Pemimpin Agama Berhati-hatilah Bersikap!

by

Orang biasa berbuat salah, memang dia berdosa tapi tidak banyak efeknya. Tokoh, apalagi tokoh agama atau ulama, apalagi pimpinan institusi berbasis agama berbuat salah, dosanya berlipat-lipat.

Wartapilihan.com, Jakarta– Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bab Taubat menyebut ada 6 hal yg menyebabkan dosa kecil bisa menjadi dosa besar. Sebelum membahasnya, kita perlu tahu bahwa dosa kecil bisa dihapus dengan kita melakukan shalat 5 waktu, Jumatan, puasa Ramadhan, shalat berjamaah di masjid, umrah dan sebagainya, dengan syarat, ia tidak melakukan dosa besar. Sedangkan dosa besar, selain menghalangi terhapusnya dosa kecil, juga tidak bisa dihapus begitu saja dengan ibadah-ibadah ritual tersebut. Ia harus taubatan nasuha. Taubat sebenar benar taubat, minta ampun kepada Allah, mengembalikan hak-hak orang lain yang didzalimi (jika ada), menyesal, tidak ingin mengulangi dan mengimbanginya dengan berbuat amal shalih.

Yang nomer enam, dosa kecil bisa menjadi dosa besar karena yang melakukannya adalah tokoh atau orang alim yang diikuti orang banyak. Perbuatannya selain meruntuhkan nilai-nilai agama dan institusi yg dipimpinnya, juga berpotensi akan ditiru pengikut atau anak buahnya. Kalau dia mati, tinggallah kejelekannya berserakan di sana-sini lama sekali. Allah berfirman, “Wa naktubu maa qaddamuu wa atsarahum. Dan kami menulis apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekasnya.” (QS Yasin: 12) Yang dimaksud bekas-bekasnya adalah akibat dari perbuatan dosanya yang ditiru orang lain.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa celakanya orang alim dari pengikutnya adalah jika ia tergelincir dan kembali bertaubat, sementara orang-orang masih menirunya bahkan menjadikannya pedoman. Ada orang alim berbuat dosa dan diikuti pengikutnya. Lalu ia bertaubat dan berusaha memperbaiki diri selama setahun. Lalu Allah menurunkan wahyu melalui seorang hamba-Nya, “Dosamu kepada-Ku sdh Kuampuni. Tapi bagaimana dg hamba-hambaKu yang sudah kamu sesatkan?”

Dosa kecil bisa menjadi dosa besar jika dilakukan oleh tokoh agama atau ulama. Apalagi jika yang dilakukannya dosa besar seperti korupsi atau tidak amanah dengan memperjualbelikan jabatan. Kita bisa membayangkan betapa besarnya dosa tersebut. Naudzu billah min dzalik.

Dr. Adian Husaini dalam cermahnya di OJK menekankan pentingnya ‘trust’ bagi tegaknya satu masyarakat atau peradaban. Trust akan hancur jika nilai-nilai kebaikan rusak. Dalam hal ini ulama, tokoh agama, atau ilmuwan adalah yang paling bertanggung jawab dalam menjaga nilai-nilai kebaikan tersebut. Karena itu kasus jual beli jabatan di satu institusi keagamaan adalah masalah yang sangat serius.

Eropa berubah menjadi sekuler liberal dan kapok dengan agama, setelah pemuka-pemuka agama dan juga institusi keagamaan kehilangan legitimasi moralnya. Sebab mereka korup dan bejat akhlaknya.

Jika para tokoh agama tidak dapat memegang amanah, para ulama sibuk mengejar keuntungan duniawi, dan sebagainya, maka umat juga akan lari dari mereka. Jika orang-orang yang dianggap mengerti agama tidak mampu menjadi teladan bagi masyarakat, tentu saja sulit dibayangkan masyarakat umum akan sudi mengikuti mereka.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua peristiwa ini, untuk kebaikan umat di masa yang akan datang. Amiin.

Penulis:

Dr. Budi Handriyanto,

Peneliti Senior Insists ( Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *