Pemimpin Mukmin

by
foto:istimewa

Oleh: Herry M. Joesoef

”Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan/pimpinan.” (HR. Imam Abu Dawud)

Wartapilihan.com, Jakarta –Begitulah indahnya ajaran Islam. Tiga orang bepergian, disyariatkan untuk menujuk seorang pemimpin diantara mereka guna melayani dan mengatur berbagai keperluan anggota rombongan tersebut.

Pemimpin dan kepemimpinan adalah kebutuhan dalam menjalani hidup secara sosial. Kriteria dasar seorang pemimpin, bisa merujuk pada memilih imam dalam shalat berjamaah. Sang Imam mestilah seorang yang paling banyak hafalan Al-Qurannya, lebih fasih, ber-akhlak mulia, dan baligh. Jika hafalan, kefasihan, dan akhlaknya sama mulianya, maka carilah yang paling senior diantara mereka. Di sini, selain adanya kompetensi, maka adab –dengan memberikan kepada yang senior– perlu dikedepankan. Kompetensi dan adab menyatu dalam sebuh kepemimpinan.

Adalah Imam al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Barang siapa memilih pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah daripada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.”

Hadits ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa memilih pemimpin bukanlah hal yang sederhana. Ini masalah prinsip, dan karena itu mesti cermat betul sebelum menjatuhkan pilihan pada seorang calon. Jika untuk memilih pemimpin dalam satu kelompok yang jumlahnya dalam hitungan puluhan saja mesti dipilih yang benar-benar kapabel dan amanah, apalagi untuk kepemimpinan yang menyangkut desa, kecamatan, kota, kabupaten,provinsi, bahkan negara.

Berkhianat pada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, sungguh merupakan suatu ancaman yang cukup keras, dan ini ditujukan kepada siapa pun yang tidak bertanggungjawab dalam memilih pemimpinnya. Karena itu, sebagai rakyat yang punya hak memilih, ia berhak mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya tentang para calon yang akan dipilih untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Dan, rakyat yang memilih, tentunya, seyogyanya mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang si calon, sebelum akhirnya ia menjatuhkan pilihannya sesuai hati nuraninya.

Karena itu, tak dibenarkan mendapatkan materi untuk memilih seorang calon. Adalah Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga golongan yang pada hari kiamat kelak tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan (dihapus dosa-dosanya), dan bagi mereka siksaan yang pedih.”

Siapakah mereka?”Golongan pertama adalah seseorang yang memiliki kelebihan air di jalanan (berumah di pingir jalan), tapi menolak memberikannya kepada ibnu sabil (musafir yang sedang lewat). Golongan kedua adalah seseorang yang memilih pemimpin karena si calon memiliki harta. Jika si calon memberi apa yang ia inginkan, ia akan memilihnya; jika si calon tidak memberinya sesuatu yang berupa materi, si calon tidak dipilihnya. Adapun golongan ketiga adalah, seseorang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain di waktu sore hari, ia bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah ditawar sekian, sehingga calon pembeli membelinya dengan harga tersebut, padahal tidak pernah ada sebelumnya orang yang menawar seperti itu.”

Yang dimaksud oleh hadits tersebut cukup jelas, menerima suap, baik berupa uang maupun sembako atau barang, dari si calon. Dan seseorang itu menjatuhkan pilihannya kepada si calon yang telah memberinya sejumlah materi. Ia dipilih dalam proses suap-menyuap. Si calon menyuap, si pemilih disuap. Klop. Ia tidak memilih sesuai dengan hati nuraninya. Maka, Allah tidak akan menolongnya di akhirat kelak, bahkan ia akan dapat siksa yang sungguh amat pedih.

Keberhasilan seseorang menjalankan fungsi kepemimpinannya bisa diukur dengan sejauh mana ide-idenya terealisir dengan menggunakan jasa orang-orang. Tapi, efektif tidaknya suatu kepemimpinan bisa dilihat dari bagaimana anak buah melaksanakan apa yang telah digariskan atau diprogramkan oleh atasanya itu. Bisa saja suatu kepemimpinan itu berhasil, tapi bila anak buah atau orang-orang yang terlibat melaksanakan program tersebut melakukannya dengan ‘terpaksa,’ maka kepemimpinan tersebut jelas tidak efektif. Sebab, kepemimpinan model begini tidak mempunyai nilai partisipatif, yang ada hanyalah “keterpaksaan”.

Lalu, bagaimanakah kepemimpinan itu bisa berhasil dan efektif? Hendaknya ada keterbukaan. Pemimpin mau menerima kritikan, betapapun pedasnya kritikan itu. Tak berhenti di sini, tentu. Kritikan yang muncul perlu mendapat perhatian untuk perbaikan di masa-masa mendatang. Bukan malah membungkam sang pengkritik.

Itu sebabnya, kehidupan pemimpin mestinya merupakan pantulan hidup dari masyarakatnya. Lihatlah pada tarikh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Khalifah Ar-Rasyidin, bagaimana kehidupan keseharian mereka. Beliau dan para Sahabatnya adalah mereka yang berhenti makan sebelum kenyang, dan lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Rumah dan perabotannya sangat sederhana. Begitu pula pakaiannya. Bahkan, Ali bin Abi Thalib, sebagai khalifah, sudah merasa cukup hanya dengan dua potong pakaian yang sudah lusuh dan dua potong roti kering untuk mengisi perutnya setiap hari. Tapi, di balik kesederhanaan yang diteladankan oleh sang Rasul dan para Sahabatnya itu terpancar sinar surgawi yang menyejukkan. Mereka betul-betul menghayati hidupnya, jujur-kata jujur-hati, satunya kata dengan perbuatan, adil, serta hanya takut pada Ilahi Rabbi.

Adapun ketaatan itu pertama-tama adalah kepada Allah, kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu kepada pemimpin yang mentaati Allah dan Rasul-Nya. Hierarki ketaatan ini jangan dibolak-balik, agar umat tidak jungkir balik dibuatnya. Adalah Mu’az Radhiyallahu Anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah, pernah ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Dengan apa engkau akan memutuskan suatu hukum?”

“Dengan Kitab Allah,” jawab Mu’adz.

“Jika engkau tidak mendapatkannya?” tanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

“Dengan sunnah Rasulullah,” Mu’adz menjawab.

“Dan jika tidak mendapatkannya juga?

“Aku akan berijtihad dengan pendapatku,” jawaban ini membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersenyum, menepuk dadanya seraya berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik dan kepada utusan Rasulullah atas apa yang telah diridhai oleh Rasulullah.”

Begitulah seorang pemimpin Muslim yang punya kualitas Mukmin dalam menjalankan amanah. Ia bukanlah Muslim secara formal identitasnya itu tercantum dalam KTP atau paspornya, tapi ia seorang Mukmin yang benar-benar mengimani, mengilmui, dan mengamalkan Islam sebagai jalan hidupnya

Mereka itulah para pemimpin yang memakmurkan masjid-masjid Allah di muka bumi, dan tidak takut kepada siapa pun kecuali hanya kepada-Nya semata, sebagaimana tersurat dalam surah At-Taubah ayat 18:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Orang-orang Mukmin itu adalah para pemakmur masjid dengan ciri-ciri beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat(infak, sedekah, dan wakaf), dan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Sang Khalik. Orang-orang Muslim berkualitas Mukmin inilah yang diharapkan sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan para pemakmur masjid adalah salah satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Allahu Akbar!

Hanya orang-orang yang punya keimanan yang benar kepada Allah saja yang berhak memakmurkan masjid-masjid Allah itu. Iman yang benar itu adalah dengan mempercayai Hari Akhir, bahwa sesudah kehidupan di dunia ini aa kehidupan yang abadi, tempatnya pun sesuai dengan amal perbuatan mereka selama di dunia. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan shalat secara khusyu’, menunaikan zakat (infak, sedekah, dan wakaf), dan tidak ada yang ditakuti di dunia ini kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Tidak juga takut kepada kemiskinan, ancaman, atau kehilangan jabatan. Orang seperti inilah yang tauhidnya benar, dan selalu berjalan di lajur sirootol-mustaqim.

Buku ini hadir untuk memberi panduan kepada kaum Muslimin dalam memilih pemimpin. Di negara dengan mayoritas penduduknya Muslim ini, tentu kita tidak boleh main-main dalam memilih pemimpin. Ini masalah prinsip.

Bertabur ayat yang melarang umat Islam memilih pemimpin kafir dan munafik(liberal dan sekuler). Orang-orang Muslim hanya direkomendasikan untuk memilih pemimpin Muslim berkualitas Mukmin. Dengan kepemimpinan di tangan Mukmin, Islam sebagai Rahmatan Lil’Alamin akan mewujud dalam realitas sosial.

Rahmat itu tidak hanya dinikmati oleh kaum Muslimin saja, tapi kaum kafir juga akan menikmatinya. Bedanya, kaum Muslimin mendapatkan di dunia dan akhirat, sementara kaum kafirin hanya mendapatkan di dunia saja. Hal ini karena mereka yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetap akan dilindungi dari apa yang telah menimpa bangsa-bangsa terdahulu, berupa gempa bumi, tsunami, dan hujan batu, yang menyebabkan kemusnahan mereka.

Bagi orang kafir, meskipun mereka enggan menerimanya, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka. Ibaratnya orang mengatakan bahwa, “Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit. Jika pun si fulan tidak mau meminum obatnya, obat tersebut tetaplah obat yang bermanfaat bagi si sakit.”

Kepemimpinan di tangan Mukmin, in-syaa Allah, akan membawa negeri ini menuju cita-cita bersama: Baldatun thayyibatun wa robbun ghofûr (Negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun), sebagaimana tersurat dalam surah Saba’: 15.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *