Puasa Itu Menyehatkan

by

Oleh: Muhammad Idris Yusuf,

Da’i Laznas Dewan Dakwah

“Waduh, bentar lagi puasa, nih. Sengsara, dah!” Boleh jadi gerutuan seperti itu, walau dalam hati, sempat muncul di hati sejumlah orang. Misalnya yang punya penyakit maag, yang Konon harus rajin ngemil.

Memang, jika mental sudah letoy, mungkin saja dengan alasan fisik lemah, berpuasa dipandang membahayakan kesehatan. Padahal, Allah SWT, Maha Pengasih dan Penyayang. Mustahil, Dia akan membebani hamba-Nya dengan suatu hukum yang tak mungkin dilakukan (Q.S Al Baqarah : 286).

Allah tidak akan mewajibkan hamba-Nya berpuasa, jika Allah tahu puasa dapat menyebabkan penyakit atau kematian padanya. Dengan kata lain, karena disyariatkan oleh Allah, sudah barang tentu puasa dapat dilakukan oleh orang-orang normal, kecuali mereka yang mendapatkan keringanan (rukhshoh) dari Allah (seperti: anak kecil, orang sakit, orang gila, musafir, ibu hamil, ibu yang menyusui dan manula).

‘’Berpuasalah kamu biar sehat,’’ kata Nabi Muhammad SAW berad-abad lalu. Penelitian medis sejak jaman Yunani Kuno sampai kiwari, menunjukkan bahwa berpuasa memang membawa pengaruh positif bagi kesehatan. “Puasa adalah pengobatan terbaik –direkomendasikan oleh dokter!” kata Philippus Paracelsus, tabib Swiss yang hidup 500 tahun lalu dan merupakan salah satu dari tiga ‘’Bapak Kesehatan Barat’’ bersama Hippocrates dan Galen (Yunani).

“Puasa adalah hasil percobaan yang terbukti kebenarannya. Bermanfaat dan menyehatkan bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan berat badannya,” demikian hasil penelitian ilmiah yang dimuat di The New England Journal of Medicine.

Konfirmasi lain adalah hasil penelitian yang dilakukan Muazzam dan Khaleque dan dilaporkan dalam majalah Journal of Tropical Medicine (1959). Chassain dan Hubert pun melaporkan dalam Journal of Psychology (1968).

Berikut sejumlah mitos tentang puasa (konon), dan koreksinya (sebenarnya).

Membahayakan Penderita Maag

KONON, puasa menyebabkan perut kosong, sementara alat-alat pencernaan terus bekerja sesuai fungsinya. Misalnya lambung akan terus memproduksi asam, sementara perut tidak menerima makanan yang akan diolahnya, sehingga menyebabkan orang yang perutnya kosong, menjadi sakit.

SEBENARNYA, berpuasa membatasi makanan yang masuk ke perut, bukan mengosongkan perut sama sekali. Artinya perut kita masih ada isinya, tetapi tidak sebanyak biasanya. Alat-alat pencernaan tetap bekerja dengan beban yang lebih sedikit. Hal ini justru meringankan beban alat-alat itu untuk mengolah makanan yang menumpuk dan berlebihan. Alhasil, justru menyehatkan.

Memompa Kadar Kolesterol

KONON, selama berpuasa, kadar kolestrol, lemak dan asam urat di dalam plasma darah akan naik.

SEBENARNYA, pola makan dan minum yang berubah, tentu saja mengubah kandungan kadar zat-zat kimia yang ada di dalam tubuh kita. Untuk hari-hari awal berpuasa, kadar kolesterol, lemak dna asam urat di dalam plasma darah akan naik, tetapi selanjutnya semua akan normal kembali. Misalnya, kadar gula darah memang menurun saat-saat menjelang maghrib. Kadar asam lambungpun akan meningkat pada saat menjelang maghrib. Namun kedua perubahan ini tidak sampai pada tahap yang membahayakan. Apalagi tak lama kemudian kita sudah berbuka puasa.

Energi Berkurang, Tubuh Lemah dan Mudah Letih

KONON, selama berpuasa, karena jumlah energi hasil oksidasi tubuh berkurang, tubuh pun menjadi lemah dan gampang letih; Kurangnya pasokan makanan membuat berkurang pula energi yang dihasilkan; Karena berpuasa membuat tubuh lemah, sejumlah aktivitas yang biasa dilaksanakan, dikurangi; Karena tubuh melemah sat berpuasa, Ramadhan diisi dengan banyak istirahat, tidur-tiduran dan bermalas-malasan.

SEBENARNYA, keletihan dan melemahnya tubuh berlangsung tidak sepanjang kita berpuasa. Sebab, jika tubuh memiliki banyak cadangan energi yang belum terolah, ia masih bisa mengambil zat-zat makanan yang tersimpan sebagai sumber energi. Jika zat makanan yang tersedia pun habis, maka tubuh akan mengoksidasi jaringan-jaringan tertentu, terutama jaringan yang sudah rusak, tua, mengalami peradangan atau pernanahan.

Kekurangan pasokan makanan bukan berarti berkurang pula energi yang dihasilkan. Karena kekurangan asupan makanan dapat tergantikan oleh simpanan zat-zat makanan yang ada di dalam tubuh.

Karena satu jadual rutin kita, yaitu makan dna minum, “ditiadakan”, seharusnya ia bisa digantikan aktivitas lain yang produktif, meningkatkan keimanan dan pengetahuan kita. Para sahabat justru pergi berjihad setiap bulan Ramadhan tiba

Menyebabkan Kurang Gizi, Menghambat Pertumbuhan Anak

Kecukupan gizi tidak ditandai oleh banyaknya makanan yang kita santap, namun dari kualitas makanan yang kita makan. Jika sepanjang hari kita hanya makan junk food atau kudapan yang hanya untuk memenuhi rasa lapar, sudah barang tentu kebutuhan gizi tak terpenuhi meskipun mulut terus mengunyah.

SEBENARNYA, meskipun berpuasa, asal pasokan makanan secara teratur memiliki kecukupan kandungan gizi, seperti anjuran yang lama diperkenalkan – yaitu makan sesuai syarat empat sehat lima sempurna, ketakutan kurang gizi atau terhambatnya pertumbuhan, sangat tidak beralasan.