Kepemimpinan Orang Kafir Tidak Dibenarkan

by
foto:http://smartmoslem.com

Sebagian kalangan masih saja ada yang membenarkan kepemimpinan orang-orang non-Muslim (kafir) di tengah masyarakat Muslim. Apalagi, menjelang Pilkada dan Pilpres wacana-wacana tersebut kembali digulirkan, di antaranya ada yang berdalil atau menyandarkan argumentasinya dengan perbuatan generasi awal sahabat yang pernah berlindung ke raja Habasyah An-Najasyi yang beragama Nasrani, sebelum An-Najasyi memilih memeluk Islam.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Ada pula yang menyatakan bahwa Rasulullah sendiri berdakwah di bawah perlindungan orang musyrik, yakni paman beliau Abu Thalib. Benarkah demikian? Beberapa poin berikut dapat membantu memahami permasalahan ini dari beberapa sisi.

a) Abu Thalib murni sebagai perisai dakwah pribadi Rasulullah, bukan pemimpin dalam artian awliya yang mengatur urusan umat. Itupun karena adat dan kultur Jahiliyah yang memandang melindungi keluarga adalah hal yang mutlak, apalagi Abu Thalib punya tanggungjawab memimpin Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Dalam hal ini paman melindungi keponakannya. Yang sesungguhnya terjadi malah Rasulullah SAW memanfaatkan adat dan kultur untuk kepentingan dakwah Islam.

b) Di antara ayat yang sangat terkenal tegas melarang pemimpin selain orang Muslim adalah QS Al-Maidah pasca perang Badar, tepatnya dalam rangkaian peristiwa pengepungan Yahudi Bani Qainuqa pertengahan bulan Syawal 2 H. Diturunkan di fase Madinah seperti umumnya syariat tentang siyasah dan hukum kenegaraan lainnya. Dua kisah di atas (Abu Thalib dan Raja Habasyah An-Najasyi) adalah di fase Makkah. Tentu syariat yang turun belakangan telah lebih lengkap sehingga dari hal ini pun dapat dipahami kalau hukum-hukum politik dan pemerintahan Islam memang baru turun di fase Madinah.

c) Berdalil dengan Ashamah An-Najasyi tidak benar, selain karena peristiwa ini terjadi sekitar 10 tahun sebelum turunnya QS 5:51 dan ayat-ayat lainnya yang menegaskan haramnya kepemimpinan serta penyerahan urusan umat terhadap kaum kafir, yang karenanya belum ada hukum yang mengatur tentang hal ini, Rasulullah juga hanya bermaksud mencari tempat yang aman untuk sebagian Muslim Muhajirin. Selain melihat kemungkinan Habasyah dijadikan basis dakwah. Tujuannya agar sebagian Muslim bisa menjalankan agamanya dengan aman yang sebelumnya ditindas kaumnya sendiri, untuk selanjutnya mensyiarkan Islam di negeri Kristen tersebut. Belum lagi, Raja An-Najasyi pun masuk Islam tak lama setelah Muhajirin gelombang kedua tiba.

Maka baik argumentasi Abu Thalib maupun An-Najasyi tertolak. Sepenuhnya tidak bisa dibenarkan. Selain keliru memahami konteks peristiwanya, mereka yang setia mendukung non-Muslim dalam kepemimpinan juga salah dalam memahami keterkaitannya dengan turunnya syariat yang berangsur-angsur. Jelas, dua peristiwa yang dijadikan argumentasi mereka jauh sebelum turunnya hukum-hukum siyasah dan kenegaraan pasca hijrah ke Madinah. Wallahu’alam

Ilham Martasya’bana, penggiat sejarah Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *