Ismail dan Ishaq di Hari Raya Idul Adha

by
Inayatullah Hasyim. Foto: Dok. Pribadi

Oleh Inayatullah Hasyim, Dosen Fakultas Hukum Universitas Djuanda Bogor.

Selamat hari raya Idul Adha 1439 Hijriyah. Salah satu kisah paling populer dari perayaan Idul Adha adalah keteladanan Nabi Ibrahim saat menjalankan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Dalam al-Qur’an surah As-Shoffaat ayat 101 s/d 111, Allah SWT berfirman: *

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Wartapilihan.com, Jakarta –-Inti ayat-ayat tersebut menceritakan tentang kelahiran seorang anak, saat anak itu beranjak remaja dan mimpi Nabi Ibrahim menyembelihnya. Saat Ibrahim dan puteranya sudah sepenuhnya tunduk pada perintah Allah dan hendak melakukan penyembelihan, Allah mengganti anaknya dengan seekor domba yang besar. Ayat itu sekaligus menjadi dalil tentang di-syariatkannya ber-qurban.

Hal menarik dari ayat-ayat itu, antara lain, Allah SWT tidak secara eksplisit menyebut nama anak Ibrahim yang hendak disembelih. Secara umum, kita berkeyakinan bahwa anak yang hendak disembelih itu adalah Ismail. Keyakinan itu berangkat dari buku tafsir al-Qur’an yang menyebutkan anak itu adalah Ismail.

Imam Ibn Katsir (w 1373 M), bahkan menafikan kisah itu berhubungan dengan Ishaq. Menurutnya, anak itu adalah Ismail. Argumentasi Ibn Katsir, antara lain:

1). Bahwa ada rasa kedengkian di kalangan Yahudi dan Nasrani untuk mengakui Ismail sebab Ismail adalah “bapak bangsa Arab”. Sehingga mereka berupaya membangun opini bahwa anak itu adalah Ishaq.

2). Bahwa, redaksi pada ayat ke-101 menunjukan anak itu adalah Ismail, dan setelah Allah menceritakan pengorbanan Ibrahim atas Ismail (ayat 102 sd 111), barulah pada ayat ke 112, Allah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Ishaq. Allah SWT berfirman,

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

3). Bahwa, baik kalangan Islam, Kristen ataupun Yahudi sepakat bahwa Ismail adalah anak pertama Ibrahim, barulah kemudian lahir Ishaq. Sehingga, urutan ayat-ayat itu sesuai sekali dengan konteksnya. Artinya, setelah Ibrahim diuji untuk menyembelih Ismail, barulah dia diberi kabar gembira bahwa akan lahir anak keduanya, Ishaq (alaihi salam).

Sebenarnya, keyakinan tentang Ismail yang hendak disembelih itu tidak bersifat mutlak. Sebab, bila kita membaca buku-buku tafsir klasik lainnya seperti tafsir karya Imam At-Thabari (w 923 M), Ar-Razi (w 1209 M),  dan Al-Qurtubi (w 1273 M), disebutkan perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi. Menurut Imam At-Thabari, para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Mutholib, Ikrimah, Qatadah dan Abu Hurairah berpendapat bahwa anak yang hendak disembelih itu adalah Ishaq.

Lalu mengapa pemahaman bahwa anak yang hendak disembelih itu adalah Ismail lebih massif dari pada bahwa dia adalah Ishaq, padahal kitab-kitab tafsir klasik juga menyebut Ishaq?

Pertama: Sebab, telah terjadi pembangunan difrensiasi teologi antara Islam dan Ahlul Kitab (terutama Kristen) tentang pewaris Ibrahim yang sah melanjutkan risalah. Difrensiasi itu terlihat jelas pada tafsir Ibn Katsir yang menafikan Ishaq, padahal kitab-kitab tafsir lain yang lebih tua seperti At-Tabbari dan Ar-Rhazi tidak menafikan pendapat tentang Ishaq. Mereka menceritakannya sebagai bukti keragaman pemahaman.

Kedua: Sebab, ada hadits Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Nabi pernah berkata, انا ابن ذبيحين (aku anak keturunan dari dua orang yang hendak disembelih). Maksudnya, ayah beliau (Abdullah) yang hendak disembelih oleh kakeknya (Abdul Mutholib) yang bernazar saat sumur zamzam tak kunjung banyak mengeluarkan air. Saat sumur zamzam kemudian mengalir deras, Abdul Mutholib membayar nazarnya dengan menyembelih seratus ekor unta. Dan, maksud sembelihan yang kedua adalah Ismail (alaihi salam). Sayangnya, kualifikasi hadits ini, diperdebatkam oleh para ahli hadits termasuk Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani. Al-Hakim melihatnya sebagai hadits “Hasan li-ghairihi”. Artinya, semula hadits lemah hanya karena banyak riwayatnya, dia menjadi “baik karena dukungan”. Ada juga yang menyebutnya sebagai hadits gharib.

Ketiga: Sebab, pemahaman tentang Ishaq itu seakan mengkonfirmasi keyakinan Kristen. Dalam kitab Kejadian 22 : 2 disebutkan, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Artinya, kitab suci Kristen secara eksplisit menyebut nama anak Ibrahim yang hendak disembelih yaitu Ishaq. Hanya saja, tradisi penyembelihan hewan qurban tidak berlanjut ke kalangan Kristen. Memang di Palestina ada kota yang bernama Betlehem  atau بيت لحم (rumah daging), tetapi tak ada ritual penyembelihan hewan kurban dalam agama Kristen.

Tampaknya, ketika ayat al-Qur’an diturunkan, pemahaman tentang Ismail atau Ishaq bukan hal yang perlu dipertentangkan secara konfrontatif. Toh, kedua-duanya anak Ibrahim dan para Nabi pula. Maka, ada sahabat yang berpendapat Ismail, ada pula yang berpendapat Ishaq. Pemahaman seperti itu nampaknya populer di kalangan masyarakat Arab waktu itu.

Lalu, kesimpulannya mana yang benar nih? Ismail atau Ishaq? Dalam hal ini, saya ikut jawaban Allahuyarham K.H. Abdurrahman Wahid saja. Konon, saat ditanya seseorang, “Gus, yang benar siapa sih yang mau disembelih? Ismail atau Ishaq?” Jawab Gus Dur, “sudahlah, ndak usah diributkan, keduanya ndak jadi disembelih”. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *