Menyusun Narasi Sejarah Sendiri

by
Arif Wibowo. Foto: Dok. Pribadi

Oleh: Arif Wibowo, Sejarawan

Mengapa santri perlu menuliskan tradisinya sendiri?

Wartapilihan.com, Jakarta — Karena kalau diserahkan kepada orang lain, maka akan banyak yang disimpangkan. Misalnya ketika istilah ngemis, yang awalnya tradisi ngalap berkah ketika raja Jawa pada masa lalu membagikan-bagikan uang kepada rakyatnya pada masa lalu sekarang berubah menjadi tradisi meminta-minta. Dari yang dulunya dilakukan oleh semua kalangan masyarakat Jawa, menjadi dilakukan oleh mereka yang ingin mendapatkan uang dengan cara instan, meskipun harus menjatuhkan martabatnya sendiri.

Hal ini dapat kita lihat misalkan pada Disertasi dari Pendeta Soetarman Soediman Partonadi yang berjudul Komunitas Sadrach dan akar Kontekstualnya, Suatu Ekspresi Kekristenan Jawa pada abad XIX pada hal. 60 – 61 ketika bercerita tentang Sadrach. Oh ya, sepertinya, sebutan Kyai untuk Sadrach juga harus dihilangkan, karena sepanjang bacaan saya, Sadrach jelas bukan Kyai. Ia tidak pernah punya pesantren. Kalau pernah nyantri memang betul.

Oleh karena itu, kalau C Guiliot menulis satu buku, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi Jawa, maka akan menarik kalau yang alumni pesantren menulis Sadrach : Santri Murtad atau sisi lain Sadrach yang juga diakui oleh pendeta Partonadi, Sadrach, Jawa Wurung Landa Durung. Hal ini dikarenakan pada akhirnya, kekristenan ala Sadrach ini kemudian tidak dianggap oleh Gereja Calvinis Belanda dimana Sadrach dianggap mempunyai keagamaan ganda, Berkristen dengan cara Islam.

“Sadrach diberi nama Radin, yang karena berakhiran “in” menjadi petunjuk di Jawa bahwa ia berasal dari desa. Tetapi, petunjuk ini tidak berarti bahwa orang tuanya sangat miskin sehingga membiarkan Radin muda mengemis makanan, seperti yang dijelaskan Adriaanse. Mungkin Radin menjadi pengemis ketika masih pelajar. Sudah menjadi tradisi murid-murid sekolah Al Qur’am dan pesantren untuk “mengemis” sebagai bagian dari “kurikulum”. Hal ini biasanya dilakukan pada hari Kamis, seperti yang ditunjukkan oleh kata Jawa ngemis (mengemis), yang berasal dari hari Kemis (Kamis).

Mengemis di sini merupakan cara pengumpulan dan untuk kegiatan keagamaan dan pekerjaan sosial. Ini dianggap sebagai pemberian derma, bagian dari kewajiban Islam. Pengumpulan dan (tidak hanya berupa uang, tetapi juga barang, misalnya beras) ini dilakukan dari rumah ke rumah. Bahkan, Modin juga berhak “mengemis”. Muslim dibujuk agar memberi dengan perkataan : “Berdo’a membawa manusia di pertengahan jalan menuju Tuhan, berpuasa membawa manusia ke gerbang surga, dan derma membukakan pintu surga.”

Begitulah wajah santri, sekolah Al Qur’an dan Modin di disertasinya pendeta Partonadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *