Sekarang Siapa yang Peduli Stadion Jakarta?

by

Wartapilihan.com, Jakarta – Kebudayaan Betawi berkaitan erat dengan DKI Jakarta. Jauh sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Betawi telah mengukuhkan kebudayaannya, bahkan mampu mengasimilasi kebudayaan lain seperti Portugis, Cina, dan Jawa. Pembangunan kebudayaan Jakarta saat ini bergantung pada kepedulian pemerintah daerah terhadap kebudayaan Betawi. Hal tersebut dibahas dalam Temu Netizen #10 “Jakarta yang Berbudaya” di Menteng, Jakarta Pusat, Jum’at (24/3) malam.

Salah satu pembicara, Kojek, membahas unsur-unsur¬†penting yang harus diperhatikan dalam pembangunan kebudayaan Jakarta. “Misalnya, Persija. Siapa yang sekarang peduli pada stadion yang bisa dibanggakan Persija dan The Jak Mania (pendukung Persija Jakarta-red)?” tanya dia kepada puluhan hadirin. Penyanyi rap dengan warna Betawi yang kental ini menjelaskan sejarah stadion-stadion yang pernah menjadi kandang Persija. “Yang terakhir itu Stadion Menteng dan Lebakbulus, tapi sekarang sudah digusur, belum ada gantinya,” ujar dia.

Di tahun 2015, sambung Kojek, pemerintah daerah memang pernah menjanjikan pembangunan Stadion “BMW” bagi kandang Persija di wilayah Jakarta Utara. “Tapi cuma berhenti di seremonial peletakan batu pertama, habis itu tidak ada, malah gusur-gusur kampung-kampung orang Betawi,” paparnya prihatin.

Hal lain yang mengundang keprihatinan Kojek adalah soal kontes Abang None Betawi, atau yang biasa disingkat Abnon. “Kontes Abnon mustinye melibatkan semua anak asli Betawi di kotamadya yang ada di Jakarta. Tapi kenyataannya, banyak peserta yang baru tinggal 2-3 tahun di Jakarta untuk berkuliah, lalu ikut kontes itu supaya gampang menjadi model,” ucap dia. Jika ada yang terpilih menjadi abnon, mereka biasanya diperlakukan sebagai pembawa baki dalam acara-acara pemerintah daerah.

Untuk mulai membenahi persoalan tersebut, Kojek berharap muncul gubernur baru di DKI yang menaruh kepedulian pada kebudayaan. “Mas Anies dan Bang Sandi punya program mendirikan Taman Benyamin Sueb, yang akan diisi museum kebudayaan Betawi dan beberapa tempat ruang lain. Ini perlu didukung karena merupakan tempat pembelajaran, supaya kebudayaan Betawi bukan cuma jadi tontonan tapi juga tuntunan,” harapnya. Saat ini, lanjut Kojek, kebudayaan Betawi seperti ondel-ondel hanya menjadi tontonan, tanpa pengajaran nilai yang bisa menjadi tontonan.

“Ondel-ondel itu untuk mengusir setan. Setelah keislaman Betawi semakin kuat, ia dijadikan pertunjukan di acara-acara besar. Kalau sekarang ondel-ondel turun lagi ke jalan, berarti di Jakarta lagi banyak setan yang bikin orang susah cari duit,” ungkapnya dengan geram.

Hal senada disampaikan pembicara lain, JJ Rizal. Sejarawan ini memandang bahwa pakaian yang sering digunakan di kontes Abang None adalah baju demang. “Ini hasil rekacipta Orde Baru tahun 70-an, untuk menggambarkan bahwa kaum demang itu berkuasa atas orang-orang kampung bersuku asli Betawi,” kata dia. Orang demang adalah musuh bebuyutan Betawi.

“Jadi kalau gubernur yang sekarang lebih suka pakai baju demang, berarti dia memang menempatkan diri sebagai bosnya orang Betawi,” paparnya. Pemilik penerbit Komunitas Bambu ini tak mau menyebut nama gubernur, “Kita sebut saja ‘hamba Allah’,” ungkapnya disambut tawa hadirin. I

Reporter : Ismail al Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *