KH Abdullah Sahal : Di Gontor Ada Dua Istri

by
foto:istimewa

Dalam reuni dengan alumni Pesantren Darussakam Gontor, KH Abdulllah Sahal menyatakan bahwa banyak yang iri dengan keberhasilan Gontor.

Wartapilihan.com, Jakarta –“Kita melakukan apapun sekarang, semua pasang telinga. Selama kita tidak mengharap kecuali pada Allah, selama kita tidak takut kecuali kepada Allah, kita bersama. Tetapi kalau salah satu kita yang takut atau mengharap selain Allah, itulah yang membuat kita tidak bersatu. Anak Gontor jangan terpeleset,” kata Kiyai Sahal di Jakarta, Selasa (10/4).

Menurutnya Gontor punya panca jiwa dan panca jangka. “Kita punya lagu Oh Pondokku. Dengan Oh Pondokku mencair semuanya. Kita bisa bersama, bersatu, karena ada nilai-nilai yang dipegang bersama. Orang iri dengan apa yang terjadi di Gontor, iri melihat kehidupan di Gontor, iri melihat orang Gontor. Mengapa jadinya kita iri melihat apa yang di luar? Mengapa anak-anak Gontor malah iri melihat keadaan di luar?” tanyanya.
Menurut kiyai yang berumur 71 tahun ini, Gontor tetap pada struktur dan kultur yang diwasiatkan para pendiri pondok. Secara struktur, dari sisi Badan Wakaf, dibuat keseimbangan antara keturunan para pendiri dengan alumni. “Jumlah anggota badan wakaf 15. Anggota Badan Wakaf dari keturunan Pak Sahal, Pak Zaenuddin Fannanie dan Pak Zarkasyi masing-masing tidak boleh lebih dari 2, jumlah maksimalnya. Sedangkan 9 anggota Badan Wakaf lainnya dipilih dari alumni Gontor. Sehingga ada keseimbangan dan semua bisa mengawasi,” terangnya.

Dari sisi kultur, kultur Gontor kultur kiai-santri, guru-murid, bapak-anak. “Ini kultur internal kita, orang lain tidak bisa ikut campur. Omongan saya, adalah omongan antara kiai dengan santri. Kalau orang menafsirkan omongan saya neko-neko, berarti jiwanya yang sakit. Gontor punya kultur yang khas. Di Gontor Ustadz Luqman Hakim Saefuddin bagian olah raga, sekarang jadi Menteri Agama. Ini juga karena ‘kopi hanger’. Ini yang bikin indah. Banyak interaksi, yang menjadi indah. Ada yang jadi rois, ada yang jadi a’dho (anggota), menjadi indah. Ada yang dulu jadi proletar, sekarang rois IKPM,” paparnya lebih lanjut.

Menurut Kiyai Sahal, sisi lain dari Gontor adalah keharmonisan pimpinan. “ Pernah ada seorang Kiai dari luar Gontor yang bertanya kepada seorang alumni, apa kunci Gontor mengapa bisa begini, begitu? Dijawab karena keharmonisan pimpinan. Di Gontor kalau ada masalah cepat selesai, dan tidak pernah sampai kepada santri. Akhirnya Kiai tersebut mengakui bahwa hal itulah yang tidak bisa dilakukan di pondoknya,” jelasnya.

Menurutnya, ustadz-ustadz di Gontor itu ada dua istri. Istri pertama adalah pondok, dan istri kedua baru istri di rumah. “ Istri pertama tidak boleh dipisah. Istri kedua? Kalau mengganggu istri pertama, ya harus dipisah. Bahkan kalau perlu dipisah istri pertama dan kedua, dan itu terjadi.”

Dalam ceramahnya itu kiyai senior ini mengatakan kultur Gontor tetap, struktur tetap. Mwnurutnya, ini jangan didiskusikan karena gontor tidak akan berubah. “Muhammadiyah, NU, PKS, PPP, NASDEM, PDIP dan semua organisasi lain, harus berputus asa dalam mempengaruhi Gontor karena Gontor akan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang ada dan tidak berpengaruh. Meskipun ada orang yang berguna, berhasil, bermanfaat, di luar, Gontor tetap bebas, tidak mau berada di dalamnya, dan tidak mau juga berada di bawahnya. Keterbukaan yes, intervensi, no. Keterbukaan adalah kebutuhan manusia, tetapi intervensi adalah kejahatan. Silakan bicara berjam-jam, berhari-hari, tetapi harus berputus asa karena gontor tidak akan terpengaruh. Gontor tidak bisa dibeli, pimpinannya tidak bisa dibeli, lembaganya tidak bisa dibeli. Doakan saja sampai kapanpun bisa terjaga; keharmonisan dan nilai-nilai yang baik. Tetap terjaga sampai anak cucu kita,” paparnya dengan penuh semangat.

Acara reuni seperti ini terjadi, menurutnya, karena kultur Gontor adalah to give to give, and to give. “Saya tahu panitia tidak punya uang, tetapi karena kebersamaan, usaha, dan mau bergerak, maka acara ini terjadi. Ada yang menyumbang uang, katering, dan sebagainya. Albarakah fil harakah bukan fil insan. Begitu juga di Gontor. Keberkahan bukan pada orangnya, tetapi pada kerukunan, pengorbanan, mau ngalah, musyawarah, ini yang mahal. Taqwanya, ikhlasnya, panca jiwanya.” II
Zaenudin/Izzadina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *