Kepemimpinan Rahmatan Lil’Alamin

by
Sarang semut. Foto: Istimewa

Oleh: Herry M. Joesoef

Kepemimpinan adalah interaksi sosial antara seorang pemimpin dengan masyarakat/komunitas yang dipimpinnya guna mencapai suatu tujuan bersama. Capaian yang hendak dituju adalah dari jahili menuju Islami, dari kemiskinan menuju sejahtera, dari ketidaknyamanan menjadi nyaman, dari ketidakadilan menjadi adil dan beradab.

 

Wartapilihan.com, Jakarta –Memimpin itu mesti mampu melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang dipimpinnya. Efektif tidaknya seorang pemimpin adalah sejauhmana ia mampu mewujudkan cita-cita bersama untuk mencapai kesejahteraan, kenyamanan, dan kedamaian.

Dalam Islam, kepemimpinan merupakan fitrah. Allah memberi amanah kepada manusia untuk menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi (QS.Al-Baqarah:30), dengan tugas khusus untuk membawa rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya’: 107). Begitulah kepemimpinan dalam Islam, membawa rahmat, bukan laknat. Maka, segala program yang akan dijalankan mestilah mengacu pada kerahmatan tersebut, yang bisa dinikmati tidak hanya oleh kelompok atau komunitas yang dipimpinnya, tetapi oleh manusia pada umumnya, hewan dan tumbuh-tumbuh-an yang hidup dan tumbuh di wilayah yang dipimpinnya itu.

Adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan keteladanan bagaimana semestinya umat manusia menjalankan kekhalifahannya itu.

Suatu hari, beliau mengadakan perjalanan bersama para Sahabatnya. Di tengah perjalanan, karena ada hajat pribadi, beliau meninggalkan para Sahabat untuk beberapa menit.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang tidak bersama mereka, para Sahabat melihat seekor burung betina bersama dua anaknya yang masih belum tumbuh sayapnya. Dengan maksud mencari hiburan, para Sahabat mengambil kedua anak burung yang belum bisa terbang itu.

Melihat dua buah hatinya diambil manusia, Sang induk datang, dengan mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Sang induk marah melihat ulah para Sahabat. Pada saat yang bersamaan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah bergabung dengan mereka dan melihat kejadian tersebut, lalu Beliau bertanya, “Siapa yang membuat induk burung ini menderita lantaran terpisah dengan anak-anaknya?”

“Kami, ya Rasulullah,” jawab para Sahabat.

“Kembalikanlah anak-anak burung tersebut pada induknya,” perintah Sang Rasul. Perintah itu langsung dilaksanakan oleh para Sahabat sambil ber-istighfar kepada Sang Pembuat Burung, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di waktu yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat api menyala-nyala, sementara di sekitar api itu banyak orang berkerumun. Beliau pun mendatangi titik api dan bertanya kepada khalayak, “Siapa yang membakar ini?”

“Kami,” jawab kerumunan orang tersebut.

“Sesungguhnya tidak ada yang layak menyiksa dengan api kecuali Tuhan, Sang Pemilik api,” sergah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada khalayak. Kisah tersebut diabadikan oleh Imam Abu Daud.

Rupanya, kerumunan orang tersebut telah membakar “perkampungan” semut yang ada di Madinah. Nasi telah menjadi bubur, semut-semut sudah terpanggang api yang berkobar-kobar. Para pembakar menyesali perbuatannya. Isyak-tangis mereka tak terbendung, istighfar terucap terus menerus, sebagai bentuk penyesalan telah menyebabkan sebuah koloni semut menjadi korban dari kebrutalan umat manusia.

Adalah Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menarasikan:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا, أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَة ٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya. (HR. Imam Bukhari)

Begitu agungnya ajaran Sang Nabi, ketika seseorang menanam pohon lalu berbuah dan pohon atau buahnya dimakan oleh manusia maupun hewan, tak ada yang perlu dirisaukan. Karena pohon atau buah yang dimakan oleh makhluk Allah itu akan menjadi amal shaleh bagi si pemiliknya, dan sebagai bekal kebaikan di akherat, kelak.

Kisah tentang burung, semut, dan tanaman, menjelaskan hakekat ajaran Islam sebagai Rahmatan Lil-‘Alamin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus kedunia ini sebagai rahmat untuk alam semesta, sebagaimana tersurat Al-Anbiya ayat 107:

وَمَآ أَرْسَلْنَـكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَـلَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Kata “rahmat” punya arti belas kasih; kerahiman; kelembutan; dan kasih sayang. Dan ini berlaku secara universal, kepada semua isi alam raya, termasuk lingkungan sosialnya.

Secara bahasa, Rahmatan Lil’Alamin adalah kasih sayang bagi seluruh alam semesta. Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke dunia ini tidak lain adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh umat manusia tersebut.

Dinarasikan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, seorang Sahabat meminta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berdoa untuk menentang kaum musyrikin, maka Beliau pun menjawab:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَة

Saya tidak dikirim sebagai kutukan, melainkan sebagai rahmat.(HR. Imam Muslim)

Adalah Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ja’far, mengatakan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, rahmat akan ditetapkan atasnya di dunia ini dan akhirat. Barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, akan dilindungi dari apa yang telah menimpa bangsa-bangsa terdahulu, seperti gempa bumi dan hujan batu.”

Begitulah rahmat yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada umat manusia ini baik yang Mukmin maupun yang kafir. Jika Mukmin, rahmat akan diberikan di dunia dan akhirat; jika kafir, rahmat hanya didapatkan di dunia. Pesan moral dari ayat 107 surah Al-Anbiya tersebut adalah kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah untuk semua umat manusia.

Dan kepemimpinan yang Beliau jalankan adalah mengayomi semuanya, baik yang beriman maupun yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitulah yang mesti dilakukan oleh para pemimpin Muslim di mana pun ia memimpin, mesti memberi rahmat kepada semua pihak, tidak hanya kepada umat manusia, tetapi juga kepada flora dan fauna, serta lingkungan alamnya.

Kepemimpinan Mukmin adalah mengayomi semua makhluk yang ada di muka bumi ini, minimal di wilayah geografis dimana ia menjadi pemimpin. Apakah ia seorang kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, ketua rukun tetangga (RT), ketua rukun warga (RW), kepala desa/Kelurahan, camat, walikota, bupati, gubernur sampai presiden, bahkan khalifah sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *