PENULISAN SEJARAH DI MASA AWAL ISLAM

by
foto:https://s2.bukalapak.com

Sejarah Islam pada awalnya merupakan bagian dari ilmu hadits, para sejarawan sendiri sangat berpegang pada metode ahli hadits. Sejarah ditulis dengan jalan periwayatan khabar dan sanadnya. Prof. Raghib As-Sirjani menyatakan “Kemudian berita (tentang Rasulullah) itu dijadikan nash lalu disebut matan.” Maka buku-buku sejarah generasi awal Islam lebih ditujukan pada sabda-sabda, perbuatan dan perjuangan Rasulullah SAW. Hal itu dimaksudkan untuk mendapat petunjuk dan pegangan.

Wartapilihan.com, Jakarta –Dalam perkembangannya,  hadits menjadi terpisah dengan penulisan sejarah, karena hadits lebih dipakai para muhaddits dan fuqaha, lebih dipakai sebagai pedoman aqidah dan syariah, maka hingga kini bentuk historiography yang dianggap tertua ialah maghazi dan sirah, yang bermula di zaman tabi’in dan tabiut tabi’in, dengan jumlah yang amat terbatas, tidak seperti hadits yang sudah menyebar ke seluruh penjuru wilayah Islam.

Namun demikian, maghazi dan tarikh masih identik dengan hadits kerena sama-sama memakai metode periwayatan, objeknya pun masih sama baginda Rasulullah SAW. Perbedaannya hanyalah maghazi dan sirah bersifat kronologis dan perjuangan dan manhaj beliau SAW secara umum, sedangkan hadits lebih bersifat tematik serta berupa bagian-bagian perbuatan yang pembahasannya tidak kronologis.

Pembukuan sejarah menurut Raghib As-Sirjani, memiliki tiga metodenya, pertama metode para ahli hadits dalam sejarah atau sirah Nabi. Kedua, metode pemberitaan yang membedakan dengan metode pertama, yaitu memberi gambaran lebih lengkap pada peristiwa, lebih terinci, yang dikisahkan melalui syair dan ungkapan, metode ini berkembang di Kufah. Lalu mulai muncul metode ketiga, yaitu gabungan dari dua metode di atas, di mana Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam termasuk yang ketiga ini karena isinya yang berupa gabungan dari metode hadits dan pemberitaan, serta banyaknya ungkapan-ungkapan syair. Pembahasan-pembahasan khusus dalam sejarah pun mulai muncul, yaitu sejarah yang mengkhususkan pembahasan perang, futuhat-futuhat oleh kaum Muslimin dan nasab-nasab.

Menurut Yusri Abdul Ghani dalam Historiografi Islam dari klasik hingga modern, terdapat dua metode penulisan sejarah Islam pada awalnya, yaitu metode kronologis tahun atau hauliyat, dan yang kedua adalah al-uhud yaitu metode berdasarkan paparan berbagai peristiwa, uraian kisah dan disusun berdasarkan masa kejadian.

Dari dua gambaran metode kalangan sejarawan Muslim yang dipaparkan As-Sirjani dan Yusri Abdul Ghani ini tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaannya hanyalah jika Sirjani memasukan hadits Nabi dan atsar (umumnya kisah-kisah sahabat Nabi) sebagai metode penulisan sejarah, sedangkan Abdul Ghani tidak memasukannya. Tetapi keterkaitan historiografi Islam dengan hadits Nabi sendiri sudah memberikan gambaran bahwa sejarah di masa lalu merupakan ilmu yang tidak terlepas dari agama. Ada pun sejarah dalam bentuk sekular dan kebangsaan yang tidak memasukan asas aqidah Islam baru ada di masa penjajahan Eropa ke negeri-negeri Muslim.

Ilham    Martasyabana, penggiat sejarah Islam
(Sumber: Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia; Yusri Abdul Ghani Historiografi Islam dari klasik hingga kontemporer)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *