Istiqamah Berjuang Tegakkan Islam Kaffah

by
foto:istimewa

Oleh: dr. Ferryal Basbeth, SpF

Dari sekian banyak aktivitas yang dilakukan seorang Muslim, ada satu aktivitas yang paling penting dan mulia, yaitu mengemban dakwah Islam. Dakwah bukan profesi, bukan aktivitas selingan, melainkan tugas dari Allah SWT.

Wartapilihan.com, Jakarta –Seorang Muslim adalah pengemban dakwah bagi yang lainnya, lisan dan perbuatannya menjadi cermin bagi gambaran wujud pelaksanaan syariah Islam. Dakwah adalah tugas seluruh Muslim, termasuk para Nabi terdahulu. Allah SWT telah menugaskan mereka dalam surah Al-A’raf ayat 157, yang artinya : “… Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”

Dakwah pada Islam, realisasinya adalah menyampaikan dan menerapkan risalah dari Allah SWT yang dibawa Rasulullah SAW, yaitu apa yang termaktub dalam Al-Qur’an, kitab hadits dan hukum-hukum yang digali dari keduanya dengan cara ijtihad dan qiyas.

Intinya, Islam itu terdiri dari konsep solutif (fikrah) dan tata cara pelaksanaan (thariqah). Konsep solutif terdiri dari hukum-hukum yang menjelaskan Akidah dan Ibadah, mu’amalah (ekonomi, politik pemerintahan, pergaulan sosial, pendidikan, dan lain-lain), akhlak, pakaian, makanan, minuman. Sementara hukum terkait tata cara atau metode pelaksanaan adalah hukum sanksi, hukum dakwah, jihad dan khilafah. Hukum Thariqah ini disyariahkan agar hukum-hukum solutif terlaksana, terjaga keberlangsunganya, kemudian didakwahkan ke seluruh penduduk bumi, karena Islam adalah diin rahmatan lil ‘alamiin.

Karena itu, dakwah pada Islam bukan hanya mengajarkan shalat, membaca Al-Qur’an, akhlak, menutur aurat, anjuran sedekah, pergaulan Islami, ekonomi syariah, atau mencegah dari perbuatan buruk semata, tetapi mengajarkan seluruh hukum-hukumnya baik yang terkategori pemikiran solutif maupun metode praktis pelaksanaannya. Sebab Allah SWT telah mewajibkan kita untuk mengamalkan Islam secara sempurna. Seperti firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 208 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan……”

Kita lihat bahwa Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah tidak hanya sebagai nabi pembawa risalah, tetapi sekaligus menjadi hakim (penguasa). Rasulullah SAW tidak hanya menjelaskan bahwa hanya Allah, Tuhan yang wajib disembah, tetapi merealisasikanya. Rasulullah bersama para sahabat mendirikan daulah Islam di Madinah, sehingga terbentuk institusi yang berdiri atas dasar iman, untuk menerapkan Islam dan memberi sanksi pada setiap orang yang menyimpang dari akidah dan aturannya. Beliau juga melakukan penyebaran Islam dengan dakwah dan jihad. Karena itu hukum tentang daulah Islam (Khilafah) dan cara mewujudkannya, hukum sanksi, hukum jihad dan amar ma’ruh nahi munkar, seluruhnya adalah hukum syara’ praktis untuk menjaga akidah dan aturan Islam, menyebarkan dan mendakwahkannya.

Saat Islam mewajibkan seorang Muslim untuk shalat, Islam juga menjelaskan sanksi bagi mereka yang tidak shalat. Tak hanya itu, Islam telah menentukan siapa entitas yang akan mengeksekusi sanksi tersebut. Dalam pembahasan sistem sanksi ada yang dinamakan ta’zir, yaitu sanksi yang hak penetapannya diberikan kepada khalifah. Meninggalkan kewajiban shalat terkategori pelanggaran yang sanksinya diserahkan kepada khalifah, sehingga orang yang tidak shalat akan diberi sanksi. Begitu juga ketika zina diharamkan (Al-Isra:32), maka Islam menetapkan hukum yang dapat mencegah interaksi yang dilarang ini dengan praktik penerapan sanksi hudud, berupa cambuk seratus kali atau rajam (An-Nuur:2).

Dari sedikit gambaran di atas, jelas bahwa Islam telah menetapkan hukum-hukum yang menjamin semua hukum syara’ terlaksana. Untuk hukum individu semisal shalat saja, agar setiap Muslim shalat, Islam menetepkan sanksi bagi yang lalai dan menetapkan negara sebagai eksekutornya. Terlebih lagi untuk merealisasikan hukum yang mengatur interaksi di masyarakat agar tegak dan terlaksana secara benar, tentunya Islam telah menetapkan secara rinci. Dan dari penelaahan hukum syara’ obyek taklif (penguasaan) hukum ada untuk individu, kelompok dan pemimpin (hukkam).

Maka, kebutuhan adanya negara Islam bisa mudah dimengerti, untuk membebaskan umat Islam dari kedzaliman orang lain, yang Allah perintahkan dalam Qur’an dan hadis, tidak bisa dituntaskan oleh individu-individu maupun kelompok. Fakta umat Islam di Palestina, Muslim Uighur-Cina, Muslim Moro-Filipina, Muslim Rohingya-Myanmar, adalah contoh nyata dari perlunya pemimpin negara Muslim yang menetapkan adanya jihad pembebasan umat Islam dari penguasa kafir penjajah.

Masih banyak fakta lain yang menunjukkan bahwa solusi masalah umat hari ini adalah penerapan hukum-hukum syara secara menyeluruh baik hukum-hukum pemikiran solutif maupun hukum-hukum metoda pelaksanaannya, yang diterapkan oleh negara Islam (Khilafah). Inilah gambaran politik dalam Islam, yaitu penerapan syariah islam untuk mengatur urusan umat baik di dalam negeri maupun luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah, dan umat Islam diwajibkan untuk mengoreksi mereka ketika menyimpang dari syariah. Karena itu dakwah Islam kaffah sejatinya adalah dakwah politik.

Oleh karena itu, geliat kesadaran umat Islam untuk mewujudkan Islam politik atau dengan kata lain kembalinya khilafah, adalah hal yang menakutkan dan lonceng kematian Barat. Islamophobia menjadikan mereka ‘gila’, bertingkah polah seperti pemabuk, hilang kewarasan. Maka, setiap wujud pelaksanaan syariah Islam, meski dilakukan individu semisal perempuan berkerudung, muncul kebencian dan tindakan anarkis seperti yang terjadi di Eropa. Lebih-lebih lagi terhadap kesadaran politik Islam, mereka kerahkan harta yang sangat banyak untuk mencegahnya. Berbagai langkah mereka lakukan untuk menghalangi kembalinya syariah Islam diterapkan. Bekerja sama dengan penguasa negeri Muslim mereka melawan Islam.

Di Indonesia semakin terasa kriminalisasi Islam dan para pengemban dakwah pasca aksi bela Islam. Beberapa peristiwa terjadi, dari dicabutnya SK-BHP ormas Islam berdasarkan pada perppu no 2/2017 yang disahkan menjadi UU No 16/2017, pemenjaraan tokoh umat, hingga disahkannya revisi uu anti terorisme beberapa hari lalu setelah peristiwa bom Surabaya, dan semakin mencuatnya kriminalisasi terhadap khilafah dan persekusi terhadap pendukungnya.

Karena itu, program deradikalisasi (yang sejatinya adalah deislamisasi) menjadi aktivitas prioritas. Program ini karena berbiaya mahal, direktur CBA (Center for Budge Analysis) mengungkapkan bahwa BNPT dapat kucuran dana 505,5 Miliar untuk tahun 2018, untuk program deradikalisasi dan penindakkan teroris. Ini untuk suatu Negara, untuk satu tahun, sementara ‘proyek’ ini telah berlangsung lama (setidaknya paska peristiwa 11/09/01), dan dibanyak negeri muslim. Namun menurut direktur The Community of Ideological Analysis (CIIA), proyek ini membuang-buang uang ratusan miliar hanya untuk mengkristalkan sebuah paradigm tendensius ideologi dan Islam radikal adalah akar terorisme di Indonesia.

Yang sangat miris adalah, justru para penolak khilafah sebagai bagian dari syariah Islam adalah kaum Muslim juga. Khilafah diadili dipengadilan manusia, hukum Allah telah dipersidangkan dengan standar akal manusia yang lemah dan terbatas. Barat telah sukses memecah belah umat, membuat konflik antara pendukung syariah islam dengan muslim lainnya.

Ada suatu hal yang harus menjadi kesadaran semua bahwa upaya penghadangan Islam politik tidak melulu dengan cara kekerasan. Yang paling halus serangannya adalah melalui pemikiran. Mereka menghadirkan Islam baru di benak umat, yakni Islam yang ramah, tidak radikal, menghormati dan menghargai umat lain, mengakui kebebasan berpendapat dan berperilaku, tidak menuntut penerapan sanksi hukum Islam yang dipandang keras. Seiring dengan fitnah tehadap hukum-hukum Allah dengan kriminalisasi syariah, diaruskan wajah Islam moderat sebagai pencegah terorisme. Ulama dan cendikiawan Muslim pun dilibatkan untuk membuat ajaran moderai ini, lisan mereka dijadikan senjata untuk memuntahkan peluru-peluru berupa ide sekuler dan liberalisasi. Lisan mereka menjadi alat propaganda pandangan kafir barat.

Terhadap ancaman, gangguan dan hambatan dalam mendakwahkan Islam politik ini, Allah SWT telah menjelaskan bagaimana kita harus bersikat. Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama shalih, para pejuang pendahulu kita telah mengaplikasikannya. Kepada merekalah kita semua merujuk. Tiada lain kita wajib tawakal pada Allah, sabar, istiqamah, tsabit (kokoh) dan berani.

Awal dan akhir urusan dakwah kita dalam membela dan memperjuangkan Islam, telah kita pasrahkan pada Allah SWT. Fitnah dan cacian terhadap kita tidak mengendorkan dakwah. Kriminalisasi syariah Islam harus mendorong kita lebih aktif menjelaskan syariah Islam yang benar. Intimidasi terhadap pejuang membuat kita semakin menguatkan azam untuk mengorbankan jiwa dan raga di jalan dakwah. Cukup Allah menjadi pelindung dan penolong.

Tujuan kita hanya satu, meninggikan Islam setelah musuh-musuh Allah menghinakannya. Menjaga umat Islam dari penyesatan berpikir yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Mengembalikan predikat umat Islam sebagai umat terbaik.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *