Permakultur, Gerakan Konservasi Berbasis Kearifan Lokal

by
Permainan Teras, Kolam, Dam, Swale di lahan berkontur untuk kelestarian lahan

Perubahan besar kita perlukan untuk berubah dari perilaku konsumsi ke perilaku produksi, walaupun dalam skala kecil, dalam kebun kita sendiri. Jika hanya 10% saja dari kita melakukan ini, akan ada cukup makanan untuk semua orang. – (Bill Mollison, Permaculture Founder)

WartaPilihan.com, Depok— Saat ini, kita hidup dalam budaya yang semakin bergantung pada industri. Sebuah peradaban yang mengandalkan: makanan cepat saji, barang sekali pakai dan bensin murah. Sebuah peradaban yang dengan cepat akan membuuh dirinya sendiri. Disinilah konsep Permakultur diperlukan.

Permakultur adalah cara lain untuk melihat dunia dan sumber dayanya. Mari kita lihat apa yang dimaksud dengan permaculture, sejarah gerakan konservasi ini, dan mengenal beberapa pencetusnya. Anda mungkin melihat atau bertemu dengan orang-orang yang sudah menerapkan beberapa bentuk dasar gerakan kecil namun berkembang ini.

Permakultur, seperti yang sudah Anda duga, adalah dibangun dari kata-kata kultur (budaya) dan perma sebagai kependekan dari kata permanen (berkelanjutan). Gagasan ini mengajak kita sadar bahwa kita harus lebih mengandalkan pertanian berkelanjutan, dan tidak tergantung pada bahan bakar fosil.

Permakultur menggunakan sumber daya lokal, perencanaan tanaman yang lebih beragam, dan pemupukan non-kimiawi. Permakultur adalah gerakan yang jauh dari segala sesuatu yang besar dan industri ke pertanian yang lebih kecil dan berkelanjutan, sehingga mendorong saling ketergantungan di antara anggota masyarakat.

Berikut beberapa Pencetus dan pelaku Permakultur

Bill Mollison

Semuanya dimulai pada tahun 70-an oleh seorang ahli biologi dan ahli ekologi margasatwa bernama Bill Mollison dari Australia. Dia melihat monster revolusi industri yang berkembang dan dampaknya terhadap budaya kita. Dia merasa bahwa budaya semacam ini akhirnya bisa masuk karena nafsu makannya yang mengerikan. Alih-alih bereaksi negatif terhadap hal ini, dia malah memutuskan untuk mengambil pendekatan yang lebih positif.  Dengan mempelajari alam, dia sampai pada beberapa kesimpulan tentang bagaimana alam melewati siklus berkelanjutan tanpa campur tangan manusia. Bill mulai hidup dengan alam dan kemudian mengajarkan filosofinya.

Masanobu Fukuoka

Seorang pria lain yang diam-diam membangun sebuah gerakan berikut ini adalah Masanobu Fukuoka. Dia percaya bahwa Anda harus meminimlakan campur tangan terhadap tanah secara absolut. Benih ditanam tepat di permukaan tanah dan kemudian ditutupi dengan jerami atau mulsa ringan lainnya. (mulsa= daun, bahan-bahan yang membusuk, kotongan hewan dan bahkan bangkai hewan, yang  menjadi lapisan penutup tanah. Mulsa yang telah membusuk akan menjadi sumber makanan untuk tanaman sekitarnya)

Gulma dipangkas di sekitar  bunga dan dibiarkan menjadi bagian dari mulsa. Ini membunuh vegetasi yang tidak diinginkan tanpa racun dan menciptakan tanah yang subur untuk ditanam. Pada saatnya tanah menjadi sehat dan gulma dan hama menjadi kurang memprihatinkan.

“Biarkan burung-burung  yang memelihara kebun, tidak memerlukan pengetahuan manusia atau campur tangan manusia, serahkan kepada alam”, Kata Fukuoka

Ruth Stout

Ruth Stout adalah suara lain di komunitas ini. Gagasannya tentang berkebun “no-till (biarkan-hingga)” telah menyebabkan banyak orang mengubah pandangan mereka tentang gulma dan penyiangan. Mirip dengan Fukuoka, dia mengaku tidak perlu gulma tapi membiarkan tanaman tumbuh bersama.

Semua vegetasi,  yang “baik” (diharapkan tumbuh) dan “buruk” (tidak diharapkan tumbuh),  keduanya membangun tanah, yang menyebabkan tanaman sehat, yang berarti lebih sedikit hama. Setelah tanah dibangun, penyiangan menjadi sesederhana melewatinya. Semua tanpa bahan kimia dan pestisida.

Itulah Permakultur

Dari awal ‘revolusi’-nya yang kecil dan tenang, jelas bahwa permaculture harus didukung, baik skala yang lebih besar atau kecil. Polusi akibat limbah industri dan sistem transportasi massal sedang dalam perjalanan menuju jalur kematiannya.Suatu saat ongkos pengiriman akan menjadi terlalu mahal untuk mendatangkan makanan kita dari seluruh negeri, sehingga lebih masuk akal untuk membeli makanan yang ditanam secara lokal atau menumbuhkannya sendiri.

“Bekerja di kebun…memberikan aku perasaan damai yang mendalam”, demikian Routh

Iskandar Waworuntu, Bumi Langit Institute

Pelaku konsep Permakultur di Indonesia, dapat disebut diantaranya adalah Iskandar Waworuntu. Beliau mendirikan Bumi-Langit Institute di Imogiri, Yogyakarta.  Di Lahan seluas 3.5 Ha, kita bisa melihat bagaimana  prinsip permakultur diterapkan. Berikut penuturan tentang Permakultur di Blog Bumi-Langit Institute tentang Permakultur:

Permakultur merupakan pengetahuan yang peduli dan mendorong cara-cara kreatif dalam kehidupan untuk menjaga keseimbangan dan keindahan, di mana silaturahmi makhluk-makhluk Allah dijaga dan diperbaiki dengan prinsip-prinsip:

  • Perencanaan yang baik dan desain yang bijak.
  • Menggunakan sumberdaya dengan seksama dan berhati-hati.

Dalam permakultur, kita terpanggil untuk memenuhi kebutuhan manusia dan makhluk Allah yang lain.

Dalam permakultur, semua limbah diubah menjadi sumberdaya kehidupan yang baru.

Dalam permakultur, kita mengubah sistem kehidupan manusia dari pola konsumtif menjadi model produktif dan kreatif.

Dalam permakultur, kita menemukan kembali cara yang baik dan benar dalam menjalin saling kasih sayang antara manusia dan alam, juga manusia dengan manusia lainnya.

Dalam permakultur, sebuah kehidupan manusia dikembalikan ke fitrah dan kita hidup dengan mengikuti aturan-aturan hukum Allah.

Permakultur adalah konsep perilaku yang mengaktualisasikan keberkahan Allah ke atas permukaan bumi.

Permakultur sebagai filosofi dasar telah tumbuh dan menyebarkan pendekatannya yang kurang mengganggu untuk hidup dan menggunakan bumi. Meskipun tampaknya berhubungan dengan hippies generasi kedua dan ketiga, “bahkan Urbanites mempraktikkannya dengan menumbuhkan kebun untuk sayuran dan melemparkan hiasan di tempat tidur. Ya, permakultur, dalam beragam filosofinya akan berdampak pada kehidupan kita – tapi hanya untuk kebaikan.

Abu Faris,

Praktisi & Alumni 7th Certified Permaculture Design Course

Sumber:

http://www.goinggreensuccesstips.com/what-is-permaculture/

https://bumilangitinstitute.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *