Megawati, Sukmawati dan Olok-Olok Islam

by
Sukmawati baca puisi. Foto: Istimewa

 

Tahun 2017, Megawati dilaporkan ke polisi karena menghina keberadaan akhirat. Kini April 2018, saudara kandungnya, Sukmawati, dilaporkan ke polisi karena menghina jilbab (cadar) dan adzan. Beranikah polisi mengusutnya?

Wartapilihan.com, Jakarta –Pada pidato HUT PDIP ke-44 (10/1/2017), di Jakarta Convention Center, Megawati berpidato galak. Pidato Mega tahun lalu, membuat Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab melaporkan Megawati ke kepolisian. Karena Mega dalam pidatonya meragukan kehidupan akhirat.

Cermati pidato Mega tahun lalu –yang tentu pidatonya dibuat tim PDIP bersama Mega, “Apa yang terjadi di penghujung tahun 2016, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula.

Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan. Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Di sisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.”

Kini saudara kandung Megawati, Sukmawati membacakan puisi yang menghina cadar (jilbab) dan adzan. Puisi ini dibacakan Sukmawati dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018 (29/3/2018).

Meski sudah ada tiga orang yang melaporkan puisinya ini ke polisi, Sukmawati tidak mau minta maaf kepada umat Islam Indonesia. Kepada detik.com ia menyatakan,” “Lho Itu suatu realita, ini tentang Indonesia. Saya gak ada SARA-nya. Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita. Saya budayawati, saya menyelami bagaimana pikiran dari rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, di Bali dan daerah lain,” kata Sukmawati ketika dikonfirmasi, Senin (2/4/2018).

Lebih lanjut ia mengatakan,”Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” ujar Sukmawati.

Sukmawati, seperti kata Tengku Zulkarnain dari MUI, memang jahil terhadap Islam. “Mestinya Sukmawati belajar syariat Islam, bukan malah menghina,” kata Tengku.

Putri Bung Karno ini, memang tidak faham syariat Islam. Ia tidak memahami bahwa jilbab (cadar) diperintahkan oleh Al Quran mempunyai hikmah yang besar bagi wanita. Bagi orang awam, seperti Sukmawati, jilbab mungkin dianggap membuat wanita tidak cantik. Sukma tidak memahami hikmah-hikmah yang diperoleh bagi wanita berjilbab, diantaranya : bebas dari gangguan laki-laki, menjauhi perzinahan, menjauhi ketamakan mode, membuat suami nyaman (bagi yang sudah bersuami) dan lain sebagainya. Wanita yang tidak berjilbab, biasanya cenderung memamerkan kelebihan fisiknya, hingga mereka akhirnya tidak malu berpakaian bikini ria, seperti yang terjadi pada dunia artis. Perintah berjilbab ini laksana perintah Allah untuk shalat lima waktu, padahal tiap hari manusia dalam kesibukan. Atau perintah Allah puasa Ramadhan, padahal manusia senang untuk makan. Allah melatih manusia untuk melakukan sesuatu yang mungkin berat, tapi manfaat positifnya besar untuk manusia itu sendiri.

Membandingkan suara adzan dengan kidung (nyanyian), juga salah besar. Ini adalah seperti membandingkan ceramah Soekarno dengan Al Quran. Orang awam mungkin menganggap bahwa ceramah Soekarno hebat, lebih hebat dari Al Quran. Tapi bagi orang berilmu, ceramah Soekarno hanya hebat dalam retorikanya, isinya kadang-kadang kurang bermutu. Beda dengan Al Quran, yang isinya dan sastranya diakui kehebatannya oleh ilmuwan Islam sedunia, sepanjang zaman.

Adzan adalah panggilan ibadah, panggilan yang serius bagi seorang Muslim untuk beribadah kepada Tuhan Yang Menciptakannya. Maknanya sangat mendalam bagi yang memahami lafadz-lafadznya. Sedangkan kidung atau nyanyian adalah suara atau nada-nada untuk orang yang bersantai belaka.

Entah, mengapa Sukmawati berani mengarang dan membaca puisi yang merendahkan nilai-nilai yang dianut mayoritas bangsa ini. Sengaja membuat kontroversi agar dirinya mendapat tempat di media nasional atau sekedar memamerkan kebodohannya. Jadi mungkin saja, puisi itu ia buat agar dirinya terkenal dan namanya disebut-sebut oleh media, sebagai saudara kandungnya Megawati yang begtu terkenal di negeri ini. Entah.

Jadi, masyarakat kini menunggu tindaklanjut polisi mengusut kasus penghinaan terhadap nilai-nilai Islam oleh Sukmawati ini. Beranikah polisi mengusut dan membawanya ke meja hijau? Ataukah kasusnya akan mandek begitu saja, sebagaimana kasus pidato Megawati 2017? Wallahu a’lam. Kita tunggu saja.

Berikut puisi Sukmawati yang menghina nilai-nilai Islam itu :
Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya. II

Izzadina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *