Ketuhanan Yang Maha Esa

by
Sumber: SangPencerah.id

Oleh : Buya Hamka

Tidak ada diantara kita yang di dalam dirinya mengalir darah iman, yang tidak paham bahwasanya Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila pertama dari dasar filsafat negara kita, ialah bahwa kita percaya kepada adanya Tuhan. Dan Tuhan itu Esa adanya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Kita jadikan dia dasar pertama dan utama dari negara kita. Artinya bahwa negara Indonesia berketuhanan, tegasnya bahwa kita seluruh penduduk negara ini percaya akan adanya Tuhan. Dia dijadikan niat dasar pertama dari negara ini, bukanlah semata-mata jadi buah mulut, atau sapu tangan penghapus bibir (lip service, kata Bung Hatta). Dia adalah dasar pertama sebagai dasar niat kita bermasyarakat dan bernegara. Supaya dijadikan titik tolak kita berpikir. Apa saja yang kita kerjakan, kita amalkan dan kita usahakan dalam negara ini ialah dengan niat mencapai ridha Tuhan.

Ketika bergabungnya cita-cita Soekarno dengan cita-cita Komunis, dan mereka mulai menguasai bersama negara ini, Soekarno telah mencoba membuat tafsir di luar manthik, bahwasanya kalau diperas Pancasila itu, akhirnya dia menjadi “gotong royong”, sehingga Tuhan jadi habis! Kemudian dia menafsirkan lagi, bahwasanya Pancasila itu adalah identic, tak dapat dipisahkan dengan Nasakom. Padahal dalam tubuh Nasakom itu sendiri telah terdapat kontradiksi yang sangat mengacaukan pikiran, yaitu bahwa beragama dengan tidak beragama mesti disatukan, nasionalisme dengan internasionalisme bisa dipadukan. Namun dengan gagal totalnya rencana Orla bersama Komunis dengan Gerakan Gestapunya PKI-nya menyebabkan indotrinasi gila itu berhenti dengan sendirinya.

Sekarang kita kembali kepada Pancasila yang murni, bahwasanya pokok pangkal segala sila ialah percaya kepada Tuhan, dan Tuhan itu Esa adanya. Tidak Dia beranak, tidak Dia diperanakkan, tidak Dia satu dalam tiga dan tiga dalam satu. Sehingga orang suka atau tidak suka, Pancasila telah kembali ke asalnya, yaitu bersumber daripada agama Tauhid, agama yang mengakui Keesaan Allah yang mutlak dan dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia.

Dan dalam mukaddiman Undang-Undang Dasar 1945 sendiri dijelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia ini ialah kurnia Allah, sebagaimana tertulis dalam preambule (pembukaan) UUD 1945 :
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”

Tidak ada kata lain, melainkan Allah, dan Allah itu Esa adanya.

Jelas sekali dalam anggapan segala agama, bahwasanya yang Allah itu adalah Esa. Dan jelas sekali disini bahwa sumber utama yang memberikan inspirasi sehingga timbul hasrat merdeka ialah Allah itu sendiri.

Dengan tertulisnya “Ismul Jalalah” itu pada preambule (pembukaan) UUD 1945, tidak patut ada keraguan lagi bahwa sumber sila itu ialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Dari Dia dahulu, baru ada pada kita!

Kalau orang keberatan mengakui bahwa sumber ideal ini, sadar atau tidak sadar adalah dari pandangan hidup Islam, orang tak dapat memungkiri bahwa ideal ini sesuai dengan ideal Islam, sebab menurut Islam sumber segala-galanya ialah: Qudrat Iradat Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Sebab itulah maka pada tahun 1951 (16 tahun yang lalu), penulis “Dari Hari ke Hati” ini pernah menulis sebuah buku brosur kecil menyatakan pahamnya bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa adalah “Urat Tunggang Pancasila”.

Tetapi setelah Pancasila di “Usdek Manipol” kan, Prof Dr Ruslan Abdulgani pernah mengingkari hati sanubarinya sendiri, padahal dia seorang Muslim, pernah mengatakan bahwa Pancasila tidak mempunyai urat tunggang, sebab itu Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah urat tunggang Pancasila, melainkan sama kedudukannya dengan empat sila yang lain. Padahal dalam ajaran Islam, yang Ruslan sebagai muslim harusnya tahu, adalah segala sesuatu pada alam yang maddi (nyata-kongkrit) dan pikiran yang maknawi (abstrak) semua bersumber berurat tunggang pada Zat Yang Satu, Zat Yang Esa, Allah! Mungkin saat itu Ruslan Abdulgani hendak membawa orang berpikir bahwa urat tunggang Pancasila itu ialah Bung Karno sendiri!

Sekarang masa itu telah berlalu.

Pikiran bebas merdeka, akal yang murni rasional pasti sampai pada kesimpulan, memang dasar pertama dan utama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa! Sebab itu selama jalan berpikir bangsa Indonesia masih dipengaruhi oleh jalan ajaran Tauhid, baik disadari atau tidak disadarinya, namun Pancasila pasti demikianlah adanya. Bahwasanya sila yang empat adalah bersumber dari sila pertama. Atau sila pertama adalah sumber dari sila yang empat.

Itulah sebabnya maka dalam Khutbah Idul Fithri di Istana Negara 1 Syawal 1387H (1 Januari 1968) tegas saya katakan, menurut pandangan hidup saya sebagai Muslim bahwasanya Pancasila boleh dimisalkan kepada bilangan angka 10.000.

Angka satu sebagai angka pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kalau angka satu ini dihapuskan atau dikaburkan, atau diselewengkan, maka ke empat nol yang belakangnya itu menjadi kosong, tidak ada harganya, tidak bernilai sama sekali.

Sebab itu pula maka Pancasila benar-benar bukanlah cangkokan dari kiri kanan, gabungan empat isme ajaran dari luar, internasionalisme, nasionalisme, sosialisme dan demokrasi ala barat, ala Marxis, ala Yunani. Tetapi suatu pandangan hidup dari satu bangsa yang percaya kepada Tuhan. Tinggal kita mengisinya !

Sutan Takdir Alisyahbana pun pernah menyatakan bahwa kelima sila itu adalah paradox (bertentangan), yang satu berlawan dengan yang lain. Internasionalisme tidak bisa disatukan dengan nasionalisme. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak bisa dikompromikan dengan keadilan sosial, atau agama tidak bisa disatukan dengan sosialisme.

Kita dapat memahami mengapa Takdir berpendapat demikian. Sebabnya ialah karena menganggap bahwa kelima sila itu lima potong isme (paham) yang diambil dari agama sebagian, dari Marxisme sebagian dan dari Nasionalisme-Liberalisme Barat sebagiannya. Tegasnya pandangan hidup materiaisme.

“Memandang sesuatu dan menganalisa sampai habis pecah berderai, bukan memulangkan sesuatu kepada sumber kesatuannya.”

Itu pula sebabnya maka Bung Hatta pernah menyatakan sanggahan kepada pendapat Takdir tersebut.

Pada saat menghangatnya hubungan diantara pemeluk Islam dengan Kristen di Indonesia sekarang ini, rupanya dari kalangan Kristen timbul pula bisik-bisik membuat tafsiran Ketuhanan Yang Maha Esa itu, sesuai dengan ajaran Kristen.

Konon, mereka mengatakan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa itu sama saja dengan Kepulauan Indonesia. Karena Indonesia terdiri dari berbagai-bagai, beribu-ribu pulau, lalu dijadikan satu menjadi Republik Indonesia.

Mereka hendak mengartikan bahwa Tuhan itu adalah tiga, sebab itu disebut Ketuhanan. Lalu disebutkan Yang Maha Esa, dengan tafsiran mereka bahwa Tuhan yang tiga itu dijadikan satu, menjadi Esa. Sebab itu, maka Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Trinitas. Kalau jarum mereka bisa lalu, bahwa arti Ketuhanan Yang Maha Esa ialah banyak Tuhan dijadikan satu, niscaya pengaruh pandangan Kristen lah yang mewarnai negeri ini. Ada lagi “cerita” bahwa mereka hendak mengelak dari kata Maha Esa itu, minta ditukar dengan Maha Kuasa saja. (Ketuhanan itu dalam bahasa Indonesia, lafadz ke-an seperti keibuan dan kebapakan, artinya sifat. Keibuan berarti sifat yang seperti ibu, kebapakan sifat yang seperti bapak. Sehingga Ketuhanan Yang Maha Esa berarti sifat Tuhan itu benar-benar tunggal/Maha Esa –red).

Kita kaum Muslimin dalan negara ini tidaklah akan meminta pula supaya bunyi Undang-Undang Dasar “Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa”, ditukar dengan “Negara Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Biarlah orang Kristen mengartikan Ketuhanan Trinitas, biarlah pula orang Hindu mengartikan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Krishna, Wishnu dan Shiwa, namun kita kita tetap memegang arti Ketuhanan ialah kepercayaan kepada Tuhan. Dan Tuhan itu ialah Allah sebagai tertulis dalam pembukaan, dan Allah itu ialah Esa sebagai tertulis dalam pembukaan dan Allah itu ialah Esa sebagai tertulis dalam UUD 1945 Bab XI, pasal 29.

Dan bebaslah tiap orang memahamkan arti kalimat itu menurut kepercayaan dan pandangan hidupnya, sebagaimana dicantumkan  dalam pasal 29 ayat 2.

Akhirul kalam, bahwasanya selama ini kita telah memandang bahwa pangkalan (titik tolak) perdamaian kita sebagai suatu bangsa, selain dari yang memeluk agama Islam ada lagi pemeluk Kristen, Hindu dan Budha, yang selalu kita pandang sebagai medan tempat perdamaian yang perlu diamankan dan diamalkan, yang “tak usah diutik-utik” lagi.

Sudah ada yang sekali lagi mencoba hendak mengutik-utik tafsirannya, sehingga akhir kelaknya tertulis Esa, tetapi maksudnya tiga atau trinitas, atau kacau diantara satu sama dengan tiga dan tiga sama dengan satu.

Maka cendekiawan Muslim, politisi Muslim, anggota parlemen yang Muslim haruslah awas tentang ini. Jangan sampai karena perebutan kursi dan pengaruh, tidak sadar bahwa payung panji Pancasila tempat berlindung itu mulai ketirisan (bocor).

Kita sadar bahwa dasar pertama dari kelima dasar, ialah bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutunya dengan yang lain. Dengan itu kita beragama, dengan itu kita bernegara. Bagi kita sebagai Muslim, pegangan ialah dua :
Iman kepada Keesaan Allah

Beramal Shalih

Setelah teguh keimanan kita kepada Keesaan Tuhan, kita mohon taufik dan hidayah-Nya, lalu kita tetapkan dalam amal yang shalih.

Amal shalih yang tercipta menjadi perikemanusiaan, berbuat baik dalam bangsa dan tanah air (kebangsaan), bermusyawarah bersama dalam urusan bersama (sosial) dan menegakkan keadilan sosial dalam masyarakat. || (Buya Hamka, Dari Hati ke Hati, Pustaka Panjimas Jakarta, 2002)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *