Neno Warisman dan Gerakan Muslimah Memilih Pemimpin

by
Neno Warisman, Aktivis Penggerak Gerakan Muslimah Memilih Pemimpin. Foto : Istimewa

Wartapilihan.com, Jakarta – Konstelasi Pilkada DKI putaran kedua yang akan berlangsung 19 April tidak bisa dielakkan, semua elemen dan unsur masyarakat mengambil peran di dalamnya termasuk kaum hawa. Neno Warisman bersama aktivis-aktivis Islam lain mengadakan Gerakan Ibu Negeri dan Gerakan Muslimah Memilih Pemimpin.

Wartapilihan melakukan wawancara ketika ia tengah beraktivitas di daerah Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Rabu (11/4). Menurutnya, Jakarta adalah representasi Indonesia dan tidak bisa dielakkan bahwa apa saja yang terjadi di Jakarta akan mempengaruhi Indonesia, kota ini merupakan sentra peradaban.

“Jakarta itu pintu gerbang Indonesia, harus kita ingat bahwa kaum perempuan di Indonesia ini jumlahnya sekitar 126.800.000 sekian, jadi dari jumlah penduduk 50% kurang sedikit sekali. Itu potensi yang luar biasa besarnya,” ujar Neno Warisman.

Peradaban dalam artian Ustadzah ini adalah suatu kepatutan. Kaum perempuan harusnya mendapat kepatutan, mendapat hak-haknya sebagai warga negara, individu, umat beragama dan sebagai makhluk politik juga; sebagai partisipan, sebagai konstituen bahkan sebagai aktor. Tetapi kenyataannya belum demikian.

“Apapun yang terjadi pada negara Indonesia, di dalamnya itu ada Jakarta, Apapun yang terjadi dari arah manapun yang paling mengalami adalah wanita. Wanita yang paling kena dampak negatifnya, contohnya adalah ketika ekonomi kita buruk, perempuan itu yang menyandang, perempuan itu tidak akan pernah menyerah untuk dia nggak gedein anak-anaknya karena tidak ada pilihan lain. Kalau bapak yang miskin masih bisa kabur, ibu tidak bisa kabur ibu harus memberi makan anaknya karena anaknya itu bagian dari perutnya dia,” terang wanita berkelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 21 Juni 1964 ini.

Menurutnya, adanya kesenjangan ekonomi yang luar biasa seperti yang terjadi sekarang maka datanya jelas 7% yang mengalami kesenjangan ekonomi itu adalah ibu dan itu belum termasuk kaum perempuan lain, itu baru kaum ibu.

“Kita mungkin melihat kalau pengemis aja itu belum termasuk miskin yah, jadi miskin ini dalam bahasa agama adalah dia sudah bekerja tetapi dia tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan makannya. Dia tidak bisa mencukupi kebutuhan elementernya,” imbuh nominator Aktris Terbaik Festival Film Indonesia tahun 1989 ini.

Selain itu, wanita sebagai share holder tidak bisa ungkang-ungkang kaki menunggu pangeran datang memberikan kepadanya perubahan kehidupan.

“Kita tidak bisa menunggu hal itu kita harus memperjuangkannya dengan diri kita sendiri untuk maju. Istilahnya kita tidak bisa menunggu hasil perang, tidak bisa menunggu hasil buruan, dan itu yang terjadi pada Pilkada sekarang dan peran muslimah pada Pilkada ini terletak pada Gerakan Muslimah Memilih Pemimpin,” tukas penulis buku bertajuk Izinkan Aku Bertutur.

Dimana setiap perempuan diajak untuk bangkit kesadaran bernegaranya, bahwa dalam negara ini wanita memiliki peran di dalamnya.

“Jadi kita ini sebagai perempuan yang peduli terhadap anak dan keluarga. Ternyata kita bisa melakukan sesuatu dengan menjadi relawan di TPS dan ternyata strategic, di mana strategi membicarakan kemenangan perempuan termasuk yang paling diandalkan,” tandas penulis buku berjudul Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi.

Ibu dari 3 anak ini mengaku tertarik dari paslon nomor tiga. Di mana calon gubernur ini menjanjikan klausul untuk suami yang istrinya hami, dapatl cuti selama satu bulan. Jadi satu pekan sebelum melahirkan dan tiga pekan sesudah melahirkan.

“Itu kemajuan yang luar biasa belum ada dari paslon dan dari Gubernur dari zaman ke zaman yang memikirkan suami yang istrinya melahirkan untuk cuti sepanjang itu. Karena sekaligus juga membuat ketahanan otak sang anak selama satu bulan, usapan dari ayahnya dan itu sangat berpengaruh terhadap kejantanan dia. Kelelakian dia jadi kuat, otak dia juga jadi kuat, pondasi di otaknya menjadi kuat. Dia kenal suara ayahnya lebih banyak dia kenal usapan ayahnya,” ungkapnya dengan nada berbunga-bunga.

Terakhir, ustadzah ini berharap dengan pasangan nomor 3 Anies Sandi, masyarakat Jakarta mempunyai pemimpin yang jujur, adil dan amanah.

“Itulah yang kami harapkan dan kelihatannya mereka mempunyai potensi untuk demikian. Mudah-mudahan dengan segala upaya, usaha dan perjuangan yang kita lakukan Allah menolong kita faidza azamta fatawakkal alallah. Mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik untuk bangsa ini,” tutupnya. |

Reporter: Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *