Awal November 2017 lalu, PCNU dan GP Ansor Bangil menolak Felix yang rencananya akan ceramah di Masjid Manarul Bangil Pasuruan. Felix menolak menandatangani surat dari PCNU yang menyatakan bahwa Felix harus : 1) Mengakui ideologi Pancasila sebagai ideologi tunggal NKRI, 2) Tidak akan menyebarkan ideologi khilafah, 3) Menyatakan keluar dari Hizbut Tahrir Indonesia.

Setelah ditolak massa NU di Bangil, Felix akhirnya pergi ke Surabaya dan ceramah di sana. Mantan tokoh Hizbut Tahrir ini ditarik jamaah untuk ceramah di Masjid al Ikhlash, Tanjung Sadari, Perak Surabaya.

Sebelum ditolak di Bangil, Felix juga ditolak massa NU di Semarang dan Sragen Jawa Tengah.

Menanggapi penolakan massa NU di Bangil itu, Felix kemudian menulis di laman Facebooknya : Hikmah Dan Pelajaran Dari Bangil. Berikut tulisan lengkapnya  :

“Semakin tinggi tahapan dakwah, semakin besar pula tantangan. Ibarat kompetisi bola, kini kita sudah memasuki final. Tandanya, polarisasi terjadi, gesekan makin menguat.

Di piala champions, saat masih 8 tim tersisa, pendukung terbagi menjadi 8, saat perempat final pendukung terbagi 4. Saat final, semua maniak bola terpolarisasi jadi 2 tim saja.

Lihat saat ini, partai final. Bila engkau tidak membela Islam maka pasti ada di kubu lainnya. Dan ini yang sesungguhnya terjadi, mengapa ulama dikriminalisasi.

411 dan 212 telah membuka mata kaum dzalim, bahwa kaum Muslim ternyata bisa bersatu, dekat dengan kebangkitan. Maka digelontorkan isu makar, kudeta, intoleransi, anti-pancasila.

Kepada siapa itu dialamatkan? Tentu kepada kaum Muslim, dan tidak selain itu. Yang lain boleh menjarah Indonesia, boleh juga korupsi, hate speech, asal anda pendukung penguasa.

Mereka ingin berkuasa kembali, tapi ummat sudah sadar, dan satu-satunya musuh abadi kedzaliman adalah Islam. Maka mereka sibuk melemahkan ulama dan kaum Muslim.

Pihak berwenang harusnya melindungi, malah pilih kasih. Bila ummat Islam didemo, yang kalah harus ummat Islam. Bila ummat Islam yang aksi, juga yang salah ummat Islam.

Sampai saat ini polisi masih mati-matian pada kasus fake chatsex, ulama dan aktivis ditahan tanpa alasan yang jelas, dan kita diminta percaya bahwa mereka mengamankan.

Namun saya yakin, Allah tidak tinggal diam. Saya berdoa semoga Allah bukakan hati nurani mereka, menanamkan iman dan kecintaan, serta pembelaan pada agama.

Saya juga mendoakan saudara saya GP Ansor dan Banser, semoga Allah berikan mereka izzah, hingga mampu memuliakan agama, santun dan lembut pada saudara seiman.

Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Bangil. Yakni semangat, pelukan, doa, dari semua ikhwan, nasihat dan genggam tangan dari para Kyai dan asatidz.

Saya dikarunai Allah di Bangil, lebih dari yang saya minta. Yakni kesabaran, harapan, serta hikmah dalam jalan dakwah. Tentu saja, saya mengucap Alhamdulillah ‘ala kulli haal! “ ||

Izzadina