Ketika Hari Raya Bersamaan Dengan Hari Jumat

by
Sumber: http://jabar.pojoksatu.id/wp-content/uploads/2015/09/shalat-ied.png

Pemerintah Indonesia dan Saudi Arabia telah menetapkan bahwa Idul Adha 10 Dzulhijjah 1438 bertepatan dengan 1 September 2017, hari Jumat. Bagaimana hukum Shalat Jumat yang bertepatan dengan Hari Raya (Idul Adha)?

Wartapilihan.com, Jakarta –Ustadz Syamsul Bahri dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia membahasnya secara rinci (Lihat buku : Panduan Praktis Fiqh Qurban, H. Syamsul Bahri, Lazis Dewan Da‘wah, 2010).

Dalam riwayat yang muktabar, dikisahkan bahwa dalam beberapa kali kesempatan terjadi waktu yang bersamaan antara shalat ‘Ied dengan Jum‘at baik di zaman Nabi maupun zaman Sahabat. Seperti terlihat dalam riwayat di bawah ini:

(a). Pada zaman Nabi s.a.w di Madinah (622-632 M) terjadi waktu yang bersamaan antara hari raya dengan hari Jum’at. Sumber riwayat ini dilaporkan oleh Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar radhiya’llahu ‘anhum ajma‘in. Ketika itu Nabi s.a.w bersabda:

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah s.a.w beliau bersada : “Telah berkumpul pada hari ini dua hari raya. Karena itu, barang siapa berkehendak, cukuplah baginya shalat hari raya ini, tak perlu shalat Jum’at lagi, sedang kami tetap mengerjakan Jum’at.”  (Hadits Shahih HR. Abu Dawud [1/281], Ibnu Majah [1/393], Ahmad [4/373], Nasa’i [3/194], Hakim [1/288] dari Abu Hurairah r.a, Imam az-Dzahabi dan Ibnul Madini menshahihkan hadits ini,al-Muhalla,5/89). Syeikh Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihul Jami’ no: 4365).

Dari Za‘id bin Arqam, ia berkata: “Aku mengikuti shalat Id bersama Nabi s.a.w yang saat itu bertepatan dengan hari Jum’at. shalat ‘Ied dilakukan agak awal, kemudian beliau memberi keringanan pada shalat Jum‘at. Nabi bersabda: “Siapa yang mau mencukupkannya dengan shalat ‘Ied saja, maka cukupkanlah.” (HR. Imam Lima, kecuali Turmudzi, dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah,2/395 dan Imam Daruquthni. Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Shahih Abu Dawud.)

(b). Di masa khalifah Utsman bin ‘Affan (24-35 H/644-656 M) sebagaimana riwayat Abu ‘Ubaid, kejadian serupa juga pernah terjadi : Aku pernah mengikuti shalat ‘Ied di zaman Ustman bin ‘Affan yang bersamaan waktunya dengan hari Jum‘at. Khalifah shalat sebelum khutbah. Kemudian ia berkhutbah: “Hadirin, hari ini berkumpul dua hari raya. Barangsiapa yang ingin menunggu Jum’at dari penduduk dataran tinggi, silahkanlah menunggu. Tetapi, siapa yang mau pulang, maka aku izinkan.” (HR. Bukhari, kitab ‘Adhahi : 5145).

(c). Kejadian di masa kepemimpinan Mu’awiyah bin Abu Sufyan (41- 60 H/661-681 H), riwayat ‘Iyas bin Abi Ramlah as-Syami. ‘Iyas bin Abi Ramlah as-Syami berkata: Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Za’id bin ‘Arqam, “Apakah engkau pernah menyaksikan 2 hari raya berkumpul di hari yang sama. Jawab Zaid: “Ya.” Mu’awiyah balik bertanya: “Apa yang Nabi perbuat?” Berkata Zaid: “Nabi s.a.w shalat ‘ied, kemudian beliau memberi keringanan tidak Jum’atan. Nabi sabdakan: “Siapa yang mau shalat, shalatlah.” (HR Abu Daud (1070), An-Nasa’i (3/194), Ibnu Majah (1310), Ibnu Khuzaimah (1461), Ad-Darimi (1620) dan Ahmad (4/372, Imam ‘Ali Ibnul Madini menshahihkan hadits ini sebagaimana dalam at-Talkhisul Habir, 2/94)

(d). Hadits lain melaporkan bahwa pada zaman khalifah Ibnu Zubair bin Awwam (64-73 H) memerintah di Madinah, sebelum khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan berkuasa di Damaskus pada 65-86 H/685-702 M, pernah juga terjadi waktu bersamaan antara hari raya dan hari Jum’at. Riwayat ‘Atha’ bin Abi Rabah: Yahya bin Khalf dari ‘Ashim bin Juraij berkata, ‘Atha’ bin Abi Rabah meriwayatkan: Pernah bertepatan hari Jum’at dengan Idul Fithri di zaman Ibnu Zubair. Ia berkata: “Dua hari raya berhimpun jadi satu pada hari ini. Maka dua-duanya ia jadikan satu, lalu ia shalat 2 rakaat pada pagi hari. Ia tidak tambah apa-apa sesudah 2 rakaat itu, hingga ia shalat ‘Ashar.” (HR. Abu Dawud, kitab Shalat:907).

Sementara itu Wahab bin Kiysan juga melaporkan, ketika itu Khalifah Ibnu Zubair memerintahkan untuk melambatkan waktu pelaksanaan shalat I‘ed sampai matahari melebihi panjang tombak. Sang Khalifah yang pernah mengembalikan luas 5 hasta bagian Ka‘bah seperti yang dibangun Nabi Ibrahim a.s. itu pun keluar ke mushalla (pintu timur Masjid Nabawi), kemudian berkhutbah dengan khutbah yang begitu panjang. Ibnu Zubair mendahulukan khutbah daripada shalat. Masjid Nabawi pada hari itu, tidak menyelenggarakan shalat Jum‘at. Peristiwa ini dilaporkan para jama‘ah kepada Ibnu ‘Abbas, sahabat Nabi yang digelar “turjumanul (jubir) Qur’an”. Jawaban Ibnu ‘Abbas radhiya’l-lahu’ anhuma: “ashâba’s-sunnah,” perbuatan Ibnu Zubair sesuai sunnah.” (HR.Nasa’i,3/194, Abu Dawud,1/281 no.1071).

Dari paparan sirah di atas, menurut Ustadz Syamsul Bahri, ada ada empat pendapat yang dikemukakan oleh para ahlul ilmi, ketika hari raya bertepatan dengan hari Jum’at.

Pertama: Rukhshah. ‘Iednya shalat, Jum’atnya tidak. Ini pendapat Imam as-Sya‘bi (19-103 H), Imam Al-Auza’i (88-156 H) dan Imam an-Nakha’i ( 95-177 H) Imam Malik dan Imam As-Syafi’i, dan umumnya ahlul ‘ilmi. Di kalangan sahabat ada ‘Umar bin Khatthab, Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abu Thalib, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar dan Ibnu Zubair, juga, berpendirian demikian. Mengapa ahlul bâdiyah atau jama‘ah yang tempat tinggalnya jauh, diberi keringanan dari wajib Jum‘at. Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas, radhiya’l-lahu ‘anhuma mengatakan, kedudukannya disetarakan dengan musafir. Musafir tidak wajib Jum‘at, selain memang menjadi instruksi hukum dari Nabi s.a.w. (HR.Thabrani, alAusath,[1/48/2], haditsnya hasan, al-Irwa’ Syeikh Albani, 3/61).

Ketika Nabi s.a.w safar pada Futuh Makkah (Ramadhan 8 H) selama 19 hari, safar perang Tabuk ke Suriah (Rajab 9 H), 20 hari. Atau haji Wada’ di Mekkah (Zulhijjah 9 H) selama 19 hari. Saat itu, Nabi s.a.w mengqashar shalat dan mengembalikan waktu Jum‘at ke shalat Dhuhur. Bagi Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, hal ini menjadi dasar bahwa ahlul bâdiyah atau musafir, memang tidak wajib Jum‘at atau diberi keringanan untuk tidak shalat Jum‘at.

Dalam kitab ‘Aqdul Jawaahir, Juz 1:244 dijelaskan: Berkata Imam A-Syafi’i Rahimahullah: Apabila hari raya Idul Fithri jatuh pada hari Jum’at, maka hendaknya imam tetap shalat untuk memfasilitasi orang yang mau shalat. Kemudian diidzinkan bagi orang yang tempat tinggalnya jauh untuk kembali pada tempat tinggal keluarganya, dan tidak perlu hadir lagi untuk shalat Jum’at. (Kitab Al-Umm, Juz 1:399).

Kedua: Wajib, shalat Ied wajib shalat Jum’at pun wajib. Ini pendapat Imam Abu Hanifah, Ibnu Hazm, Ibnu Mundzir, Imam Ibnu ‘Abdil Barr. (Kitab Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, Juz 2;166), ‘Aqdul Jawahir Juz 1:244, Al-Muhalla Imam Ibnu Hazm 5:89. Berkata Imam Abu Hanifah: Dua hari raya bertemu di hari yang sama. Maka yang pertama adalah sunnah, yang kedua fardhu, namun menurutku dia tidak boleh meninggalkan salah satunya.” (Kitab AlJami’us-Shaghir hal.133).  Dalilnya: surah Al-Jumu’ah:9, ayat ini berlaku umum dalam semua waktu.

Ketiga: Fardhu Kifayah. Jama’ah yang sudah shalat ‘Ied boleh tidak shalat Jum’at, namun tetap harus ada yang Jum’atan terutama imam dan khatib shalat Jum’at. Ini pendapat Imam Ahmad dan dipilih oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa Juz 24:213 dan dikokohkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Kaafiy Juz 1:510.  Abdullah, anaknya Imam Ahmad berkata: Aku bertanya pada Ayahku tentang dua hari raya yang bertepatan waktunya, mana yang harus ditinggalkan: Imam Ahmad menjawab: “Tidak apa-apa dia tidak shalat Jum’at, menurutku shalat ‘Iednya sudah mencukupi. (Kitab Su’alaat ‘Abdullah Li Abiih, nomor : 482).

Keempat: Tidak perlu shalat ‘Ied, dicukupkan dengan shalat Jum’at atau shalat Dhuhur saja. Ini pendapat ‘Atha’. Atha’ mengatakan: Zaman Khalifah Ibnu Zubeir hari raya Idul Fithri bertepatan dengan hari Jum’at. Ibnu Zubeir mengatakan: “Dua hari raya bertemu dalam satu hari.” Lalu Ibnu Zubeir menghimpun dua shalat itu dengan mencukupkannya dengan shalat hari raya yang dua rakaat di pagi hari. Dan tidak menambahnya dengan shalat yang lain, sampai tiba waktu shalat ‘Ashar.” (Sunan Abu Dawud nomor : 1072).

Tentu saja, bagi mereka yang berpedoman boleh tidak shalat Jumat karena sudah shalat Id di pagi harinya, harus tetap shalat Zhuhur. Wallahu a’lam. ||

Izzadina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *