Pembuluh Darah Buatan

by
sumber:https://i2.wp.com/husnaherbal.com/wp-content/uploads/2015/06/Makanan-Ini-Dapat-Menyehatkan-Pembuluh-Darah.jpg?resize=410%2C260

Universitas Airlangga Surabaya mengembangkan pembuluh darah buatan. Sifatnya  elastis. Bisa digunakan untuk mengatasi kerusakan pembuluh darah jantung yang tersumbat?

 Wartapilihan.com, Jakarta –Para mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya sukses membuat pembuluh darah buatan. Mereka adalah Iffa Aulia Fiqrianti, Claudia Yolanda Savira, Muhammad Abdul Manaf, Fitria Renata Bella, dan Nadia Rifqi Cahyani.

Mereka ikut menciptakan pembuluh darah buatan yang merupakan implan biodegradable. Pembuluh imitasi ini ditujukan untuk menggantikan pembuluh darah yang rusak akibat aterosklerosis.

Aterosklerosis adalah peradangan pada pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi atau hipertensi dan kolesterol jahat di atas normal. Bila terjadi penyumbatan pembuluh darah pada pasien ini dapat mengakibatkan sejumlah penyakit kronis lain seperti stroke, angina, dan penyakit jantung koroner.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa penyakit pembuluh darah dan jantung ini adalah penyumbang besar angka kematian tertinggi di dunia yakni sebesar 46%. Sementara itu angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di negara kita 37 dari total penyebab kematian dari penyakit tak menular.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dokter jantung melakukan operasi pergantian pembuluh darah yang rusak dengan pembuluh darah yang baru. Biasanya diambil dari pembuluh darah paha pasien. Terkadang menggunakan pembuluh darah donor atau hewan. Operasi itu dinamakan operasi pintas jantung.

Akan tetapi, dalam laman Universitas Airlangga Unair.ac.id, pembuluh darah donor sering menimbulkan reaksi penolakan dari tubuh, sehingga pasien harus mengonsumsi obat anti penolakan seumur hidup. “Oleh karena itu, dibutuhkan graft buatan (sintetis) yang aman bagi tubuh pasien,” kata salah satu mahasiswa, Iffa Aulia.

Iffa mengutarakan, pembuluh darah buatan yang digarap timnya ini menggunakan poly L. lactic acid (PLLA), kitosan dan kolagen. “PLLA ini aman bagi tubuh, karena akan terurai menjadi asam laktat yang dapat diserap tubuh,” ujarnya.

Sedangkan, kombinasi kitosan dan kolagen, dapat membantu perlekatan sel. Sehingga ketika graft terurai, graft itu akan tergantikan oleh sel tubuh pasien. Berbeda dengan graft sintetis komersil yang rata-rata sulit terurai dan dianggap sebagai ‘benda asing’ di tubuh pasien. “Kami harapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien operasi vascular bypass,” sambung Iffa.

Menanggapi studi para mahasiswa tadi, dokter  Herry Wibowo M. Kes dari Universitas Airlangga. mengatakan bahwa hasil penelitian lima mahasiswa  tersebut bagus untuk diterapkan di dunia medis khususnya bagi penderita aterosklerosis.

Ia bilang bahwa hasil studi ini sangat bagus untuk diterapkan, karena sel endotel dapat tumbuh di permukaan rongga graft. Jadi darah bisa mengalir dengan lancar dan mengurangi kemungkinan thrombosis. “Untuk tahap penerapan klinis tentu prosesnya masih panjang, tapi ini awal yang bagus,” katanya.

Ini merupakan salah satu upaya menemukan pembuluh darah imitasi yang cocok bagi manusia. Kini banyak ahli teknik jaringan dari seluruh dunia, terutama A.S., Inggris dan Jerman, tengah bekerja untuk mengembangkan pembuluh darah buatan. Beberapa dibuat dari sel-sel anak domba, sedangkan peneliti  lain membuat desain pembuluh darah dengan printer 3D.

Ambil contoh, ilmuwan dari Novosibirsk University dan Institute of Cytology and Genetics, Swedia, mengusulkan metode lain – tidak hanya menggunakan pembuluh darah buatan, tapi juga mengisinya dengan poli-hidrokarbon biodegradable – polycaprolactone dan chitosan – yang dibuat dengan memanfaatkan kerang chitin udang dengan zat alkali. Para ilmuwan menaruhnya dan mencampurkan dengan sel jantung manusia – sel endotel yang melapisi pembuluh darah – dan sel otot polos untuk menciptakan pembuluh darah

“Kombinasi sel yang dipilih membuat graft kuat dan tahan lama, “kata peneliti Novosibirsk State University Anna Smirnova.

Kitosan dan polycaprolactone juga memiliki kelebihan. “Chitosan memiliki karakteristik biologis yang fantastis: tidak menimbulkan respons kekebalan, biokompatibel saat dicangkokkan ke dalam tubuh dan memiliki sifat antimikroba. Tapi bahan yang berasal darinya tidak cukup kuat,” sambung Smirnova.

Itulah sebabnya para ilmuwan mencampur chitosan dengan polycaprolactone, yang mengompensasi ini. Campuran ini jauh lebih manjur.

Setelah serangkaian eksperimen, para peneliti menghitung rasio komponen optimal untuk pembentukan jaringan paling efektif pada permukaan membran.

Percobaan pada tikus dilakukan. Pembuluh baru ditanamkan ke aorta tikus. Hasil pengujian menunjukkan bahwa cangkokan sel yang terisi itu memiliki kekuatan yang cukup untuk bereaksi terhadap variasi tekanan darah.

Helmy K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *