Politik Orientalis (Serial Cerita Politik 6)

by
foto:istimewa

Akal dan Budi masih asyik ngobrol tentang buku Dr Amien Rais, Cakrawala Islam. “Kal, bacakan dong isi buku Pak Amien tentang Runtuhnya Sendi-Sendi Orientalisme, saya sudah banyak lupa.” Akal pun membacakannya untuk Budi :

Wartapilihan.com, Jakarta –Sebagai Muslim, setiap kita membaca buku-buku karangan para orientalis kita pasti merasakan banyak hal yang tidak beres dalam karangan-karangan itu. Apalagi kalau buku-buku itu mengenai Islam, terasa sekali adanya kejanggalan-kejanggalan yang menyalahmengertikan Islam. Uraian di bawah ini ingin menunjukkan bahwa memang sendi-sendi ilmiah orientalisme, yang selama ini dianggap valid oleh banyak orang, sesungguhnya palsu dan sangat rapuh.

Apakah orientalisme dan siapakah orientalis itu? Grand larousse Encyclopedique mendefinisikan orientalis sebagai “sarjana yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya dan sebagainya (savant verse dans la connaissance de l’orient, de ses langues, de ses litteratures, etc.). Karena itu orientalisme bisa dikatakan merupakan prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideology ilmiah kaum orientalis. Memang tidak ada salahnya sarjana-sarjana Barat mempelajari masalah-masalah ketimuran, termasuk masalah keislaman, asalkan penyelidikan mereka didasarkan kepada sendi-sendi ilmiah yang benar dan bertujuan untuk mencari kebenaran. Akan tetapi tujuan asasi dunia Barat dengan orientalismenya itu adalah untuk menguasai dan menjajah Timur, walaupun mungkin saja disertai rasa ingin tahu tentang kebudayaan lain.

Secara historis, pertumbuhan orientalisme memang berbarengan dengan perkembangan imperialism. Lembaga-lembaga studi oriental di Barat didirikan pada masa keemasan imperialisme. Di Belanda studi tentang pelbagai masalah oriental telah dimulai pada 1781; di Prancis dilembagakan dalam Societe Asiatique (1822), di Inggris bernama Royal Asiatic Society (1822), dan Amerika mempunyai American Oriental Society (1842). Beberapa tahun terakhir ini kita melihat usaha-usaha yang dilakukan para sarjana untuk membongkar kepalsuan sendi-sendi orientalisme. Namun pukulan-pukulan terhadap orientalisme itu mencapai puncaknya ketika Profesor Edward Said menerbitkan bukunya berjudul Orientalism pada 1978, sebagai kritik menyeluruh terhadap bangunan orientalisme dan dogma-dogmanya.

Jauh sebelum itu, Anwar Abdel Malek dari Universitas Sorbonne telah menyerang dasar-dasar ilmiah orientalisme yang, menurutnya, tidak lagi bisa dipertahankan, dalam tulisannya Orientalism in Crisis. Menyusul kemudian kritik tajam Anwar Ahmad Qadri, seorang sarjana Pakistan dalam jurnal Islamic Literature (November 1968) dengan judul The Science of Orientalism for the Decline of Islamic Law. Dalam jurnal yang sama, Hamid Algar, guru besar Universitas Berkeley, menurunkan tulisan The Problems of Orientalists (Februari 1971). Namun pukulan-pukulan ini belum bisa mengguncangkan bangunan orientalisme yang dilakukan oleh Edward Said. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Edward Said telah berhasil meruntuhkan sendi-sendi orientalisme, walaupun mungkin belum seluruhnya.

Said adalah Profesor bahasa Inggris dan perbandingan kesusastraan di Universitas Columbia dan pernah mengajar di universitas-universitas Harvard, Standford dan Princeton. Kita berterima kasih kepada Edward Said yang telah berhasil dengan gemilang membongkar kepalsuan sendi-sendi ilmiah orientalisme. Ketika profesor ini berceramah di Universitas Chicago beberapa waktu lalu, para pendengarnya mengakui bahwa buku Orientalism tersebut telah menyebabkan para orientalis harus menilai kembali, merevisi dan mengganti fondasi orientalisme, yang selama ini berjalan tanpa koreksi. Kritik tajam yang dimuat dalam Orientalism itu telah bergema di seluruh universitas-universitas di Amerika, tidak saja pada lembaga-lembaga yang langsung mempelajari masalah-masalah ketimuran seperti Center for Middle Eastern Studies dan Center for Far Eastern Studies, tetapi juga di departemen-departemen ilmu sosial.

Banyak sekali reaksi terhadap karya brilian Prof Said itu, baik yang pro maupun kontra. Yang pro misalnya tanggapan Basil Musallam, professor di Universitas Pennsylvania, berjudul Power and Knowledge, tulisan Stuart Schaar, professor di Brooklyn College New York, berjudul Orientalism at the Service of Imperialism, juga tinjauan Patrick Seale, seorang penulis terkenal dalam Eastern Reproaches. Yang kontra misalnya tulisan Victor Brumbert, pengajar di Universitas Princeton, yaitu Orientalism and the Scandalof Scholarship dan tulisan Emanuel Sivan, pengajar di Universitas Hebrew, berjudul Orientalism, Islam and Cultural Revolution. Yang terakhir ini malah menanggapi pikiran-pikiran Edward Said ketika bukunya baru akan naik cetak.

Kritik Edward Said yang sangat melumpuhkan orientalis itu juga mengundang tanggapan-tanggapan dari Leon Wieseltier, Arthur Gold dengan tulisannya Us dan Them, dan JH Plumb, professor di Universitas Cambridge dengan tulisannya Looking East in Error. Sudah tentu masih banyak lagi reaksi dari pihak-pihak yang pro dan kontra terhadap pukulan Said itu yang tidak sempat say abaca, karena membuka-buka pelbagai majalah dan jurnal di perpustakaan yang jumlahnya ratusan, memerlukan waktu sangat banyak. Perlu segera ditambahkan bahwa tanggapan-tanggapan yang kontra hanya bisa mengemukakan alasan-alasan naif di samping tidak memungkiri bahwa dogma-dogma lama orientalisme masih tetap dipakai oleh para orientalis dewasa ini, walaupun dengan wajah sedikit lain.

Berdasarkan tulisan-tulisan tersebut dan beberapa bahan lain, akan diuraikan secara singkat fungsi orientalisme, dogma-dogmanya dan sikap apa yang harus kita ambil dalam menghadapi buku-buku dan pikiran-pikiran para orientalis.

Fungsi Orientalisme

Ketika Napoleon menaklukkan Mesir pada 1789, ia membawa puluhan sarjana Prancis yang ditugaskan untuk mempelajari seluk-beluk masyarakat Mesir. Sebagai hasilnya, terciptalah 23 jilid besar tentang Egyptology, tentang serba serbi masyarakat Mesir ditinjau dari segi sejarah, adat istiadat, agama, bahasa, arkeologi, kesusastraan, politik, ekonomi, militer dan sebagaina. Tradisi Napoleon ini juga ditiru oleh negara-negara penjajah seperti Inggris dan Belanda. Karena semangat imperialism juga menjadi semangat orientalisme, maka fungsi studi orientalis adalah untuk “memahami dalam banyak hal untuk menguasai, memanipulasi, dan bahkan menggabungkan apa yang kelihatannya sebagai dunia lain.” Yang dimaksud dunia lain adalah Dunia Timur. Fungsi seperti ini mengakibatkan adanya kenyataan bahwa orientalisme itu ibarat kaca yang mencerminkan kekuatan Baratdan nafsu angkara murka imperialismenya.

Manusia Barat-Kristen pada zaman kolonialisme menganggap hanya orang-orang Eropa dan Amerika sajalah yang sesungguhnya benar-benar manusia, yang betul=betul bertaraf human. Sedangkan orang-orang Asia dan Afrika yang berkulit sawo matang dan hitam, dianggap setengah manusia (subhuman). Bagaimana rendahnya pandangan Barat terhadap Dunia Timur barangkali bisa dilukiskan oleh George Orwell (1939) yang mengatakan bahwa di belahan bumi sebelah Timur, manusia-manusia melarat berkerumun di mana-mana di sepanjang jalan. Mereka berwajah cokelat, kata Orwell,”tetapi sulit dimengerti bahwa mereka sesungghnya juga manusia-manusia yang punya nama.”

Menurut Orwell mereka ini setengah manusia dan setengah binatang, malah tak ubahnya seperti serangga. Mereka seolah-olah muncul dari dalam bumi, hidup dengan susah, menderita kelaparan dan kemudian meninggal dunia memenuhi kuburan –bersatu kembali dengan bumi. Tidak ada seorangpun yang menghiraukan bahwa mereka sudah tiada. Jadi menurut Orwell, manusia Timur itu seolah-olah sama dengan onggokan daging berwarna cokelat, yang bisa bergerak, yang hidup tanpa martabat dan cita-cita.

Karl Marx sendiri, yang oleh banyak orang dianggap sebagai jagoan anti imperialisme, memiliki pandangan sangat menghina terhadap masyarakat Timur, masyarakat oriental. Ia membenarkan kolonialisme Inggris terhadap India, dengan alasan orang-orang India itu bodoh, lamban dan terbelakang. Hanya imperialisme Inggrislah yang bisa membawa India ke arah revolusi kemanusiaan. Di samping itu konsep Marx tentang despotisme oriental cukup terkenal, yang menyatakan bahwa masyarakat Timur adalah masyarakat despotis, anti demokrasi. Dan karena bodohnya, menurut Marx, bangsa-bangsa Timur tidak mampu mewakili dirinya sendiri, maka harus diwakili oleh bangsa lain (sie konnen sich nicht vertreten, sie mussen vertreten werden). Maksudnya diwakili bangsa Barat. Tidak perlu diragukan lagi bahwa Marx memang picik, karena pengetahuan kemasyarakatannya tidak pernah melampaui Eropa Barat.

Karena dalam zaman imperialism negara-negara Timur yang memang lemah menjadi mangsa negara-negara Barat, orientalisme yang bersenyawa dengan imperialism itu meletakkan masyarakat Timur sebagai sasaran studi yang diselidiki, diukur, didisiplinkan dan dihukum dengan keputusan-keputusan ‘ilmiah’. Jadilah orientalisme pada hakikatnya adalah doktrin politik yang dipaksakan terhadap Dunia Timur lebih lemah ketimbang Barat.

Pada abad ke 19, studi orientalisme telah mapan dan berakar kuat. Pokok-pokok pikiran dan stereotip-stereotipnya menyebar ke seluruh kebudayaan Barat. Dan karena semua ini sejalan dengan kepentingan imperialis, pokok-pokok pikiran orientalisme dengan cepat menggenangi teks-teks sejarah, ekonomi, politik dan estetika Barat. Silverster de Sacy dan Ernest Renan dari Prancis serta Edward Lanes dari Inggris, adalah orientalis-orientalis besar yang sangat berpengaruh dalam memelihara asas-asas orientalisme yang telah diletakkan sebelumnya, sambil membuat sistematika dan analis baru yang sesuai dengan kebutuhan imperialisme. Asas terpenting yang tidak pernah goyah adalah dikotomi antara inferioritas Timur dan superioritas Barat, dekadensi TImur dan keunggulan Barat dan semacamnya. Restrukturisasi orientalisme dan pengukuhannya di abad ke 19 telah melicinkan jalan bagi perluasan imperialisme yang kemudian diperkuat dengan barisan orientalis terkenal seperti Flaubert, De Nerval, TE Lawrence, Lamartine, Burton, Chateaubriand, Margoliouth, Massignon, Dozy, HUrgronje, Lammens, Juynboll, Guilamme, Goldziher, Bergstrassen, dan masih banyak lagi.

Untuk memahami pendekatan (approach) orientalisme pada masyarakat Timur, kita harus mengingat watak imperialisme yang selalu memaksakan kehendaknya pada rakyat jajahannya. Dalam ilmu pengetahuanpun, kesarjanaan orientalis telah menggolong-golongkan dengan paksa fenomena yang kelihatannya aneh di dunia Timur bagi mereka, ke dalam kategori-kategori tertentu sesuai dengan kehendak si orientalis. Bahwa proses penyelidikan seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan, tidaklah menjadi soal bagi mereka. Bahkan bisa dikatakan akhirnya orientalisme merupakan metaphor imperialism dan demikian sebaliknya. Meminjam kata-kata Basil Musallam,”Orientalism is a manner of imperialism; imperialism is a manner of orientalism.” Menyebut orientalisme secara otomatis akan mengingatkan imperialism dan demikian sebaliknya. Malah bisa pula kita katakana bahwa imperialism adalah tingkatan tertinggi orientalisme.

Perlu diketahui, orientalisme yang mempelajari Timur Jauh (Jepang, Korea dan Cina) dewasa ini dalam batas tertentu sudah mengalami beberapa perubahan positif dalam hal pendekatan maupun dogma-dogmanya. Mereka mau mengakui adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat Timur Jauh, sehingga merasa perlu mengganti alat-alat analisisnya. Akan tetapi anehnya, para orientalis yang mempelajari Islam dan masyarakatnya, Dunia Arab pada khususnya dan Timur Tengah pada umumnya, masih belum bergeser sama sekali dari doktrin-doktrin dan dogma-dogma lama yang sudah usang.

Enam Macam Dogma

Marilah kita lihat apakah dogma-dogma orientalisme itu. Pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior dengan Timur yang sesat, irasional, terbelakang dan inferior. Seperti dikatakan di atas, menurut anggapan mereka hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan manusia penuh, sedangkan orang Asia Afrika hanya bertaraf setengah manusia.

Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan kepada teks-teks klasik dan ini lebih diutamakan daripada bukti-bukti nyata dari masyarakat Timur yang kongkrit dan riil. Dalam masalah ini para orientalis tidak bisa mengelakkan tuduhan Edward Said bahwa mereka tidak mau menyelidiki perubahan yang terjadi dalam masyarakat Timur, tetapi lebih mengutamakan isi teks-teks kuno, sehingga orientalisme berputar-putar di sekitar studi tekstual, tidak realistis. Hitti, umpamanya, mengatakan bahwa untuk mempelajari Islam dan umatnya tidak diperlukan kerangka teori baru karena menurutnya, masyarakat Islam yang sekarang ini masih persis sama dengan masyarakat Islam sembilan abad yang lalu. Bukankah kesarjanaan Hitti patut kita pertanyakan?

Ketiga, Timur dianggap begitu lestari (tidak berubah-ubah), seragam dan tidak sanggup mendefinisikan dirinya. Karena itu menjadi tugas Barat untuk mendefinisikan apa sesungguhnya Timur itu dengan cara yang sangat digeneralisasi, dan semua ini dianggap cukup ‘obyektif’.

Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang perlu ditakuti (ingat bahaya kuning, gerombolan Mongol, bahaya cokelat dan sebagainya) atau sesuatu yang perlu ditaklukkan (dengan pasifikasi, dengan riset, atau kalau mungkin dengan penjajahan mentah-mentah).

Apabila seorang orientalis mempelajari Islam dan umatnya, keempat dogma itu perlu ditambah dengan dua dogma pokok lainnya.

Kelima, Al Quran bukanlah wahyu Ilahi, melainkan hanyalah buku karangan Muhammad yang merupakan gabungan unsur-unsur agama Yahudi, Kristen dan tradisi Arab pra Islam. Chateaubriand, misalnya, mengindoktrinasi murid-muridnya bahwa Al Quran itu sekedar buku karangan Muhammad (le livre de Mahomet). Al Quran tidak memuat prinsip-prinsip peradaban maupun ajaran yang bisa memperluhur watak manusia. Chateaubriand bahkan mengatakan Al Quran tidak mengutuk tirani dan tidak menganjurkan cinta pada kemerdekaan. Tentu tidak usah kita berikan komentar panjang betapa jahilnya orientalis ini terhadap isi Al Quran.

Keenam, kesahihan atau otensitisitas semua Hadis harus diragukan. Malah ada yang mengkritik syarat-syarat sahihnya hadis, seperti dilakukan oleh Josep Schacht, seolah-olah di samping ada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, ada pula “Shahih Joseph Schacht”.

Enam dogma tersebut sampai sekarang masih dipegang teguh oleh para orientalis yang mempelajari Islam. Refleksi dari dogma-dogma itu bermunculan dalam karangan-karangan mereka, kadang-kadang tersurat dan sering tersirat. Karena itu jika kita membaca buku-buku orientalis dengan teliti dan dengan pikiran kritis, kita akan banyak sekali menjumpai ketidakjujuran intelektual (intellectual dishonesty) dan pikiran-pikiran yang menyesatkan. Tidak berlebihan kiranya kalau kita bersama Edward Said menggelari tradisi orientalisme itu sebagai suatu skandal intelektual yang menjijikkan, yang penuh dengan dosa intelektual.

Sarjana-sarjana Barat Ahli Asia telah mengadakan revolusi terhadap pandangan-pandangan mereka yang sudah using. Ahli-ahli tentang Afrika telah mengadakan beberapa revisi terhadap kerangka teori dan pendekatan mereka, begitu pula halnya para ahli tentang Dunia Ketiga. Tetapi anehnya, hanya mereka yang ‘ahli’ tentang Arab dan Islam yang tetap keras kepala tidak mau melakukan revisi, sebagaimana kata Profesor Said… II

Izzadina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *