Nestapa Rohingya di Rakhine

by
http://www.aljazeera.com

Ribuan etnis Rohingya yang tersisa di Myanmar hidup dalam ketakutan. Mereka membutuhkan pangan dan perawatan kesehatan.

Wartapilihan.com, Rakhine –Muslim Rohingya yang¬† terjebak di Myanmar mengatakan bahwa ribuan orang kelaparan dan membutuhkan perawatan medis di negara bagian Rakhine utara, tempat setengah juta etnis Rohingya telah melarikan diri dari sebuah tindakan keras tentara dan kekerasan komunal.

Abdulla Mehman yang bekerja untuk agen bantuan di Kota Buthitaung mengatakan bahwa lebih dari 2.000 orang di desanya, Kwan Dine, kehabisan makanan dan banyak lainnya menghadapi kesulitan.

“Kami tidak diizinkan bergerak dengan bebas, dan orang-orang berjuang untuk bertahan hidup,” kata Mehman kepada Al Jazeera.

Keluarga Rohingya di setidaknya empat desa lainnya di Rakhine utara – Kin Taung, Bura Shida Para, Kyar Gaung Taung, dan Sein Daung – juga melaporkan kekurangan pangan mendesak dan menuduh tentara dan tetangga Buddha melakukan intimidasi, penjarahan, pemerasan, dan pencurian ternak.

Laporan tersebut sulit untuk diverifikasi secara independen karena wilayah tersebut berada di bawah pengawasan tentara. Namun laporan saksi sejalan dengan apa yang dikatakan pengungsi Rohingya di negara tetangga Bangladesh.

Sekitar setengah juta Rohingya diperkirakan tinggal di negara bagian paling barat Myanmar.

“Tolong bantu kami,” seorang wanita Rohingya dari desa Kin Taung, yang berbicara tanpa menyebut nama, memohon dalam percakapan telepon pekan ini.

“Kami sakit, tetapi kami tidak bisa mencari pengobatan, kami tidak bisa bekerja, dan kami tidak bisa makan.”

Sebanyak 20 diplomat yang mengunjungi Rakhine utara dalam sebuah kunjungan resmi pada hari Senin (2/10) menggambarkan situasi kemanusiaan di sana begitu “mengerikan” dan mereka mendesak pemerintah Aung San Suu Kyi melanjutkan “layanan menyelamatkan nyawa tanpa diskriminasi”.

Orang bisa meninggal di Negara Bagian Rakhine jika bantuan tidak segera tiba, kata Human Rights Watch.

Sejumlah pengungsi yang masuk ke Bangladesh karena pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran seluruh desa telah menyebabkan PBB menuduh pemerintah Myanmar melakukan pembersihan etnis.

Wanita di Kin Taung mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tentara telah mengancam untuk memperkosa dan membakar rumah-rumah Rohingya, serta memeras uang, makanan, dan ternak mereka.

Keluarganya harus menyogok tentara agar rumah mereka aman, katanya.

Suaminya, seorang petani berusia 30 tahun, berkata, “Jika ada Rohingya yang terlihat di jalanan setelah sholat Maghrib [petang], maka kita didenda 200.000 kyat Burma [$ 147]. Jika mereka menemukan ternak, mereka juga mengambilnya.”

Jiwa yang Terancam
Nay San Lwin, seorang aktivis Rohingya yang berbasis di Jerman, mengatakan bahwa Rakhine utara “seperti penjara” dan ribuan orang Rohingya terus melarikan diri dari rumah mereka setelah tentara mengintensifkan sebuah kampanye intimidasi dan pembakaran pada pekan ini.

Paul Seger, Duta Besar Swiss untuk Myanmar, yang bergabung dalam tur pemerintah Rakhine, mengunggah sebuah video di Twitter tentang asap yang membumbung dari beberapa desa pada hari Senin (2/10).

Dia juga mengunggah sebuah video toko-toko yang tertutup dan jalan-jalan sepi di pusat kota Maungdaw.

Krisis pengungsi meletus setelah pejuang ARSA menyerang pos perbatasan pada 25 Agustus.

Di beberapa daerah, kekerasan telah surut, namun Rohingya mengatakan bahwa mereka hidup dalam ketakutan.

“Situasinya tenang sekarang, tetapi kita tidak bisa pergi ke toko untuk membeli barang kebutuhan karena kita takut umat Buddha bisa menyerang kita,” Abu Tayeb, seorang guru di Bura Shida Para di utara Maungdaw, mengatakan melalui telepon.

“Kita tidak bisa mendapatkan makanan yang memadai dan kita tidak bisa sholat [di masjid].”

Peter Bouckaert dari Human Rights Watch mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia “prihatin” dengan kurangnya informasi tentang ratusan ribu Rohingya yang tersisa di Rakhine.

“Sangat penting bahwa pihak berwenang Myanmar memberikan akses kemanusiaan penuh ke Rakhine Utara atau orang-orang akan mati.” imbuhnya.

Mehman, pekerja bantuan dari Kwan Dine, mengatakan bahwa dia tidak akan melarikan diri bahkan saat persediaan makanannya habis minggu depan.

“Bangladesh bukan negaraku,” katanya. “Pemerintah ingin mendorong kami keluar. Saya tidak ingin pergi, bahkan jika harus makan daun.”

Moedja Adzim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *