Pelatihan Untuk Dokter

by
http://cdn2.tstatic.net

Pelatihan kepada dokter umum dan dokter spesialis penyakit jantung dilakukan. Sebanyak 1000 dokter mendapat pelatihan. Alasannya, pola hidup yang tidak sehat masih dilakukan dan masih tinggi kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Wartapilihan.com, Jakarta –Tingkat kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyakit jantung masih kurang. Mereka masih belum memahami apa saja yang harus dicegah untuk menghindari penyakit mematikan itu. Upaya pencegahan tersebut tidak hanya membutuhkan keterlibatan dari masyarakat, melainkan juga dari dokter.

Maka, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggandeng PT Pfizer Indonesia dan American College of Cardiology (ACC), memberikan program pelatihan kepada lebih dari 1.000 dokter umum dan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Indonesia. Isi pelatihannya berupa pencegahan dan metode teranyar dalam menangani pasien penyakit kardiovaskular.

“Kami berharap program kesadaran dan edukasi penyakit jantung ini dapat membantu para dokter spesialis kardiovaskular dan seluruh tim medis perawat di Indonesia memahami metode diagnosis penyakit, pengelolaan, dan instrumen perawatan medis penyakit jantung terkini yang tersedia, serta mampu memanfaatkan instrumen tersebut secara efektif kepada pasien di Indonesia” ujar Pamela Morris, MD, FACC, perwakilan dari ACC, dalam jumpa pers yang digelar Sabtu (21/10/17).

Sementara itu, Handoko Santoso selaku Medical Director Pfizer Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya sangat senang dapat mendukung pemerintah dan sistem rumah sakit dalam upaya mengurangi beban penyakit kardiovaskular di Indonesia melalui pembelajaran metode terbaru tentang terapi penyakit jantung serta penggunaan teknologi yang tersedia secara global. “Melalui program kerja sama ini, pasien di Indonesia akan merasakan perawatan kesehatan yang optimal, mulai dari pencegahan penyakit jantung hingga ke perawatannya,” ujar Handoko.

Sebelum di Indonesia, pelatihan serupa yang melibatkan kerjasama Pfizer dan ACC juga digelar di Cina pada tahun lalu. Pada tahun ini, pelatihan juga dilaksanakan di Rusia dan Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Mesir. Malaysia dan Vietnam akan mendapat jatah berikutnya.

Dalam pelatihan di Indonesia, pelatihan tahap pertama digelar di Jakarta dan berlangsung di Hotel Sheraton, Gandaria, Jakarta Selatan, sejak bulan ini. Pelatihan di Jakarta dihadiri lebih dari 150 dokter spesialis dan perawat. Kegiatan serupa menurut rencana berlangsung juga di kota lain, seperti Semarang, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makasar.  Acara di kota lain itu akan diselenggarakan tahun depan.

Aksi global tersebut juga perlu ditindaklanjuti dengan kerjasama yang terkoordinisasi antar institusi kesehatan, sektor swasta, dan juga para pasien. Menurut Morris, ini sangat diperlukan untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat demi jantung yang kuat.

“Penyakit jantung merupakan tantangan global, dan American College of Cardiology yakin bahwa tantangan ini akan lebih bisa dihadapi dengan bekerja sama dengan berbagai mitra organisasi di seluruh dunia,” imbuh Morris.

Ucapan Morris beralasan. Penyakit kardiovaskular masih menempati urutan pertama yang menyebabkan kematian terbanyak di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mencatat bahwa pada tahun 2015, sekitar 17,7 juta jiwa meninggal dunia setiap tahunnya akibat penyakit ini. Angka kematian tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 23 juta per tahun pada 2030.

Sedangkan di Indonesia penyakit kardiovaskular menyumbang 37% penyebab kematian di Indonesia. Sedangkan menurut hasil Survei Sample Registration System (SRS) tahun 2014, penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi sebesar 12,9%, setelah stroke.

Sementara itu, berdasarkan gejala dan diagnosa, data hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2013, penderita PJK berjumlah 883.447 orang atau 0,5% dari total penduduk Indonesia. Adapun provinsi yang memiliki prevalensi PJK tertinggi di Indonesia adalah Jawa Timur dengan angka 1,3%, sedangkan

Angka tersebut tumbuh karena pola hidup yang tidak sehat masih terus dijalani. Jumlah perokok di Indonesia masih tinggi. Begitu pula pengonsumsi makanan berkolesterol tinggi, dan yang kurang berolahraga serta stres.

Sebelum dilakukan pelatihan yang digagas Pfizer, ACC dan PERKI, pemerintah Indonesia juga telah membuat langkah-langkah pencegahan. Saat ini, sekitar 9.000 Puskesmas di Indonesia sudah dilibatkan dengan menyediakan perawatan pencegahan penyakit jantung.

Dengan begitu, Ketua PERKI DR. Dr. Ismoyo Sunu, SpJP (K), FIHA, FAsCC, menyambut baik kerjasama tersebut. Ia  berharap program ini merupakan awal terbentuknya strategi jangka panjang dan terintegrasi untuk mengurangi jumlah penyakit kardiovaskular. “Saya percaya program ini akan bermanfaat dan mendukung upaya kami menurunkan tingkat penyakit kardiovaskular di Indonesia,” katanya.

Helmy K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *